It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Ngidam?


__ADS_3

"Selamat ulang tahun sayang... Semoga panjang umur, sehat selalu, lancar sampai harinya nanti." Satu tangan Aksa kini mengusap perut Nada. "Semua do'a terbaik untuk kamu..."


Nada tersenyum dengan air mata haru yang telah membasahi pipinya. Lalu sedetik kemudian dia berhambur ke pelukan Aksa. "Makasih, Mas. Aku kira Mas Aksa gak tahu hari ulang tahun aku."


Aksa melepas pelukannya lalu menghapus air mata bahagia Nada. "Masak hari ulang tahun istri sendiri gak tahu." Aksa menuntun tangan Nada mendekati kue tart dengan lilin yang telah menyala di atasnya. Iringan lagu ulang tahun dinyanyikan oleh tim sorak gembira.


Nada memejamkan mata sesaat lalu meniup nyala lilin hingga padam. Setelah itu dia memotong kue. Di suapan pertama tentu untuk suami tercintanya.


Yang kedua untuk Papanya. Satu ciuman hangat dari Papa mendarat di pipi Nada. "Selamat ulang tahun sayang. Papa bahagia sekali melihat kebahagiaan kamu."


"Iya Pa, makasih Pa."


"Sehat-sehat calon cucu Papa." Pak Teguh mengusap perut putrinya sesaat sambil mendo'akan semua hal yang terbaik.


Semua kebahagiaan tercurah di hari itu. Tak lupa juga Nada menyuapi kedua mertua tersayangnya.


"Aksa, ajarin dong kita cara romantis."


Aksa tersenyum. "Kalau lo udah ngerasain cinta, nanti secara otomatis lo pasti akan bisa romantis secara alami." Lalu dia memotong kue dan menyuapi Nada.


Semua kru cafe tertawa mendengar kata manis dari guru kesenian ini, ditambah tingkahnya yang semakin membuat para tamu terbaper-baper.


"Aksa, lo gak cocok jadi guru kesenian. Kenapa lo gak jadi guru sastra aja, biar bikin puisi tiap hari."


Aksa kembali tergelak. Dia teringat kebohongannya dulu pada Ayahnya yang mengaku masuk di fakultas sastra. Memang dunia pasti berputar.


"Ih, Mas. Udah kenyang Dari tadi kok disuapin. Itu yang lainnya suruh makan Mas. Kuenya juga."


"Tim rusuh itu gak perlu disuruh makan udah makan semua. Tuh, udah tandas semua isi piringnya." Aksa menaruh piring kecil setelah selesai menyuapi Nada.


"Ada ngidam aneh-aneh gak? Mumpung lagi hamil minta apa ajalah sama Aksa pasti dituruti."


"Waduh, kasian anak yang masih ada dalam perut difitnah." Benar-benar kalau tim rusuh cafe sedang kumpul, suasana rumah seketika ramai seperti pasar di pagi hari.


"Kirain ngidam pentol oey..." celetuk Malik yang langsung disambut nyanyian oleh lainnya.


"Aku pengen pentol sing ono endok'e


Aku pengen pentol sing double endok'e


Aku pengen pentol, pentol, pentol, pentol endok


Sing okeh emine, Mas..."


"Astaghfirullah..." Aksa seketika menutup telinga istrinya agar tidak terkontaminasi obrolan kotor teman cafenya.

__ADS_1


"Woy, kalau ngidamnya itu sih Aksa yang keenakan." Tawa mereka meledak ditambah saat melihat wajah polos Nada yang dipenuhi tanda tanya.


"Mas itu maksudnya ngidam apaan?"


"Udah, jangan didengerin mereka." Aksa melempar tisu pada si provokasi keonaran. "Kalau ngomong itu difilter."


"Aduh, geli gue. Kita jadi bayangin yang nggak-nggak." Malik masih saja tertawa sampai perutnya kram.


"Pak guru kalau ngejelasin di kamar aja sekalian praktek. Pasti belum pernah kan?" timpal Adit yang semakin membuat Nada mengerutkan keningnya.


"Udah, udah! Kalau ngomong masih gak bener aja mending kalian pulang!!" Aksa sedikit berteriak meredam gurauan yang sebenarnya membuat otaknya travelling kemana-mana, ditambah Nada yang semakin penasaran dengan omongan mereka. "Sayang, kamu istirahat di kamar aja ya. Biar tim rusuh pulang dulu."


"Iya Mas. Tapi nanti jelasin ya..."


Aksa hanya menelan salivanya. Bagaimana cara menjelaskannya. Jelas tidak semudah menerangkan teori bermain piano.


Aksa hanya mengiyakan biar Nada masuk ke dalam kamar. Obrolan tim rusuh tidak cocok untuk ibu hamil.


"Wih, langsung pengen nyoba si bumil."


"Iya, lihat tuh Aksa mukanya udah merah padam membayangkan apa yang akan terjadi."


Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Ampun dengan obrolan kali ini.


"Kita pulang aja yuk, pak guru mau menerangkan dalam kamar," ajak Malik. Tapi memang hari sudah malam. Bahkan Pak teguh dan Satya saja sudah pulang.


"Makasih ya semuanya."


"Oke beres!! Kalau ada acara lagi pesan di kita, biar kita cepat dapat bonus."


Akhirnya mereka semua menghilang dari rumah Aksa.


Pak Rendra yang sedari tadi mendengar obrolan mereka justru tertawa. "Obrolan anak muda jaman sekarang ngalah-ngalahin yang udah berumur."


"Iya. Emang mereka keterlaluan kalau bercanda." Aksa membereskan ruang tamu yang berantakan ulah tim rusuh tapi menyukseskan acaranya.


Setelah semua rapi, kedua orang tuanya pulang. Aksa mengunci pagar depan lalu pintu rumah. Dia meregangkan otot-ototnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


Dia lepas baju kokonya lalu membersihkan diri di kamar mandi. Setelah memakai kaos dan celana pendek, dia bersiap untuk tidur.


"Sayang kok belum tidur?" tanya Aksa yang melihat Nada masih menatap nyalang langit-langit kamarnya.


"Mas, tadi maksudnya apa? Ngidam pentol?" tanya Nada. Rupanya Nada masih berpikir tentang hal itu.


"Kamu mau bakso? Aku beliin ya?"

__ADS_1


Nada kini duduk sambil cemberut. "Bukan bakso Mas."


"Kan bakso isi telor sama mie, itu maksudnya."


"Bukan itu maksudnya Mas. Kalau bakso aku gak pengen. Cium kuahnya aja mual."


"Terus kalau menurut kamu maksudnya apa?" Aksa mendekat dan meraih tubuh Nada dalam pelukannya.


"Aku gak tahu Mas. Makanya aku mau Mas Aksa jelasin." Nada merebahkan kepalanya di dada Aksa sambil memainkan jemari Aksa.


Aksa menghela napas panjang. "Ya, maksudnya tadi itu bakso sayang. Gak ada maksud lain."


Nada semakin cemberut lalu dia melepas tangan Aksa dan merebahkan dirinya.


Aksa menggaruk sesaat rambutnya. Dia sudah paham dengan mood bumil yang naik turun seperti ini, ditambah sejak hamil Nada selalu ingin tahu apa saja yang telah dia dengar.


"Benar kamu mau tahu." Aksa kini mendekatkan dirinya.


"Iya mas apa?" tanyanya dengan antusias.


"Sini aku bisikin, nanti ada yang dengar." Aksa mendekatkan dirinya ke telinga Nada dan membisikkan sesuatu yang membuat pipi Nada seketika memerah. "Udah tahu kan? Yuk, sekarang tidur."


Aksa merebahkan dirinya sambil memeluk tubuh Nada.


"Mas, aku mau nyoba."


Perkataan Nada membuat rasa kantuk Aksa seketika terbang tinggi. Dia menatap lebar pada Nada. "Jangan sayang, kamu lagi hamil takutnya ada kuman yang masuk. Nengok dedek aja ya, kalau pengen."


Nada hanya terdiam. Dia sendiri berusaha menepis keinginan absurd nya itu. Tapi semakin malam dia semakin tidak bisa tidur.


"Mas, aku gak bisa tidur. Aku masih kepikiran. Mau nyoba."


Mata Aksa yang hampir terpejam dengan sempurna kembali terbuka. Dia kini menatap kedua mata Nada yang sangat terlihat memohon. "Sayang, kamu serius? Nggak jijik? Aku gak mau loh kalau kamu sampai mual."


"Nggak Mas. Mas Aksa gak mau?"


Senyum Aksa mengembang dengan sempurna. "Jelas mau, Na..."


💞💞💞


.


.


Udah gak ada konflik yg berat ya dicerita ini. Soalnya sudah menuju ke ambang penyelesaian.

__ADS_1


Di sini ceritanya dari awal sampai akhir lempeng aja. Gak tahu mau dibawa kemana? 🙄🙄


__ADS_2