It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Akhir Sebuah Kebohongan


__ADS_3

"Teman Aksa dari fakultas sastra juga?"


Sebenarnya Nada bingung dengan pertanyaan Ayah Aksara ini. Nada menggelengkan kepalanya. "Bukan Om, dari fakultas musik."


"Oo, gak sama kayak Aksa?"


"Sama, Om."


"Maksud kamu?" Pak Rendra juga dibuat bingung dengan jawaban Nada.


"Iya, kita sama-sama dari fakultas musik." Nada sebenarnya ragu menjawabnya. Dia merasa ada yang tidak beres di sini.


Seketika wajah Pak Rendra berubah. Dia terlihat sangat marah. "Dimana Aksa?" tanyanya dengan amarah yang sudah siap meledak.


"Hmm, masih sholat." Nada menjadi takut sendiri. Apa dia sudah melakukan kesalahan? Harusnya dia tidak menjawab pertanyaan Pak Rendra barusan tapi semua sudah terjadi. Dia sendiri juga tidak tahu pokok permasalahannya.


Pak Rendra duduk. Dia tidak bertanya apa-apa lagi pada Nada. Dia ingin meminta penjelasan dari putranya sendiri.


Beberapa saat kemudian Aksara keluar dari kamarnya. Pandangannya langsung tertuju pada Ayahnya yang sedang mengeraskan rahangnya. Lalu beralih pada Nada yang sedang menundukkan pandangannya. Dia mengira Ayahnya telah memarahi Nada karena hubungannya atau sejenisnya. "Ayah, ini Nada. Kita itu cuma..."


"Ini bukan soal dia! Tapi soal kamu!"


Aksara membulatkan matanya. Apa yang menyebabkan Ayahnya marah seperti ini?


"Jawab dengan jujur!"


Aksara menelan salivanya sendiri saat tenggorokannya terasa mulai mengering karena suara keras Ayahnya.


"Benar kamu masuk fakultas musik?!"


Bagai petir di siang bolong. Hal yang seharusnya dikatakan Aksara secara jujur sejak awal, tapi malah dia tutupi sampai dia masuk semester 4 sekarang ini. Bayangkan, hampir 2 tahun dia telah membohongi Ayahnya sendiri. Salah! Iya dia memang salah walaupun tujuannya baik.

__ADS_1


"I-iya, Yah. Maaf, Aksa bohong sama Ayah." jawab Aksara dengan suara yang bergetar. Ayahnya memang sangat sabar, tapi jika sudah marah sangat menakutkan bagai seekor singa yang terbangun dari tidurnya.


Pak Rendra kini berdiri. Mendekati putranya yang terus menunduk karena merasa bersalah. "Sudah hampir 2 tahun kamu kuliah, dan kamu bohong sama Ayah!!"


"Iya, Aksa tahu. Aksa salah. Aksa mau jujur tapi takut sama Ayah."


"Lalu, apa kamu memikirkan bagaimana perasaan Ayah setelah tahu kamu bohong! Bahkan Ayah tahu hal ini dari orang lain. Andai saja Ayah tidak tanya, apa kamu akan selamanya bohong sama Ayah!"


Nada menjadi sangat bersalah. Hanya karena jawaban yang terlontar dari mulutnya yang tidak sengaja itu menyebabkan seorang Ayah bertengkar dengan putranya.


Aksara hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa tujuan kamu sebenarnya?"


"Aksa, cuma mau meraih cita-cita Aksa!"


"Cita-cita apa!! Cita-cita yang hanya omong kosong itu! Berkali Ayah bilang, kamu harus tahu diri! Orang rendahan seperti kita, gak akan bisa jadi pianis hebat!!"


Perkataan Ayahnya berhasil meluluh lantah hatinya. Apa dia harus tetap berjuang sendiri atau menyerah karena do'a-do'a tidak baik dari Ayahnya.


"Aksa akan buktikan sama Ayah bahwa Aksa bisa meraih cita-cita itu." Aksara kini menatap Ayahnya dengan mata merahnya. Tekadnya sudah bulat, semangatnya tidak akan luntur.


"Kamu masih mau melawan Ayah!! Ayah mau kamu pindah fakultas dan berhenti bermimpi untuk menjadi pianis!"


Aksara menelan rasa pahit yang tiba-tiba memenuhi rongga mulutnya. "Mengapa Ayah tidak pernah menghargai usaha Aksa selama ini? Aksa udah mati-matian mengejar beasiswa bahkan Aksa tidak pernah meminta apapun sama Ayah. Keinginan Aksa cuma ini gak ada yang lain! Selama Ayah tidak memberi alasan yang logis pada Aksa. Aksa akan tetap mengejar mimpi Aksa!"


"Ya sudah kalau kamu merasa tidak butuh lagi sama Ayah dan ingin tetap mengejar impian kamu itu, pergi kamu dari rumah ini!"


Aksara menatap Ayahnya dengan tatapan nanar. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut orang yang sangat dia sayangi itu. Hatinya seketika hancur. Ayah mengusirnya, benarkah itu? Ini bukan masalah besar menurutnya, mengapa bisa sampai sefatal ini.


Aksara tak menimpali lagi perkataan Ayahnya. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel, jaket dan kunci motornya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Aksara keluar dari rumah yang tak lupa menggandeng tangan Nada agar mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Ayah apa yang Ayah bilang sama Aksa." Bu Diana yang baru saja selesai melayani pembeli langsung keluar. Dia ingin menahan langkah Aksara. "Aksa, jangan dengar omongan Ayah kamu ya. Kita bicarakan lagi baik-baik."


Aksara hanya terdiam sambil menuntun motornya yang diikuti oleh Nada.


"Aksa!!" panggilan Ibunya sudah tidak Aksara indahkan. Hatinya terasa sangat sakit, bahkan lebih sakit daripada patah hati.


"Ayah!" Bu Diana masuk dan langsung menatap suaminya yang duduk sambil terus beristighfar. "Tega Ayah usir Aksa. Kalau Aksa benar gak pulang gimana?" Sebagai seorang ibu tentu Bu Diana sangat khawatir dengan putranya.


"Ibu sudah tahu kalau selama ini Aksa bohong sama Ayah?"


"Iya, Ibu sudah tahu."


Pak Rendra hanya menghela napas panjang.


"Ibu sudah suruh Aksa untuk jujur tapi Aksa takut sama Ayah. Aksa itu anak yang sangat baik. Sekarang saja dia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri bahkan sering bantu keuangan kita. Tolong hargai usaha anak kita! Jangan hanya karena masa lalu Ayah, Aksa jadi korban!" Air mata itu telah lolos dari mata seorang ibu yang berumur hampir setengah abad itu. Dia tidak habis pikir, mengapa suaminya masih saja mengingat masa lalunya itu. Hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan Aksara saat ini. "Ayah harusnya bisa mengerti mengapa Aksa sangat suka bermain piano, itu karena nurun dari Ayahnya."


Bu Diana menghela napas panjang. "Pokoknya kalau Aksa sampai gak pulang, Ayah harus tanggung jawab." kemudian Bu Diana masuk ke dalam dapur melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dan ingin meredam emosinya.


Pak Rendra mengusap wajahnya. Dia juga tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba kalimat usiran itu keluar dari mulutnya. Kini dia menyesal.


Beberapa kali kalimat istighfar terucap pelan dari bibirnya untuk menenangkan amarah yang baru saja memuncak.


Aksa, maafin Ayah, Nak. Ibu kamu benar, Ayah yang salah sudah mengorbankan kamu hanya karena masa lalu Ayah yang kelam. Sejatinya Ayah cuma tidak mau kamu merasakan kecewa seperti Ayah. Merasa dicurangi dan disisihkan secara sengaja hanya karena Ayah tidak punya apa-apa.


Pak Rendra menyusut ujung matanya agar air mata itu mengering sebelum menetes.


.


.


💞💞💞

__ADS_1


🤧


Jangan lupa like dan komen ya...


__ADS_2