It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Nada Azalea


__ADS_3

Pagi itu, Nada menghentikan motornya di tempat parkir kampus. Setelah turun dari motor dan melepas helmnya, dia melangkahkan kakinya pergi. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat dia berpapasan dengan Aksara. Mereka hanya saling menatap tanpa bicara apapun.


Apa kini sikap Aksara telah berubah dengan Nada? Atau Aksara benar-benar akan menjauhi Nada?


Nada menghitung sampai tiga kali tapi ternyata Aksara justru membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Nada.


"Aksa!" Nada mengikuti langkah Aksara meski tanpa sahutan lagi darinya. "Aksa, gue mau ngomong sama lo."


Aksara hanya terdiam. Dia terus melangkahkan kakinya jenjang. Bukan kelas yang dia tuju melainkan lab. komputer. Kebetulan pagi itu ruangan lab. komputer masih kosong.


Meskipun Aksara tak menganggap keberadaannya, tapi Nada tetap mengikuti langkahnya. Bahkan saat Aksara tengah duduk dan menghidupkan komputer yang berada di paling pojok, Nada ikut duduk di sebelahnya. Dia tidak peduli dengan keterdiaman Aksara. Menurutnya, dia tidak ada salah apa-apa jadi buat apa dia menghindar dan satu lagi, tidak ada kalimat pengusiran dari Aksara saat itu.


Nada terus memperhatikan apa yang akan dilihat Aksara.


Aksara membuka mesin pencarian google. Dia ingin menguak artikel tentang Ayahnya. Rendra Aryanto di tahun 1995. Banyak artikel yang muncul. Semua membahas tentang prestasi Rendra sebagai pianis. Ada sebuah artikel yang membuat dada Aksara kembali bergemuruh.


Rendra Aryanto mengundurkan diri dari perwakilan Indonesia, siapa yang akan menggantikannya?


Aksara membuka artikel itu. Membaca seluruh isinya. Dalam artikel itu tertulis jelas bahwa Ayahnya lah yang dengan sengaja mengundurkan diri. Tidak ada hal lain. Sama sekali tidak menyinggung biaya akomodasi dan lain-lain.


Teguh Wiranto, resmi menjadi perwakilan Indonesia di grammy award.


Teguh Wiranto berhasil meraih juara dua di grammy award.


Aksara memijit pangkal hidungnya saat membaca artikel itu. Dia kini memejamkan matanya beberapa saat.


Nada hanya bisa menatap nanar Aksara. Dia tahu, pasti Aksara sangat kecewa dengan kenyataan ini.


"Aksa, semua gak kayak apa yang ada dipikiran lo. Iya, gue tahu Papa gue salah. Tapi Papa ngelakuin itu karena terpaksa. Karena Papa terus dipaksa oleh kakek waktu itu. Maafin mereka ya."


Terdengar Aksara hanya menghela napas panjang. Dia kini menurunkan tangannya lalu kembali menatap layar komputer. Menekan tombol exit lalu mematikan kembali layar komputer itu.

__ADS_1


"Bukan lo yang harusnya minta maaf sama gue. Gue cuma lagi bingung aja, gue merasa serba salah. Dalam hidup gue, keadaan terus aja mengungkit masa lalu Ayah. Gak cuma soal impian gue tapi juga soal lo. Entah kenapa bisa terjadi kebetulan seperti ini." Aksara mengusap wajahnya. Dia berusaha menghilangkan kekacauan di hatinya. Ingin dia menjauhi Nada tapi rasanya itu berat.


"Biar Papa gue yang minta maaf sama Ayah lo."


Perkataan Nada berhasil membuat Aksara kini menoleh dan menatapnya.


"Lalu, apa dengan minta maaf masalah akan selesai?"


"Gue juga gak tahu. Yang jelas, Papa ingin ketemu sama Ayah lo dan minta maaf secara langsung."


Aksara hanya terdiam.


"Aksa, lo marah sama gue?"


Aksara menggelengkan kepalanya. "Gue cuma marah sama keadaan."


"Kalau gue melakukan kesalahan sama lo, apa lo akan maafin gue."


"Emang lo salah apa sama gue?"


Bibir Nada bergetar, ingin dia mengungkap semua rahasianya tapi lagi-lagi nyalinya menciut.


"Na?" tanya Aksara karena dia melihat Nada hanya diam dalam kebingungannya.


Sedetik kemudian Nada melepas kacamatanya dan ikat rambutnya. "Gue mau jujur sama lo. Kalau gue itu sebenarnya adalah Nada Azalea."


Seketika Aksara berdiri. "Lo bercanda kan?"


"Gue serius." Nada kini ikut berdiri.


Aksara memperhatikan dengan intens wajah itu. Iya benar, dia Nada Azalea. Seketika Aksara membalikkan tubuhnya dan akan melangkahkan kakinya pergi.

__ADS_1


"Aksa, gue gak bermaksud bohongi lo. Awalnya gue menyamar jadi Nada Pratiwi memang untuk mendekati Pak Reno. Tapi semakin ke sini gue dekat sama lo terus buat apa lagi gue menyamar."


Aksara hanya terdiam.


"Maafin gue, please."


"Gak nyangka, lo orang yang sangat gue kagumi, Na. Sekarang gue benar-benar merasa gak pantas dekat sama lo." Bukannya Aksara marah atau apa? Tapi setelah tahu kenyataannya, Aksara justru merasa semakin kerdil. Dia dan Nada, jelas jauh perbedaannya.


"Gak pantas gimana?" Dengan gerak cepat Nada memeluk Aksara dari belakang.


Tangan yang melingkar di perutnya dan kehangatan di punggungnya membuat Aksara membatu. Dia sama sekali tak bergerak.


"Gue sayang sama lo," ucap Nada di dekat telinga Aksara.


"Sayang? Mana mungkin. Lo pasti bohong kan? Kita saling bertengkar, mana mungkin lo sayang sama gue. Lo dan gue itu beda, Na. Lo itu udah superstar sedangkan gue masih newbie."


Tangan Nada berangsur mengendor, dia kini mundur beberapa langkah. "Oke. Gak papa kalau lo gak percaya sama gue." Nada melangkahkan kakinya. Dia kini melewati Aksara yang masih berdiri mematung. "Satu pesan gue. Lo harus tetap raih impian lo apapun yang terjadi. Karena gue yakin, lo bisa ngalahin gue. Lo pasti bisa jadi superstar selanjutnya untuk melanjutkan impian Ayah lo."


Aksara terus menatap langkah kaki Nada yang kian menjauh. Sayang? Jauh di dalam lubuk hatinya dia juga teramat sayang sama Nada. Bahkan cinta.


Seketika Aksara menarik tangan Nada, dia membalikkan tubuh itu lalu menangkup kedua pipi Nada. "Asal lo tahu Na, gue gak cuma sayang sama lo tapi gue juga cinta sama lo. Gue gak pernah merasakan ini sebelumnya. Gue ingin serius sama lo, tapi keadaan benar-benar berantakan seperti ini. Gue..." Aksara menghela napas panjang.


"Lo gak perlu mikirin masa lalu. Kita berada di masa sekarang dan harus melanjutkan ke masa depan."


Aksara semakin menatap dalam Nada. Wajah cantik itu benar-benar milik Nada Azalea. Dia tidak pernah menyangka bisa mencintai seseorang yang sangat dia kagumi. Bahkan dia bisa sedekat ini sekarang.


Seperti ada magnet tersendiri, kedua wajah itu saling mendekat. Semakin dekat, dekat, hingga kedua bibir itu saling menyatu. Apakah mereka lupa, mereka sedang dimana?


Bibir itu mulai bertaut. Aksara mulai berani menyapu bibir Nada dengan indera pengecapnya. Tidak seperti sebelumnya, Nada kini mulai menerima perlakuan Aksara. Permainan lembut Aksara membuat Nada yang masih amatir terhanyut dalam buaian. Saling berbalas yang semakin memacu adrenalin Aksara.


Bukannya melepas tapi Aksara semakin memagutnya dalam, menyesapnya dan memberi gigitan-gigitan kecil yang membuat darah Nada terasa mengalir semakin deras. Dia sudah dibawa melambung tinggi oleh Aksara.

__ADS_1


"Iya, terus, isep terus sampai kebakaran."


Suara itu membuat pagutan mereka terlepas seketika.....


__ADS_2