
"Udah ah tidur."
"Iya tidur. Mau next adegan juga belum bisa." Aksa terus menghapus jarak di antara mereka tapi Nada justru semakin tak bisa tidur. Dia miring lalu kembali terlentang lagi. Menghela napas panjang. Mencoba memejamkan mata tapi tetap tidak bisa tidur.
"Gak bisa tidur? Ya udah aku tidur di sofa aja ya biar gak ganggu." Lama-lama Aksa merasa kasihan juga pada Nada yang terlihat sudah capek tapi tak bisa tidur.
Nada menarik tangan Aksa saat akan beranjak dari tempat tidur. "Jangan."
"Ya udah kamu tidur dong. Udah malam. Kamu capek kan?"
"Tapi aku punggungi gak papa ya?"
"Gak papa. Untuk malam ini aja. Malam-malam selanjutnya pasti kamu juga bisa tidur."
Nada kini membalikkan badannya dan memunggungi Aksa sambil memeluk gulingnya. Beberapa saat kemudian terdengar napas teratur Nada pertanda dia sudah tertidur.
"Selamat tidur Nada..." gumam Aksa lalu dia segera memejamkan matanya.
Awalnya Nada tidur dengan anteng tapi saat mendekati waktu Subuh tiba-tiba tangan Nada memukul wajah Aksa. Selimut juga telah tersingkap dari dirinya.
"Aw," ucap Aksa pelan. Dia membuka matanya. "Cantik tapi kalau tidur modelannya kayak gini." lirih Aksa sambil tersenyum. Dia menggeser tangan Nada secara perlahan. Dia pandangi wajah cantik Nada yang masih tertidur nyenyak dengan mulut yang sedikit terbuka. Ingin dia mencium bibir itu untuk merebut morning kiss pertamanya tapi dia tidak ingin mengganggu tidur Nada kali ini.
Aksa memutuskan untuk turun dari ranjang. Dia menuju kamar mandi karena adzan Subuh sudah berkumandang.
...***...
Nada bergeliat lalu dia membuka matanya. Pemandangan yang sangat indah dan menentramkan jiwa kini tersaji di hadapannya. Dia menatap lekat suaminya yang sedang melaksanakan sholat dua rakaat.
Kini Nada benar-benar telah mengakui ketampanan Aksa apalagi saat memakai baju koko, sarung dan lengkap dengan peci hitam itu. Sosok yang sangat sempurna dimata Nada. Bahagianya dia bisa memiliki Aksa seutuhnya.
Nada terus mengamati setiap gerakan Aksa. Sampai Aksa menengadah dan memanjatkan do'a, Nada masih saja tersenyum menatapnya.
Setelah Aksa selesai, Nada berpura-pura tidur lagi. Tapi sepertinya Nada tidak bakat berakting.
"Pura-pura tidur?" Sepasang tangan dingin menangkup pipi Nada.
"Ih, Mas dingin." Seketika Nada membuka matanya.
"Jadi lebih suka yang hangat?" Aksa mendekatkan dirinya dan mencium bibir Nada dengan lembut.
__ADS_1
"Aku belum ke kamar mandi, kok main cium aja sih." Nada menutup bibirnya saat Aksa melepaskan ciuman hangatnya.
"Morning kiss."
"Aku mau ke kamar mandi." Nada menjadi salah tingkah. Dia turun dari ranjang dan menyepol rambutnya lalu menuju lemarinya mengambil satu stel baju gantinya.
"Na, kalau gak capek nanti kita cicil kemas barang kamu ya. Kamu tunjuk aja mana yang kamu bawa biar aku yang kemas."
"Sebagian udah aku bawa ke sana kok Mas. Dibantu sama Kak Satya." Nada menghentikan langkahnya karena Aksa kini berdiri di dekatnya.
"Kapan? Aku beberapa hari ini memang gak ke rumah kita."
"Iya percaya deh. Pak guru kan emang sibuk. Selain sibuk ngajar juga sibuk dengerin lalat buah."
Aksa justru tertawa lalu dia memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Besok ke rumah aku ya. Kita menginap di sana. Biar sebelum menempati rumah baru kamu sudah pernah merasakan menginap di kamar sempit aku."
"Oke. Bentar Mas aku mau mandi dulu."
Aksa tak melepas pelukannya. Dia justru mengendus dalam leher jenjang Nada dari belakang.
Sudah ada gelenyar aneh yang tiba-tiba menyerang tubuh Nada. Dia melenguh tertahan saat Aksa menyusuri lembut leher itu. Terasa hangat dan basah. Ditambah Aksa semakin menempelkan dirinya di belakang tubuhnya.
"Iya," Aksa akhirnya melepas tangannya dari tubuh Nada.
"Mas Aksa, aku punya tebakan."
"Apa?"
"Apa hayo, yang berdiri tegak tapi bukan keadilan, yang bertegangan tinggi tapi gak ada arus listrik," Nada tertawa lalu dia melangkah cepat menuju kamar mandi dan segera menutup pintu.
Aksa menggelengkan kepalanya karena jujur saja apa yang dilakukannya barusan pada Nada memang sudah membuatnya berdiri tegak dan bertegangan tinggi. Woy, apa woy?! 🙄
Setelah itu Aksa berganti baju lalu dia keluar dari kamar terlebih dahulu. Menuruni anak tangga dan menuju taman sebelah rumah karena terlihat Pak Teguh sedang berolahraga kecil di sana.
"Gimana Aksa, nyenyak tidurnya? Pengantin baru kok masih pagi sudah keluar kamar."
Aksa hanya tersenyum kecil. Jelaslah sudah keluar kamar, semalam kan masih belum melakukan ritual apapun.
"Kalau mau buat kopi, minta sama Sumi atau Bi Atun di dapur ya."
__ADS_1
"Iya nanti aja Pa."
"Oiya, ikut Papa sebentar. Ada yang mau Papa kasih sama kamu." Pak Teguh berjalan masuk ke dalam rumah lalu membuka laci yang berada di ruang tengah. Mengambil sebuah kunci mobil dan memberikannya pada Aksa. "Mobil yang warna putih itu kamu pakai ya."
Aksa mendorong lagi kunci itu ke tangan Pak Teguh. "Tidak usah Pa, nanti kalau saya ada rezeki biar saya beli."
"Tidak. Kamu pakai ini saja. Ini juga mobil Nada. Papa mohon terima ya. Kamu sudah memberi Nada banyak hal. Rumah, usaha, dan yang paling penting kebahagiaan untuk Nada. Apa yang Papa beri ini belum seberapa."
Aksa hanya menatap kunci itu yang berada di atas telapak tangannya.
"Udah, terima aja." Nada mendekat dan langsung menggenggam tangan Aksa agar mau menerima kunci itu.
"Tapi Na..."
Nada hanya menggelengkan kepalanya pertanda jika Aksa tidak boleh lagi menolaknya.
"Baik Pa. Terima kasih."
"Tidak perlu sungkan lagi ya. Dan nanti setelah kamu pindah ke rumah baru biar Sumi ikut ke rumah kalian."
"Nggak perlu, Pa. Saya belum bisa..."
"Biar Papa yang gaji." potong Pak Teguh. "Papa tahu Nada belum bisa menghandle pekerjaan rumah."
"Tidak apa-apa. Saya bisa bantu pekerjaan rumah," elak Aksa sekali lagi.
"Aksa, jangan tolak pemberian dari Papa ya." Pak Teguh mengusap bahu Aksa.
"Tapi Pa, apa gak bahaya kalau Mbak Sumi ikut. Dia kan kecentilan sama Aksa," kata Nada.
"Oalah, Mbak Nada." Tak sengaja Mbak Sumi yang sedang membersihkan ruangan itu mendengar obrolan mereka. "Kalau janur kuning udah melengkung pantang buat saya untuk menikung. Tapi kalau cuma pandang wajah ganteng Mas Aksa boleh dong, gak akan berkurang kok gantengnya."
"Ih, Mbak Sumi!!!" Nada kini mengejar Mbak Sumi yang telah berlari ke dapur.
Aksa dan mertuanya itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Biar tambah ramai nanti di rumah kamu. Tenang aja, Sumi memang suka bercanda seperti itu. Kita sudah seperti keluarga karena Sumi dari kecil sudah tinggal di sini sama ibunya."
Aksa hanya mengangguk paham.
__ADS_1