
"Iya, terus, isep terus sampai kebakaran."
Suara itu membuat pagutan mereka terlepas seketika.
Nada menutup bibirnya sambil memalingkan wajahnya. Mengapa dia bisa terlena, terpesona dan mabuk kepayang seperti ini? Harusnya dia bisa jual mahal seperti biasanya tidak malah membalas seperti itu. Ah, merasa berdosa sekali.
"Radit, ngapain sih lo! Ganggu gue aja!" Aksara berdengus kesal. Sahabatnya yang satu itu memang sudah beberapa kali pernah memergokinya sedang berciuman.
"Gue cariin lo sampai muter-muter kampus, sampai tanya sama anak-anak, gak tahunya malah asyik ***** an di sini. Tuh lo dicariin sama Pak Reno."
"Pak Reno? Ngapain?"
"Mana gue tahu."
Aksara kini menggandeng tangan Nada. "Ikut gue yuk!" Mereka berjalan berdampingan meninggalkan Radit.
"Dasar! Si player gak tobat-tobat sama perbuatannya. Pacaran bentar langsung main templok aja." Radit menggelengkan kepalanya lalu dia keluar dari lab. komputer.
"Aksa, gue malu diliat Radit barusan," kata Nada sambil terus mengikuti langkah Aksara menuju ruang dosen.
"Malu kenapa? Radit udah biasa lihat gue kayak gitu."
Mendengar pernyataan Aksara, seketika Nada menarik paksa tangannya. "Ah, iya gue lupa kalau bibir lo itu bekas dari banyak cewek."
"Eh, Na? Bukan gitu."
Nada melangkahkan kakinya jenjang meninggalkan Aksara.
"Haduh, salah ngomong gue. Baru juga baikan udah berantem lagi." Ingin dia mengikuti Nada tapi dia urungkan, lebih baik dia menemui Pak Reno terlebih dahulu sebelum menyelesaikan urusannya dengan Nada.
"Bisa-bisanya gue kemakan sama buaya." dumel Nada setelah membasuh bibirnya. Rasanya dia menyesal sudah terlena sedemikian rupa dengan responnya barusan.
Setelah itu dia keluar dari toilet lalu segera menuju kelas karena beberapa menit lagi kelas akan dimulai. Sampainya di kelas, dia duduk pada tempatnya.
Beberapa saat kemudian Aksara masuk dan langsung membungkukkan diri di dekat Nada yang sedang duduk. "Na, maaf. Maksud gue bukan kayak apa yang ada di pikiran lo."
"Gue yang lupa kalau lo itu buaya."
"Astaga, itu gue dulu. Sekarang nggak."
"Nggak? Gue gak percaya. Udah sana pergi, gue udah terlanjur sakit hati sama lo."
Aksara justru tertawa lalu dia sedikit mencubit pipi Nada. "Makasih ya, udah nunjukin kalau lo itu beneran cinta sama gue." lalu dia duduk di bangkunya yang berada di belakang Nada.
__ADS_1
Aksara masih terus mengulum senyumnya. Dia tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Nada, idolanya.
Kelas dimulai. Hari itu hanya ada pembahasan materi.
Pikiran Nada masih saja terfokus pada Aksara. Udah dipelet kali ya gue sama Aksa. Kenapa pikiran gue dipenuhi Aksa kayak gini.
Sampai kelas selesai, Nada masih saja berkutat dengan pemikirannya.
"Na?" panggil Aksara yang kini tengah berdiri di sampingnya saat dosen pembimbing telah keluar.
Terdengar tawa Radit di belakang Aksara. "Tadi habis main-main sekarang berantem."
"Gara-gara lo nih. Udah sana jangan ganggu gue aja." Terkadang sahabatnya itu memang tak punya akhlak. Seringkali mengganggu dirinya atau bahkan tak segan membuka kartu aibnya. Tapi itulah namanya sahabat, bukan.
"Na?"
Nada hanya terdiam sambil berdiri kemudian berlalu meninggalkan Aksara.
"Na, baru aja kita baikan masak udah marahan lagi gini." Dengan cepat Aksara menarik tangan Nada. Menggenggamnya erat lalu sedikit menarik paksa agar mengikuti kemauan Aksara.
"Mau kemana?" tanya Nada yang mulai panik karena Aksara semakin menariknya ke tempat yang tidak pernah ia singgahi meskipun masih berada di ruang lingkup kampus.
"Ke tempat yang gak ada gangguan. Gue mau jelasin sama lo. Gue gak mau lo marah hanya karena lo ingat terus sama masa lalu gue."
Aksara membuka sebuah pintu yang lumayan usang. Mengajak Nada masuk lalu menutupnya kembali. Sepertinya ruangan itu sudah tidak terpakai cukup lama. Terlihat banyaknya debu dimana-mana, ditambah ruangan itu berada di kampus paling belakang dekat gudang. Sangat horor itulah kesan pertama yang ditangkap Nada.
Aksara hanya menyunggingkan sebelah bibirnya. Dia ingin menggoda gadis yang sekarang justru menempel di lengannya.
"Lebih horor mana? Ruangan ini atau gue?"
Seketika Nada menatap Aksara dan sedikit menjauh dari tubuh tegap itu.
"Lo mau ngapain?"
"Gue gak mau ngapa-ngapain. Lo tenang, gue itu masih punya batasan." Aksara kini duduk di sebuah kursi. "Sini duduk. Gue gak akan makan lo."
Nada akhirnya duduk di sebelah Aksara. Meskipun sedikit was-was. Takut tergoda hal yang melenakan itu. "Udah berapa cewek yang lo ajak ke sini?"
Seketika Aksara menatap Nada. Dia tersenyum kecil. "Masih aja bahas masa lalu gue. Tapi gak papa sih, itu tandanya lo cemburu dengan masa lalu gue. Merasa bukan jadi yang pertama, ya itu wajar dan gue paham."
"Ih, siapa yang cemburu."
"Gak ada cewek yang gue ajak ke sini selain lo. Gue biasanya ke sini sendiri buat nyiptain nada, dan sekarang gue bawa Nada."
__ADS_1
"Aksa!" satu cubitan kecil mendarat di pinggang Aksara yang membuat Aksara justru semakin terkekeh.
"Gue tahu Na, lo bukan yang pertama buat gue. Tapi gue ingin lo jadi yang terakhir. Jadi please, jangan bahas lagi soal masa lalu gue yang buruk itu. Gue akan berubah."
Nada hanya terdiam, dia hanya bisa menangkap keseriusan Aksa dari tatapannya.
"Benar yang terakhir?"
Pertanyaan Nada membuat Aksara menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Gak ada yang perlu diragukan lagi karena gue benar-benar cinta sama lo. Gue akan berusaha dapatkan restu dari Ayah gue."
"Biar Papa bertemu sama Ayah lo. Gue yakin mereka hanya salah paham."
Aksara mengangguk. "Entah bagaimana cerita kita nanti, gue akan tetap bertahan buat lo. Lo mau gak bertahan buat gue dan menerima gue apa adanya?"
Kali ini Nada mengangguk yakin.
"Meskipun gue gak punya apa-apa? Apa lo masih mau hidup sama gue suatu saat nanti?"
Nada mengangguk. "Setidaknya lo masih punya cinta."
Memang cinta bisa dimakan kah? Definisi yang salah.
Seketika Aksara tertawa. "Aduh, gue jadi melted. Belajar dari mana lo ngegombal gitu."
"Elo." jawab Nada. "Pokoknya semua yang ngajarin itu lo. Lo tau gak sih, lo itu yang pertama buat gue."
"Pak Reno?"
"Skip skip next."
Aksara kini merengkuh tubuh Nada. "Beruntungnya gue. Tapi maaf ya, ajaran gue mungkin sesat. Gak kayak lo yang udah ngajarin gue banyak ilmu sebelum lomba kemarin."
"Gak papa, sekali-kali gue belajar ilmu sesat. Soalnya gue udah tersesat di hati lo."
Lagi-lagi Aksara dibuatnya tertawa. Dia semakin mengeratkan rengkuhannya. "Na, lanjut adegan tadi yuk?"
"Gak bisa, gue masih amatir. Gak bisa ngimbangi serangan lo kayak tadi."
"Gak papa, gue ajarin caranya."
Nada kini mendongak. Diam tak mengiyakan. Tapi sepertinya adegan tadi akan terulang kembali saat kedua wajah itu sudah saling mendekat.
"Lo yakin mau ngelakuin di sini?" terdengar sebuah suara dari luar.
__ADS_1
"Iya, di sini aman. Yuk, katanya udah pengen. Kelamaan kalau ke kos gue atau ke rumah lo.."
Sedetik sebelum pintu itu terbuka, Nada dan Aksara telah bersembunyi di balik tumpukan meja paling pojok.