
Aksa duduk di kursi ruang tengah. Dia pijit pelipisnya sesaat yang terasa pusing. Hampir saja emosinya meluap dan memarahi Nada.
"Pak Aksa sudah makan? Saya siapkan kalau mau makan." tanya Sumi yang melihat Aksa hanya duduk berdiam diri di ruang tengah sambil menatap pintu kamar Nada yang tertutup rapat.
"Sudah Mbak."
"Lagi marahan sama Mbak Nada ya? Maklum Pak, mood ibu hamil memang naik turun. Yang sabar ya Pak."
"Iya," jawab Aksa singkat sambil menyandarkan dirinya.
Sumi tak berkata lagi. Dia kini berlalu menuju kamarnya.
Aksa menghela napas panjang, jujur saja raganya terasa sangat penat hari itu tapi rasa kantuk tak juga datang. Dia berdiri lalu naik ke lantai dua. Bukannya tidur di kamar tapi Aksa justru mengambil bantal dan selimutnya lalu turun dari lantai atas dan kembali duduk di kursi panjang. Tetap menatap pintu Nada yang masih tertutup.
"Na, aku jagain kamu dari sini ya. Tidur yang nyenyak."
Aksa meletakkan bantalnya lalu mulai merebahkan dirinya. Meski malam telah larut dia seperti tidak bisa memejamkan matanya. Seperti ini rasanya tidur tanpa ada yang dia peluk.
"Na, kamu bisa tidur gak di dalam?" gumam Aksa lalu dia memiringkan dirinya, kembali menatap pintu itu.
Sedangkan di dalam kamar, Nada baru saja tertidur. Tapi tak lama kemudian dia terbangun. Sudah tengah malam, tenggorokannya terasa kering. Biasanya memang Aksa yang selalu menyiapkan air minum untuknya. Lalu dia duduk secara perlahan.
"Gak enak gak tidur bareng Mas Aksa. Habisnya Mas Aksa nyebelin banget sih." Nada turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya.
"Mas Aksa kok tidur di kursi?" Hatinya mencelos melihat suaminya tidur di kursi sambil memiringkan badannya. Nada berjalan mendekat secara perlahan. Lalu dia berlutut agar bisa melihat wajah tampan suaminya.
__ADS_1
Ketampanan yang dimiliki Aksa memang sempurna, jelaslah banyak wanita yang mendambanya. Sebenarnya Nada merasa beruntung telah memilikinya.
Nada menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahinya. Gurat lelah itu sangat terlihat. "Ya Allah Mas, maafin aku."
Tiba-tiba Aksa meraih tangan Nada dan menggenggamnya yang membuat Nada terkejut. "Mas Aksa dari tadi gak tidur?"
"Gimana bisa tidur kalau gak ada kamu."
"Mas ngapain sih tidur di kursi. Kan aku nyuruhnya tidur di atas."
"Biar aku bisa jagain kamu dari sini."
Perkataan Aksa justru membuat Nada menangis. Hanya karena kesalahpahaman, dia merasa durhaka telah memarahi Aksa.
"Sayang, kenapa nangis?" Aksa bangun dari tidurnya lalu meraih tubuh Nada agar duduk di atas kursi. Dia usap bahu Nada yang bergetar karena isak tangis. Benar-benar mood ibu hamil yang tidak bisa ditebak.
"Sayang, udah. Gak papa. Kan aku yang salah gak bisa jaga tingkah laku. Jangan sedih gini. Ibu hamil gak boleh stress. Nanti dedeknya juga ikut sedih di dalam perut." Aksa berusaha menenangkan si pemilik hatinya.
"Kenapa sih aku emosional gini Mas?"
"Karena rasa cinta kamu sangat besar buat aku." Aksa semakin mengeratkan pelukannya. "Aku gak bisa rasain apa yang kamu rasa. Demi buah hati kita, kamu rela mual tiap pagi, emosi juga gak beraturan. Aku tahu kadang kamu lelah dan jenuh, sedangkan aku tiap hari selalu sibuk kayak gak ada waktu buat kamu. Maaf ya..."
"Aku yang minta maaf Mas. Justru aku yang gak bisa ngertiin Mas Aksa."
Aksa mengecup dalam puncak kepala Nada.
__ADS_1
"Kamu kenapa bangun?"
"Aku haus Mas."
"Ya udah aku ambilkan." Aksa melepas pelukannya lalu mengambilkan air putih untuk Nada.
"Makasih Mas." Nada segera meneguk segelas air putih itu sampai habis.
"Mau lagi?"
"Udah Mas." Nada meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja.
"Jangan sedih-sedih lagi ya. Kasian kan dedeknya jadi ikut sedih." Aksa membungkukkan badannya lalu mencium dalam perut Nada.
"Iya, mulai sekarang aku akan coba kontrol emosional aku, Mas."
Aksa tersenyum, dia tegakkan dirinya lalu mengecup singkat bibir Nada. "Makasih, kamu sudah menjadi bagian dalam hidup aku."
"Sama-sama Mas." Nada menyatukan kembali bibirnya. Bukan ciuman singkat tapi ciuman yang semakin lama semakin menuntut.
"Na, buat suatu hal yang melelahkan yuk, biar cepat tidur." Aksa berdiri lalu mengangkat tubuh Nada ala bridal style.
"Emang Mas Aksa gak capek?"
"Kalau untuk more faster, jelas beda capeknya."
__ADS_1
"Ih," Nada melingkarkan tangannya di leher Aksa lalu mereka kembali berciuman sambil menutup pintu kamar.
Mereka menjatuhkan diri di atas ranjang. Meluapkan semua rasa sayang dan cinta. Menyatu dan mendayung bersama mengarungi sebuah kenikmatan. Saat keringat mulai bersatu, semua kemarahan itu telah menguar....