It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Pesona Pak Aksa


__ADS_3

Nada tersenyum menatap setumpuk undangan yang telah siap diberi nama lalu dikirim pada tamu undangan.


"Gak nyangka sebulan lagi kita sah." Rasa bahagia dan rasa gerogi bercampur jadi satu. Seperti inikah rasanya akan menikah, setiap hari dadanya dipenuhi rasa soda gembira yang berkarbonasi di dalam dan terus meletup-letup.


"Na, resepsinya sampai berapa tamu undangan?" tanya Pak Teguh yang kini duduk di sebelah putrinya.


"500 undangan Pa. Aksa cuma ambil 200, sisanya kita."


"Na, gimana caranya Papa bantu biaya pernikahan kamu? Kamu anak perempuan Papa satu-satunya. Sudah seharusnya Papa yang menyelenggarakan resepsi pernikahan kamu."


Nada menggedikkan bahunya tidak mengerti. "Gak tahu, Pa. Aksa memang begitu, dia merasa ini tanggung jawabnya. Soal MUA aja aku rayu-rayu Pa biar pakai jasa tante Ira."


Pak Teguh mengusap rambut Nada dengan penuh kasih sayang. "Sama persis kayak Ayahnya dan Papa semakin yakin menyerahkan kamu sama Aksa."


"Iya Pa."


"Aksa ada bilang sama kamu setelah menikah mau tinggal dimana?"


"Belum sih Pa. Nada maunya tinggal sama Papa." Nada menyandarkan kepalanya di pundak kokoh Papanya yang selama ini telah menjaganya.


"Tapi kalau Aksa maunya tinggal di rumahnya atau di tempat lain, kamu ikuti dia ya. Kamu harus nurut apa kata suami kamu."


Nada mengangguk paham.


Pak Teguh semakin merengkuh tubuh putrinya. "Semoga kamu selalu bahagia sayang."


"Amin, Pa."


...***...


Siang itu, Aksa keluar dari kelas XI setelah mengajar kesenian. Ya, dia memang sudah satu bulan mengajar di sekolah itu. Adanya Aksa sebagai guru muda membuat para gadis belia di SMA itu mendapat pemandangan segar.


"Pak, mau langsung pulang?" tanya salah satu siswi yang mengikutinya.


"Iya," jawab Aksa sambil berjalan melewati lorong-lorong kelas. Kebetulan saat itu para murid juga sudah waktunya untuk pulang.


"Pak Aksa rumahnya dimana?" tanya salah seorang siswi dari beberapa siswi yang berjalan di dekat Aksa.


"Di gang sempit," jawab Aksa yang langsung mendapat tawa riuh dari siswi-siswi di sana.


Aksa mempercepat langkahnya. Dia tidak mau menanggapi terlalu serius kecentilan para gadis belia itu.


"Pak, kapan-kapan ajarin kita main piano dong. Biar bisa tanya kayak gini, Pak, yang ini apa namanya?" katanya sambil menirukan lagu dari Rhoma Irama itu.

__ADS_1


"Ihir.."


Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja tingkah gadis SMA ini. "Iya, nanti kamu bisa daftar kursus di tempat saya."


"Pak Aksa yang mengajar?"


"Bukan," jawab Aksa sambil meraih helmnya.


Beberapa gadis-gadis itu masih saja mengerumuni Aksa sampai tempat parkir.


"Terus kalau bukan Pak Aksa siapa yang ngajar?"


"Kita kan maunya diajarin Pak Aksa."


"Iya, nama Pak Aksa sudah melekat di hati saya."


"Saya rela deh tiap hari ada pelajaran kesenian biar ketemu sama Pak Aksa."


Kepala Aksa semakin pusing. Benar kata Nada menjadi guru muda di SMA membuatnya di kejar-kejar siswinya sendiri.


"Iya, permisi saya mau pulang." Aksa kini naik di atas motornya.


"Pak nebeng dong, saya gak ada yang jemput."


Mereka saling berebut padahal Aksa tidak menawari tumpangan pada salah satu dari mereka atau pun mengiyakan keinginan mereka.


"Ehem!!" Satu deheman itu justru membuat Aksa bagai ditelan bumi hidup-hidup.


Dia kini menatap seseorang yang sedang melipat tangannya di dada sambil menatapnya tajam.


"Eh, Na, kok ada di sini?" tanya Aksa kaku.


"Eh, siapa sih dia?"


"Gak tahu."


"Kok bisa sih ada di sini."


"Minggir!!" Nada memecah segerombalan para gadis itu. Dia dengan santainya naik ke atas motor Aksa lalu memeluknya.


Aksa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Nada dilawan.


"Datang-datang, main peluk aja."

__ADS_1


Mereka masih saja bersuara seperti lalat buah yang berisik.


Aksa kini menjalankan motornya dan segera meninggalkan tempat parkir.


"Eh, woy, kalian ini katanya anak hits tapi gak tahu berita viral. Dia itu Nada Azalea calon istrinya Pak Aksa," teriak salah satu cowok yang mungkin merasa jijik dengan tingkah laku teman sekolahnya itu.


"Whats!!" teriak mereka bersamaan.


Aksa masih saja menyunggingkan senyumnya setelah keluar dari gerbang sekolah.


Seketika Nada melepaskan pelukannya lalu memanyunkan bibirnya.


"Loh, kok pelukannya dilepas."


"Gak tahu!!"


Aksa memelankan laju motornya lalu meraih tangan Nada dengan tangan kirinya. "Marah?"


"Suka banget di kerubutin sama lalat buah."


Aksa semakin terkekeh. "Lucu banget sih kalau cemburu."


"Habisnya kamu diam aja digodain kayak gitu."


"Aku udah nolak, Na. Gak mungkinlah aku marah-marah atau bentak-bentak mereka agar menjauh. Guru Na, harus bisa jaga sikap."


Nada menghela napas panjang.


"Kamu gak percaya sama aku?"


"Aku tadi niatnya mampir ke tempat ngajar kamu buat ngasih kejutan eh, malah aku yang terkejut."


"Ya, maaf ya kalau aku salah. Tapi beneran deh, aku gak akan tergoda sama mereka."


Nada kini kembali memeluk Aksa. Rupanya hati yang panas membara itu sedikit padam.


"Aksa, kita mau kemana?" tersadar jika jalan yang dilalui Aksa bukan jalan menuju rumahnya atau rumah Aksa.


"Ke rumah kita," jawab Aksa.


"Rumah kita? Maksudnya?"


Aksa hanya terdiam. Dia kini sedikit menambah kecepatan laju motornya. Beberapa saat kemudian dia menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang lumayan besar dan memiliki dua lantai meski tidak terlalu mewah.

__ADS_1


"Ini rumah kita.."


__ADS_2