
Sedetik sebelum pintu itu terbuka, Nada dan Aksara telah bersembunyi di balik tumpukan meja paling pojok. Aksara masih bisa mengintip siapa yang akan berbuat mesum di tempat itu begitu juga dengan Nada.
Kedua mata mereka membulat saat melihat sepasang muda mudi mulai bercumbu.
Radit dan Salma?
Apa maksudnya? Aksara bahkan tidak tahu ada hubungan apa diantara mereka. Bukannya dia cemburu tapi dia hanya merasa seperti ada sesuatu yang telah disembunyikan dari Aksara.
Kedua pasang mata ini terus mengintai mereka. Terlihat sangat jelas mereka lebih daripada bercumbu. Tangan Radit sudah berani menyingkap baju Salma dan mulai menjelajah dengan bibirnya. Tak cukup sampai disitu, rok panjang Salma juga sudah tersingkap ke atas dan sudah siap menuju ke adegan inti.
Seketika Aksara menutup mata Nada. Dia membalikkan diri dan Nada agar tidak melihat adegan tak senonoh itu.
Nada kini memainkan ponselnya agar pikirannya tidak terkontaminasi dengan hal mesum itu.
"Radit, gue masih penasaran sama Aksa? Memang dia beneran pacaran sama Nada?" terdengar suara Salma yang diiringi dengan suara pergerakan dari sebuah meja yang digunakan mereka beradu.
"Kayaknya. Tadi gue lihat dia ciuman di lab. komputer." kata Radit yang masih terus bergerak aktif menghujam Salma.
"Kok bisa sih, Aksa pacaran sama cewek jelek kayak Nada. Memang dia udah kasih apa ke Aksa? Dulu aja gue ajak main selalu gak mau." Salma masih saja berbicara di sela-sela de sah kenikmatannya.
"Kenapa sih lo masih mikirin Aksa. Kan ada gue yang bisa muasin lo. Sejak lo datang ke kos gue waktu Aksa mutusin lo, gue langsung tertarik sama lo." Radit semakin menggencarkan serangannya yang membuat Salma semakin meracau. "Aksa mana mungkin buat lo mende sah kayak gini, Sal. Dia itu cuma pecundang hanya modal tampang doang."
Mendengar hal itu, Aksara mengepalkan tangannya. Ingin dia menghajar sahabat yang ternyata hanya baik di muka tapi bullshits di belakang. Andai saja Nada tidak menahannya mungkin Aksara akan termakan dengan amarahnya sendiri.
"Tetap saja Dit, gue masih penasaran sama milik Aksa."
"Kalau lo masih penasaran gue akan bantu lo tapi lo harus mau gue ajak saat gue butuh lo."
Salma hanya menganggukkan kepalanya. Gelombang dahsyat itu akan segera menerjangnya.
Mereka mengerang bersama cukup keras saat permainan mereka telah usai. Setelah merapikan diri, mereka keluar dari tempat itu.
Aksara dan Nada yang terjebak dalam situasi itu menjadi salah tingkah. Mereka layaknya menonton video porn secara live.
Aksara mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Ruangan itu menjadi terasa sangat panas.
__ADS_1
"Aksa..." suara itu membuat Aksara kini menatapnya. "Udah, jangan dipikirin teman kayak Radit itu. Yang penting sekarang lo jauhin dia!"
Aksara berdengus kasar. "Gak puas kalau gue belum hajar dia!"
"Lo cemburu sama Salma?"
"Gue gak peduli dia mau ngapain aja sama Salma tapi gue gak suka dia bawa-bawa nama gue."
"Iya, gue ngerti. Udahlah gak perlu diselesaikan dengan cara kekerasan. Yang penting sekarang lo udah tahu gimana busuknya sahabat lo itu."
"Iya, lo benar. Mereka juga bukan bagian penting hidup gue." Mereka tak juga keluar dari persembunyiannya. Bahkan Aksara kini justru memijit pelipisnya, jujur saja dia kini merasa pusing. Bukan hanya pusing karena emosi tapi juga pusing karena menahan bagian tubuh yang ikut bereaksi karena mendapat asupan lebih dari acara live barusan.
"Aksa, lo kenapa?" tanya Nada. "Kaki gue pegel nih jongkok di sini. Kita keluar yuk!"
"Hem?" Aksara kini menatap kedua netra Nada. "Emang gak ada reaksi apa-apa gitu dalam tubuh lo lihat adegan itu secara live."
"Ma-maksud lo?" tanya Nada, dadanya tiba-tiba berdebar-debar. Bukannya tubuhnya tidak ada reaksi tapi dia cukup pintar menyembunyikannya.
Tiba-tiba saja Aksara menarik tubuh Nada untuk duduk di atas pangkuannya.
"Aksa, gue gak mau..."
Perkataan Aksara membuat sekujur tubuh Nada merinding. Aksi yang dilakukan Aksara benar-benar semakin bereaksi di tubuh Nada. Dia hanya tercekat dan hanya mampu menatap wajah Aksara yang terlihat lebih tampan dari biasanya. Aura apa ini?
"Tapi kalau soal ini gue masih berani." Aksara memeluk pinggang Nada. Dia semakin mendekatkan dirinya. Rasa hangat dari napas mereka sudah menyapu wajah masing-masing. Nada tak mengelak dia justru mengalungkan tangannya di leher Aksara.
Mereka kikis jarak diantara mereka. Hingga sesuatu yang hangat dan basah mulai bermain-main. Mereka saling berbalas pagutan, menciptakan suasana semakin panas. Suara decapan itu kini memenuhi seluruh ruangan.
Aksara semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya diam-diam menyusup ke punggung Nada, mengusapnya dengan lembut yang semakin menambah sensasi untuk Nada.
Tangan Nada beralih pada ujung rambut Aksara, menariknya lalu mengacaknya. Dia benar-benar sudah dibuat melambung tinggi oleh Aksara. Hisapan dan gigitan-gigitan kecil itu membuat pertahanan Nada hampir roboh saat dia justru menggerakkan pinggulnya yang berada di atas bagian tubuh Aksara yang sangat mengeras.
Lenguhan kecil lolos dari bibir Aksara. Dia lepas pagutannya sesaat untuk mengambil oksigen, tiga detik kemudian dia kembali mencumbunya. Semakin menggila dan memanas.
"Ini yang dinamakan aksi sama dengan reaksi." kata Aksara sambil menempelkan keningnya di kening Nada setelah mengakhiri pergulatan bibirnya.
__ADS_1
Nada hanya menggigit bibir bawahnya yang terasa membengkak karena hisapan dari Aksara yang berulang kali.
"Pulang yuk!" Akhirnya kalimat yang seharusnya sedari tadi terucap kini mampu diucapkan Nada.
Aksara mengangguk.
Nada turun dari pangkuan Aksara. Mereka kini berdiri meskipun sebenarnya Aksara sudah tidak tahan ingin melanjutkan ke adegan selanjutnya karena sampai sekarang yang di bawah sana masih saja meronta ingin dituntaskan.
"Na, rambut sama baju gue kenapa berantakan kayak gini. Lo udah apain gue?" Aksara merapikan kemejanya dan mengancingkan tiga kancing atas yang sampai terbuka. Entah kapan Nada membuka kancing itu.
"Elo juga udah acak-acak gue." Nada juga merapikan bajunya yang agak lusuh bekas singkapan ke atas.
"Hah, gue belum acak-acak lo. Dari tadi lo yang beri stimulasi gue sampai yang bawah berkedut dan meronta-ronta."
Nada tersenyum malu, tak membantah kalimat Aksara. Ternyata gairahnya cukup besar juga jika telah dipancing Aksara.
"Na, gue mau ke toilet dulu." setelah rapi mereka berjalan keluar dari ruangan panas itu.
"Iya, gue juga mau ke toilet."
Aksara melirik gadis yang berjalan di sampingnya lalu menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia ingin sekali menggodanya lagi. "Lo juga udah gak tahan? Dari pada main pakai tangan sendiri kita saling bantu aja yuk."
Satu injakan lolos menginjak kaki Aksara. "Dikasih hati minta ampela." Lalu Nada berjalan mendahului Aksara.
"Na.." Aksara menyusul langkah Nada. "Besok lo gak usah bawa motor ya, gue jemput."
"Kalau jemput jangan lupa antar pulang juga."
"Ya pasti dong."
💞💞💞
.
.
__ADS_1
🙈🙈🙈
Lama gak up sekali up authornya bikin khilaf si Aksa.. ðŸ¤