
Nada bergeser pelan dari miring menjadi terlentang. Beberapa saat kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi miring lagi. Hampir setiap malam sejak akan memasuki bulan ke 9 kehamilannya, Nada sudah tidak nyenyak tidur malam.
"Sayang, gak bisa tidur? Pakai bantal hamil biar nyaman." Aksa ikut terbangun saat merasakan Nada sedari tadi bergerak-gerak.
"Sama aja Mas, gak nyaman. Mas tidur aja, hari ini kan harus berangkat pagi-pagi ke Surabaya."
Tangan Aksa kini justru mengusap perut Nada memberinya kenyamanan meski sambil memejamkan matanya.
Hingga adzan subuh berkumandang, Nada masih saja belum bisa tidur nyenyak.
Aksa menguap panjang. "Rasanya gak tega ninggalin kamu hari ini."
"Kenapa Mas? Kan HPL nya masih satu minggu lagi. Mas tenang aja. Mas Aksa dapat undangan acaranya gubernur jadi harus datang."
Aksa beralih mengusap perut Nada lalu menciumnya. "Yang pinter ya sama Mama di rumah..." Lalu ciumannya kini beralih pada bibir Nada. Menciumnya dengan lembut. Sesaat tapi sangat dalam. "Maaf, aku gak bisa ngerasain apa yang kamu rasa. Wajah kamu udah keliatan lelah gini." Aksa menyingkirkan anak rambut dari dahi Nada dan mengusapnya dengan lembut.
"Gak papa Mas. Sebentar lagi kan kita ketemu sama dedek."
Senyuman tulus Nada selalu mampu membuat dada Aksa bergetar. "Makasih ya sayang."
"Sama-sama Mas."
"Kamu mau ke kamar mandi dulu? Soalnya aku mau sekalian mandi."
"Iya Mas."
"Sini sayang aku bantu." Aksa membantu Nada turun dari ranjang lalu menutunnya ke kamar mandi.
"Mas aku bisa ke kamar mandi sendiri. Biasanya kan kalau Mas Aksa ngajar aku ke kamar mandi sendiri."
"Gak papa sayang, selagi aku di rumah bisa manjain kamu."
...***...
Sebelum berangkat, Aksa menciumi perut Nada berkali-kali lalu kedua pipi Nada, kening, dan terakhir bibirnya.
"Nanti kalau ada apa-apa langsung kabari ya. Ibu sebentar lagi datang."
"Mas, hati-hati ya."
"Iya sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Lambaian tangan Nada mengantar kepergian Aksa. Setelah mobil Aksa keluar dari halaman rumahnya, Nada kembali masuk ke dalam rumah. Dia kini duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Kok perut aku sakit ya. Perasaan tadi udah ke kamar mandi." Nada berdiri lalu masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia duduk di atas closet tapi tak juga keluar. Setelah sakit perutnya mereda, dia keluar dari kamar mandi.
"Mama, udah lama?" tanya Nada saat keluar dari kamarnya dan sudah ada ibu mertuanya sedang duduk di ruang makan.
"Barusan. Nih, Ibu bawakan serabi kuah. Dimakan ya mumpung masih hangat."
"Terima kasih, Ma." Nada berjalan mendekat lalu duduk di dekat ibu mertuanya itu. "Udah dari kemarin aku pengen ini tapi Mas Aksa gak nemu-nemu."
"Iya kemarin Aksa yang bilang sama Ibu. Ini Ibu sendiri yang buat. Itu, Ibu bawa banyak."
"Makasih ya, Ma." Nada mulai memakan serabi dengan kuah santan gula merah itu. "Enak Ma."
"Habiskan ya. Kalau kurang tambah lagi."
"Iya Ma." Nada kembali memakannya dengan lahap.
"HPL nya seminggu lagi ya? Ini udah turun banget perut kamu. Udah masuk panggul." Bu Diana mengusap perut Nada yang terasa mengencang. "Kok kencang gini Na?"
"Udah sering gini, Ma."
Bu Diana menautkan alisnya, dia seperti memikirkan sesuatu. "ASI nya udah keluar? Sudah di stimulasi kan sama Aksa?"
Nada hanya mengangguk sambil tersenyum malu. Harusnya stimulasinya cukup dipijat dengan minyak zaitun dan dibersihkan saja sesuai ajaran di kelas ibu hamil yang pernah dia ikuti, tapi si suami mesumnya itu justru menghisapnya seperti anak bayi yang sedang menyu su.
"Na, kalau capek duduk aja ya. Wajah kamu udah kelihatan lelah pasti tiap malam tidurnya udah gak nyenyak."
"Iya Ma." Nada mengusap keringat yang membanjiri pelipisnya. "Aku ke kamar mandi dulu ya, Ma."
"Kenapa?" melihat raut wajah Nada yang nampak meringis kesakitan, Bu Diana menjadi sangat khawatir.
"Perut aku sakit, sebentar aku mau ke kamar mandi." Nada berjalan perlahan sambil memegang pinggangnya yang terasa sangat pegal.
Bu Diana segera menyusul langkah Nada dan menuntunnya. "Tadi ada rasa sakit gak?"
"Iya Ma. Tadi setelah Mas Aksa berangkat sakit tapi gak keluar, apa salah makan ya," kata Nada lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Bu Diana menghitung jarak setelah rasa sakit pertama. "Masih dua jam sekali. Aksa kira-kira pulang jam berapa ya?" Bu Diana menjadi cemas. Dia menunggu anak menantunya di depan pintu kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Nada keluar dari kamar mandi dan masih meringis kesakitan.
"Na, masih sakit? Duduk dulu ya." Bu Diana menuntun menantunya duduk di tepi ranjang.
"Udah berangsur hilang sih Ma."
__ADS_1
"Nanti kalau sakit lagi bilang ya. Jangan ke kamar mandi. Duduk aja. Sebentar Ibu ambilkan air putih."
Nada kembali mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. "Masak udah mulai kontraksi? Bukankah HPL masih seminggu lagi." Nada mengusap perutnya yang terasa semakin kencang. "Sayang sabar ya. Nunggu Papa pulang dulu."
Bu Diana masuk sambil membawa air putih. "Diminum dulu."
Nada langsung meneguk habis air putih itu.
"Ma, apa kontraksi itu kayak gini?"
Setelah meletakkan gelas yang telah kosong. Bu Diana mengusap lembut rambut Nada. "Sepertinya iya. Kamu tenang ya, Ibu akan menemani kamu. Aksa kira-kira pulang jam berapa?"
"Sepertinya sore. Jangan diberi tahu Ma. Soalnya Mas Aksa nyetir sendiri aku takut Mas Aksa panik di jalan."
"Iya, mau dibuat jalan-jalan kecil aja? Sepertinya masih lama."
"Iya, kembali menata ruang kursus aja ya Ma."
"Yuk." Bu Diana membantu Nada turun dari ranjangnya lalu berjalan pelan menuju ruang kursus. "Perlengkapan yang dibawa ke rumah sakit sudah siap kan?"
"Sudah, Ma."
"Kamu tenang ya. Pasti semua lancar."
Nada kembali beraktifitas pelan. Meski selang satu jam lagi, mulas itu kembali terasa. Dia hanya bisa duduk sambil mengusap perutnya sendiri.
"Aduh, Mbak Nada perut Sumi jadi ikutan mules juga. Sumi telpon Papa sama Mas Satya ya? Biar nanti bisa langsung ke rumah sakit."
"Iya, kamu telpon aja. Ayahnya Aksa juga sudah dalam perjalanan ke sini." Bu Diana ikut mengusap perut Nada. "Sakit ya sayang? Tetap tenang ya? Tarik napas lalu keluarkan."
Rasa mulas berangsur menghilang lagi. Setelah itu kembali terulang lagi setiap 30 menit.
"Bu, Ayah kirim pesan ke Aksa saja ya. Kasihan Nada, pasti butuh Aksa."
"Iya, tapi jangan bilang kalau Nada mau melahirkan."
Dari 30 menit rasa sakit berulang menjadi 15 menit.
"Kamu makan dulu ya. Lalu kita berangkat ke rumah sakit saja." Pak Teguh yang sudah datang langsung merengkuh tubuh putrinya.
Nada hanya bisa meringis kesakitan sambil terus mengusap perutnya sendiri. Meski sudah melewati jam makan siang tapi rasa lapar sudah tidak terasa lagi.
Mas Aksa, cepat pulang. Aku butuh kamu...
__ADS_1