It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Menua Bersama


__ADS_3

Bab geje ya ini. Kelanjutan ngidam pentol kemarin.. 🤣 buat hiburan author yang lagi pusing.. Kalau gak suka skip skip next ya...


...✨✨✨✨✨✨✨✨...


"Nggak Mas. Mas Aksa gak mau?"


Senyum Aksa mengembang dengan sempurna. "Jelas mau, Na..." Aksa melepaskan pelukannya lalu duduk dan bersandar di headboard.


"Ya udah, ayo." Nada sangat bersemangat. Tangannya kini sudah berusaha melepas celana Aksa.


"Na, gak sabaran banget. Jangan di makan loh, nakutin sih. Awas kalau digigit." Aksa menahan tangan Nada sesaat. Dia kini mencium bibir Nada untuk menambah asupan agar semakin mengeras. Otaknya sudah bertravelling membayangkan bagaimana jika bibir hangat Nada singgah di miliknya.


Aksa melepas ciumannya saat pasokan oksigen mereka hampir habis.


Nada kini mengatur napasnya yang tersenggal, tangannya sudah bermain dengan milik Aksa yang sudah berdiri tegak.


"Na, memang kamu sudah tahu caranya? Mau lihat video tutorialnya dulu?"


Nada menggelengkan kepalanya. "Kayak ngemut permen lollipop kan. Atau makan es krim."


Kalimat Nada membuat tubuh Aksa semakin berdesir. Gairah yang telah terpancing semakin bergelora. Apalagi saat dia menatap Nada menundukkan kepalanya dan seolah bergerak slow motion di pangkuannya.


Aksa melenguh sambil memejamkan matanya. Merasakan kehangatan nan basah dari bibir Nada. Walau hanya setengah tapi yang dilakukan Nada benar-benar membuatnya mabuk kepayang.


Nada terus mengulum dan sesekali menghisap yang membuat Aksa semakin mende sah.


"Mas, yang keras kalau men de sah. Jangan ditahan," kata Nada yang melepas miliknya sesaat lalu setelah itu kembali mengulumnya.


Jelaslah, Aksa semakin kelimpungan. Nada semakin gencar bermain dengan bibirnya. Aksa hanya bisa bersuara nikmat sambil menyibakkan rambut Nada yang tidak terikat itu.


"Sayang, udah. Nanti bisa keluar."


Nada tak juga menghentikannya. Dia semakin mempercepat gerakannya tapi saat sudah diujung, tiba-tiba Nada melepas miliknya.

__ADS_1


"Udah Mas."


Aksa hanya melongo. Rasanya dia sudah dibawa Nada terbang setinggi langit lalu dihempaskan begitu saja.


"Udah Na? Udah di ujung loh."


"Udah Mas."


Aksa membalik posisi Nada. Dia dengan tergesa melepas piyama yang dipakai Nada. "Nanggung, Na. Udah di ujung."


"Ih, Mas pelan-pelan kancingnya copot nih."


"Udah gak tahan, Na." Aksa mengendus dalam aroma leher Nada dan tak lupa membaca do'a tiap kali akan melakukannya.


Tangan Aksa yang sangat lihai sudah mampu memancing gairah Nada.


Aksa memulai pertempuran panas di malam jum'at itu. Menggebu dan tanpa jeda. Nada hanya bisa melenguh merasakan sensasi nikmat dari Aksa. Hingga keringat mereka bercampur menjadi satu dan melemas bersama setelah berpetualang panjang.


Semalam mereka mengulanginya sampai dua kali, hingga alarm yang berbunyi saat subuh tidak mereka dengar. Ketika matahari telah naik dan memancarkan sinarnya, Aksa mulai membuka matanya.


Aksa tersenyum menatap Nada yang masih terpejam dalam pelukannya. "Ih, gemesin." Aksa semakin mengeratkan pelukannya, dia tersenyum mengingat pertempuran panasnya semalam sampai mereka lelah, bahkan mereka tertidur dengan tubuh polos dan hanya berselimut tebal.


Satu ciuman mendarat di bibir Nada yang membuat Nada membuka matanya. Dia kini melihat sinar matahari yang masuk menembus tirainya. "Udah siang Mas."


"Iya, kita kesiangan."


"Mas sih semalam sampai dua kali."


"Enak, Na. Emang kamu gak enak?"


"Ih," jelaslah sensasi nyata yang diberikan Aksa telah membuatnya melambung tinggi seperti lupa daratan. Nada kini duduk secara perlahan. "Mas, badan aku pegal semua nih."


Seketika Aksa duduk dan memijat bahu Nada. "Pegal? Tapi perut gak sakit kan?"

__ADS_1


"Nggak Mas." Nada menikmati pijitan Aksa. Terasa sangat nyaman sekali.


"Bentar lagi mandi terus sarapan ya."


Nada menganggukkan kepalanya.


"Aku sampai lupa." Aksa meraih laci nakas lalu mengambil sebuah kotak kecil. "Ini kado dari aku, Na. Aku gak bisa kasih apa-apa sama kamu." Aksa memakaikan sebuah kalung silver dengan permata putih berbentuk hati yang cantik.


Nada menundukkan pandangannya dan menatap kalung itu dengan mata yang telah mengembun. "Mas, ini cantik banget."


"Aku belum bisa beliin berlian asli buat kamu."


Seketika Nada memeluk tubuh Aksa. "Aku gak butuh berlian Mas. Semua kebahagiaan yang Mas Aksa berikan buat aku itu sudah cukup. Makasih."


Aksa mengecup singkat puncak kepala Nada. Mereka nikmati momen indah berdua, di pagi hari yang mulai menghangat. Saling memeluk menikmati momen indah ini.


"Mas, kalau suatu saat nanti kita sudah tua, aku mau, aku yang pergi dari dunia ini terlebih dahulu. Aku gak bisa kalau harus hidup sendiri."


"Kita akan menua bersama. Kita akan pergi bersama. Kita berdo'a ya." Aksa mengerti, suatu saat nanti mereka pasti akan menua dan pasti akan merasakan kehilangan.


"Iya Mas. Amin."


"Na, mau sampai siang pelukan kayak gini tanpa pakai baju? Atau mau mengulang adegan semalam?" goda Aksa yang membuat momen haru itu menguar.


"Ih," Nada mencubit perut Aksa yang sudah tidak sixpack lagi. "Mesum terus."


Aksa terkekeh lalu dia melepas pelukannya dan mengangkat tubuh Nada. Menggendongnya menuju kamar mandi. "Kita mandi bentar. Kamu pasti sudah lapar."


"Lapar banget Mas."


"Kalau pagi udah gak mual, mulai besok setelah subuh kita jalan-jalan ya. Olahraga kecil. Udara pagi bagus untuk ibu hamil."


"Oke, Pak Guru."

__ADS_1


💞💞💞


__ADS_2