It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Hal yang Dinanti


__ADS_3

Malam itu di rumah Aksa setelah selesai acara tasyakuran, Aksa masih saja mengobrol dengan teman cafenya dan beberapa teman satu kampungnya.


"Woy, Malik gue menang taruhan sama lo!!" teriak Adit. Bisa bayangkan bagaimana keadaan rumah Aksa jika kedatangan tim rusuh itu.


"An jir. Bos tokcer bener."


"Traktir kita main futsal sebanyak tiga kali broh."


"Aksa lo mau ikut futsal?" tanya Robi pada Aksa yang duduk bersila bersebelahan dengan Nada.


"Sibuk gue."


"Heh, pengantin baru ngapain lo ajak futsal. Dia main futsal sendiri di kamarnya"


Gelak tawa kembali terdengar riuh.


"Kayaknya Aksa ini satu aliran sama bos. Serempet, terobos, joss. Mumpung masih strong. Ahaha.."


Aksa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mungkin bosnya di rumah sedang bersin-bersin karena terus dibicarakan oleh anak buah rusuhnya itu.


Nada sudah merasa tidak nyaman karena obrolan para lelaki semakin memanas saja. Lebih baik dia undur diri ke kamar. "Mas, aku ke kamar dulu ya," bisik Nada.


"Iya, gak papa."


"Aksa, ditunggu di kamar oey."


Nada hanya tersenyum lalu berdiri dan menuju kamar.


"Udah gol berapa kali nih. Sampai gak tidur semalaman pasti." Malik masih saja menginterogasi pengantin baru itu.


"Belum, masih ada tamu."


Keadaan hening sesaat.


"Kalau gitu kita pulang aja..." Robi mendapat beberapa pukulan dari temannya. Memang di antara teman rusuhnya hanya Robi yang paling polos.


"Dodol. Maksudnya tamu itu palang merah oey."


Robi semakin berpikir.


"Udah otak lo gak nyampe."


"Kasian woy, pengantin barunya masih belum buka segel. Engap-engap dah tuh yang di dalam."


Tim rusuh yang tak tahu diri itu pulang tepat jam 9 malam.


"Aksa kita pulang dulu. Jangan lupa kalau nempati rumah baru undang kita-kita sebagai sorak gembira."


"Beres.."

__ADS_1


"Udah malam istri lo nungguin di kamar, kalau belum bisa dipakai masih banyak jalan menuju roma."


Aksa hanya tergelak.


Rumah seketika terasa senyap setelah tim rusuh pulang. Aksa dan Ayahnya membereskan dulu ruang tamu yang berantakan.


Setelah beres, Aksa kini masuk ke dalan kamarnya. Dia melihat Nada yang masih memainkan ponselnya.


"Mas, mereka udah pulang?" Nada beranjak dari duduknya. "Aku bantu beresin dulu ya."


"Gak perlu. Udah aku beresin. Kamu tidur dulu saja. Aku mau sholat dulu."


"Iya Mas. Aku juga belum sholat. Sholat berjamaah ya."


Mendengar kalimat itu saja seketika Aksa menatap Nada. Hal yang sangat dia nantikan, tapi dia harus melaksanakan kewajibannya dulu sebelum melakukan ibadah lain. "Iya."


Mereka berdua keluar dari kamar dan mengambil wudhu terlebih dahulu. Setelah itu, mereka kembali masuk ke dalam kamar lalu menggelar sajadah masing-masing. Nada memakai mukenanya sedangkan Aksa memakai sarung dan baju koko.


Aksa berdiri di depan Nada sebagai imam sholatnya. Mereka melaksanakan sholat 4 rakaat dengan khusyuk sampai salam dan tak lupa memanjatkan sebuah do'a.


Setelah itu Aksa memiringkan dirinya saat Nada mencium punggung tangannya yang dibalas dengan satu kecupan di kening Nada. Hal yang sederhana tapi terasa sangat romantis.


Nada kini melepas mukenanya sedangkan Aksa segera melepas sarung dan baju kokonya hingga menyisakan kaos dan celana pendek.


Aksa tak hentinya memandang Nada yang sedang melipat mukena dan sajadah. Setelah mengembalikan pada tempatnya, Nada kini duduk di samping Aksa di tepi ranjang.


"Kok gak bilang kalau udah selesai?" Satu tangan Aksa kini merengkuh tubuh itu.


"Itu, bulanannya."


"Oo.." Dada Nada tiba-tiba berdebar-debar. Apakah Aksa si perayu ulung itu akan memintanya sekarang.


"Mau sekarang?" Aksa meraih tubuh Nada hingga dia kini terduduk di pangkuannya.


"Hmm, Mas nanti aja di rumah kita ya?"


"Kenapa?"


"Takut Ibu sama Ayah dengar."


"Dengar apa?"


"Dengar itu. Suara-suara..."


Aksa tertawa kecil. "Emang mau jadi pemain film biru harus pakai suara yang keras gitu. Ya, nanti suaranya kita tahan." Aksa menjurai rambut Nada yang sedikit lepek karena keringat.


"Emang Mas Aksa bisa tahan suaranya?"


"Ya gak tahu, kan belum pernah rasain." Aksa menaik turunkan alisnya menggoda Nada.

__ADS_1


"Hmm, nanti aja ya. Jangan sekarang."


"Ya sudah. Iya sih, kamarnya sempit. Rentan banget terdengar sampai luar. Kita tidur yuk."


Mereka berdua merebahkan diri di atas ranjang. Rasa kantuk tak juga singgah justru semakin lama kamarnya semakin terasa panas. Aksa kini duduk dan melepas kaosnya. "Panas ya Na. Dua hari tidur di kamar kamu jadi kepanasan tidur di kamar sendiri."


Nada menatap Aksa yang bertelanjang dada. Tubuh yang sangat bagus dengan dada bidang dan otot bisepnya. Setiap wanita pasti akan tergoda jika melihatnya. Bahkan Nada saja sampai lupa berkedip untuk beberapa saat.


"Kenapa? Tergoda ya?"


"Ih." Nada juga ikut duduk karena dia juga merasa kepanasan ditambah bajunya yang kurang cocok dibuat tidur. "Mas, aku pinjam kaos oblongnya ya. Yang longgar. Aku lupa gak bawa piyama."


"Iya, ada kok. Sebentar." Aksa beranjak dari ranjang dan mengambil sebuah kaos oblong yang berada dalam lemarinya. "Nih." Aksa memberikan kaos itu pada Nada yang sudah berdiri di sampingnya. Lalu dia kembali duduk di tepi ranjang.


Nada menatap kaos itu sesaat. Dia nampak berpikir.


Kalau aku keluar ke kamar mandi buat ganti kaos doang terus ditanya sama mertua lucu kan pasti. Tapi masak iya aku ganti di sini. Si Aksa natap kayak gitu lagi. Udah kayak mau diterkam nih rasanya. Aduuhhh.. Nada, ayolah Aksa kan udah jadi suami, ngapain malu sih.


Nada kini menyingkap rok terusannya dari bawah ke atas hingga lolos melewati kepalanya.


Gerakan yang dilakukan Nada seolah bergerak lambat di hadapan Aksa. Lekuk tubuh indah itu begitu jelas terpampang nyata dan sudah mampu membakar gairah Aksa. Semakin berkobar dengan semangat juang.


Aksa berjalan mendekat dan menahan tangan Nada saat akan memakai kaosnya. "Jangan dipakai. Bagus gini." Aksa semakin menghimpit tubuh Nada hingga dia bersandar di pintu lemari. Mereka saling menatap lekat dengan detak jantung yang kian berlomba. "Kamu sexy." satu bisikan yang sangat erotis berhasil membuat perut Nada dipenuhi dengan kupu-kupu yang berterbangan ke sana kemari.


Hangat napas Aksa kini terasa menyapu lehernya. Dia menelan salivanya saat merasakan tangan Aksa mengusap lembut di sepanjang kulit pinggangnya. Baru begitu saja sudah membuat merinding seluruh tubuh Nada.


Aksa mendekatkan dirinya. Menyentuh bibirnya dengan lembut dan tangan Aksa diam-diam suda merayap ke belakang punggung Nada lalu melepas sebuah pengait yang akan membuat pemandangan indah itu tanpa penghalang lagi.


Mereka berdua sama-sama menundukkan kepalanya saat Aksa berhasil membuang penutup itu.


Napas Aksa semakin berat. Dia pandangi dua benda sintal yang masih bulat dan padat itu menempel di dada bidangnya. Sudah sangat melambai-lambai untuk disentuh, dijejak, dan dihisap.


"Na, aku minta sekarang ya?" tanya Aksa dengan suara beratnya.


Nada terdiam dan menatap Aksa.


Oke, rileks. Berdasarkan artikel yang aku baca sakitnya cuma sebentar kok. Rileks aja. Inhale.. Exhale..


.


.


.


.


Untuk next lagi komen banyak-banyak oey..


.

__ADS_1


.


__ADS_2