It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Kecilin Dikit


__ADS_3

Beberapa saat kemudian terdengar ponsel Aksa berbunyi. Dia berdiri dan mengambilnya. Menatap nama yang tertera di atas ponsel itu dengan serius.


"Siapa Mas?"


"Pak Rio, produser musik," jawab Aksa lalu mengangkat panggilan itu.


"Iya, Assalamu'alaikum Pak.... Iya, Alhamdulillah baik... Iya Pak, terima kasih.... Soal itu, saya sekarang sudah mengajar di dua sekolah SMA dan dalam dekat ini akan membuka kursus musik... Iya Pak, Amin... Iya, kapan-kapan kalau saya ke Jakarta mampir ke tempat Bapak.... Iya, sama-sama... Wa'alaikumsalam." Aksa memutuskan panggilan itu lalu kembali meletakkan ponselnya.


"Produser musik?" Nada kembali bertanya memastikan.


Aksa menganggukkan kepalanya dan kembali duduk di samping Nada. "Iya, sebenarnya Pak Rio pernah menawarkan untuk bergabung dengan agensinya di Jakarta."


"Kamu gak mau?" Sebenarnya Nada tahu, inilah langkah awal Aksa untuk memulai karirnya, tapi Aksa justru menolaknya dan memilih menjadi guru. Atau mungkin karena Aksa ingin menikahinya jadi dia menolak kesempatan itu. "Mas, itu kesempatan emas kan?"


Aksa menggelengkan kepalanya. "Semua yang aku miliki sekarang udah cukup." Aksa merengkuh pundak Nada dan memeluknya. "Dari awal aku memang mau jadi guru, biar ilmu yang aku miliki ini bermanfaat untuk banyak orang. Sebagai amal jariyah kita juga kan? Kita tidak hanya dapat materi tapi kita juga dapat pahala."


Nada tersenyum. Perkataan Aksa benar-benar mampu menyejukkan hatinya.


"Tahun depan aku ambil magister ya? Aku mau jadi dosen."


Nada mendongak menatap mata teduh suaminya itu. "Kenapa gak ambil tahun ini aja Mas?"


"Aku mau urus tempat kursus kita dulu. Kalau sudah jalan baru aku bisa tenang kuliah lagi."


Nada kembali menenggelamkan dirinya di dada Aksa yang telah menjadi tempat ternyamannya saat ini.


"Kamu mau kan ngajar di tempat kursus kita."


Nada hanya mengangguk.


"Sebenarnya kamu itu mau jadi apa? Mungkin aku bisa wujudin cita-cita kamu."


Nada menggelengkan kepalanya. "Aku cuma ingin jadi istrinya Mas Aksa."


Aksa tertawa, sebucin itu Nada padanya. "Jadi istri? Hah, baru juga jadi istri sepenuhnya udah nangis-nangis."


Satu cubitan kini mendarat di pinggang Aksa untuk kesekian kalinya. "Bisa gak sih gak bahas itu lagi. Ini nih yang nakal." Nada meremat kasar bagian tubuh Aksa yang berhasil membuatnya kesakitan nikmat semalam.


"Aw, Na, kalau bangun mau tanggung jawab."


"Kecilin dikit Mas. Jangan besar-besar."


Aksa mencubit hidung Nada gemas. "Justru yang besar itu lebih nikmat. Percaya deh. Nanti kamu rasain sendiri kalau udah sembuh."

__ADS_1


"Ih," Nada semakin bersandar di dada Aksa sambil memainkan jemari suaminya.


"Bentar lagi aku mau sholat jum'at. Kamu tidur aja."


Nada kembali mendongak menatap pemilik wajah tampan itu yang selalu tidak bosan dia tatap. "Nanti aja tidur sama Mas Aksa."


"Manja banget sih sekarang." Aksa semakin mengeratkan pelukannya lalu mencium bibir itu dengan lembut. Memagutnya cukup dalam yang mampu membuat napas keduanya sama-sama berat.


"Aku sayang kamu, Na..." Aksa mengatur napasnya sambil menenggelamkan dirinya di leher Nada.


"Aku juga sayang kamu.." Nada menjurai rambut tebal Aksa. Memberinya kenyamanan. Walau terkadang suami nakalnya itu memang mengesalkan tapi tetap perasaannya pada Aksa tidak akan berubah. Akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.


...***...


Siang itu Nada duduk dengan anteng di depan televisi. Mengganti beberapa channel yang terasa sangat membosankan bagi Nada.


"Makan siang dulu, Nad." suruh Bu Diana sambil duduk di sampingnya.


"Nunggu Mas Aksa saja, Bu. Sebentar lagi pasti pulang."


"Udah enakan?"


"Iya, sudah. Hmm, maaf ya Bu, Nada menginap di sini tidak bantu apa-apa. Malah merepotkan Ibu," kata Nada yang sadar diri karena sedari tadi pagi yang menyiapkan semua kebutuhannya adalah mertua baiknya.


"Ibu kenapa gak mau ikut tinggal di sana?"


"Biar kamu tinggal sama Aksa saja ya." Tangan Bu Diana terulur mengusap lembut rambut Nada. "Lihat kalian bahagia Ibu sudah senang. Kamu jangan pernah bertengkar sama Aksa ya. Kalau Aksa nakal dan keterlaluan sama kamu bilang sama Ibu biar Ibu marahi."


Nada tersenyum lalu memeluk mertuanya itu. Dia merasa beruntung sekali lagi. Dia bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu seperti Ibu kandungnya sendiri. "Ibu udah kayak Mama Nada. Bu, boleh nggak kalau Nada panggil Ibu dengan sebutan Mama. Nada kangen sama Mama."


"Boleh dong sayang. Ibu senang kalau kamu anggap Ibu seperti Mama kamu sendiri."


"Kok pelukan gak ngajak-ngajak sih," Aksa yang baru saja masuk rumah langsung menghempaskan dirinya di sebelah Nada.


Seketika Nada melepas pelukannya dan tersenyum pada Aksa. "Mas, aku sekarang udah punya Mama lagi."


"Mama? Wah, Bu, dulu aja Aksa panggil Mama gak boleh." protes Aksa karena memang dulu Bu Diana selalu melarangnya saat anak-anaknya memanggil dirinya Mama.


"Gak pantes dipanggil Mama."


"Nada kok boleh?"


"Spesial buat Nada." Bu Diana berdiri dan beranjak dari mereka berdua.

__ADS_1


"Gak adil."


Nada hanya tertawa. Ternyata Aksa yang telah dewasa itu masih bisa bertingkah seperti anak kecil di depan Ibunya.


"Tiara juga mau panggil Mama." Tiara yang baru pulang dari sekolah dan mencium tangan ibunya itu ikut protes juga.


"Kalian ini ikut-ikutan aja. Panggilan Mama cuma buat Nada. Udah Ibu mau ke dapur, kalian cepat makan."


Tiara menyungirkan bibirnya lalu ikut duduk dengan kedua kakaknya itu.


"Kak Nada gimana kesan dan pesan tidur di kamar sempit Kak Aksa?" tanya Tiara sambil melepas dasinya.


"Nyaman."


Tiara tersenyum lebar saat bisa menangkap hasil karya dari Kakak nakalnya itu. "Kak, itu lehernya kenapa merah-merah?" tanya Tiara yang berlagak polos.


Nada tersenyum kaku sedangkan Aksa kini sudah menatap tajam adik jahilnya itu.


"Ini, digigit nyamuk."


"Nyamuknya di sini gede ya kak. Segede Kak Aksa." tawanya pecah sambil kabur dari duduknya karena Aksa kini sudah bangkit dari duduknya.


"Adek kecil jangan bicara aneh-aneh."


"Adek kecil? Tiara udah 17 tahun kak. Teman aku juga banyak yang nyi pok pacarnya di leher."


"Astaghfirullah, Tiara ngomong apa kamu. Woy."


Tiara menutup pintu kamarnya saat Aksa akan menjewer telinga adik nakalnya itu. Aksa menggelengkan kepalanya lalu dia meraih tangan Nada agar ikut ke kamarnya.


"Anak jaman sekarang kalau ngomong gak pakai filter."


"Kamu sih Mas. Udah tahu gitu kenapa buat tanda merah di depan leher. Kan gak bisa ditutupi apa-apa."


Aksa tersenyum. Setelah menutup pintu, Aksa justru mengunci tubuh Nada dengan tangannya. "Enak Na, udah gak mikir sampai ke sana. Kalau gitu sekarang aku buat di belakang saja ya biar tertutup rambut." Aksa menyibakkan rambut Nada lalu menenggelamkan dirinya menyusuri leher putih itu lagi.


"Ahh, Mas..."


💞💞💞


.


.

__ADS_1


Aduh duh, Aksa, 🙄 mentang2 pengantin baru bikin author iri..


__ADS_2