It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Ketulusan Cinta


__ADS_3

Di gang sempit menuju rumah Aksa itu, Nada bersama Papanya berjalan.


Meskipun ragu saat Nada menghentikan langkahnya di depan rumah Aksa, tapi dengan rengkuhan tangan Pak Teguh di pundaknya membuatnya yakin memasuki teras rumah Aksa.


"Assalamu'alaikum.." ucap Pak Teguh dan Nada.


"Wa'alaikumsalam.." Pak Rendra menjawab salam itu dan keluar. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat kedatangan mereka. "Ada perlu apa ke rumah saya?"


"Ren, kita mau bicara."


"Ti.."


Perkataan Pak Rendra langsung dipotong oleh Bu Diana. "Nada, mari masuk.. Pak.." Bu Diana mempersilahkan mereka berdua masuk. Dia tarik tangan suaminya agar ikut duduk bersamanya untuk mendengarkan pembicaraan Nada dan Papanya.


"Yah, kali ini tekan dulu ego Ayah," bisik Bu Diana pada suaminya. Bagaimana keras kepalanya seorang suami pasti akan kalah dengan seorang istri.


Pak Teguh dan Nada kini duduk berseberangan dengan pemilik rumah. "Ren, aku tahu kamu masih kecewa sama masa lalu kita. Aku minta maaf sama kamu. Semua itu bukan keinginan aku, Ren. Almarhum Papa aku yang memaksa."


Pak Rendra hanya terdiam. Sebenarnya dia cukup muak dengan masalah ini.


"Sebenarnya aku tidak menjadi runner up di grammy award, aku sudah mengundurkan diri karena aku merasa harusnya bukan aku yang masuk nominasi itu."


Pak Rendra sedikit melebarkan matanya. Benarkah seperti itu?


"Oke, kalau kamu tidak percaya sama aku tidak apa-apa. Yang jelas aku benar-benar minta maaf sama kamu. Dari dulu aku sudah mencari keberadaan kamu, justru anak kita yang berhasil mempertemukan kita kembali."


"Ayah..." Bu Diana menyenggol sikut suaminya karena sedari tadi suaminya hanya terdiam saja. "Maaf ya Pak. Suami saya memang seperti ini."


"Aku mengerti. Sebenarnya bukan ini hal utama yang ingin kita sampaikan. Na..."


Nada mengeluarkan empat amplop dari tasnya. "Tante, saya tadi mau bertemu Aksa tapi tidak bisa. Saya ingin menyampaikan titipan dari kampus."


"Mau apa lagi? Aksa sudah keluar dari kampus. Sudah, kamu jangan pengaruhi Aksa lagi." kali ini Pak Rendra bersuara meski sangat menyakiti hati Nada.


"Yah, biarkan Nada bicara dulu."


"Ini surat resmi atas kemenangan Aksa dan undangan untuk mengikuti kompetisi lagi. Dan dua surat ini adalah permohonan maaf dari kampus dan teman-teman karena telah salah paham dengan Aksa." Nada meletakkan surat itu berjejer di atas meja.


Bu Diana mengambil surat itu lalu membacanya satu per satu. Matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Om Rendra, saya tidak keberatan kalau saya harus menjauhi Aksa, tapi tolong izinkan Aksa meraih cita-cita dia. Harapan Aksa sangat besar. Saya yakin dengan bakat Aksa, dia pasti bisa menjadi pianis hebat."


"Na, kamu tidak perlu melakukan ini," ucap Bu Diana sambil melirik Pak Rendra yang hanya menatap dingin.


"Tidak apa-apa tante. Mungkin ini yang terbaik. Saya cuma ingin Aksa bisa meraih impiannya." Setetes air mata kini lolos dari pelupuk matanya.


"Na, sudah ya. Kita pulang saja." Pak Teguh mengusap pundak putrinya agar sedikit tenang.


Nada menganggukkan kepalanya. Sebelum dia berdiri, dia menyerahkan sebuah surat yang dia tulis. "Tante, saya titip ini buat Aksa. Ini dari saya karena hp Aksa dari kemarin tidak bisa dihubungi."


Bu Diana menerima amplop itu lalu menatap nanar Nada. Dia kini berdiri dan mendekati Nada. "Na, kamu tidak harus pergi dari Aksa." Bu Diana memeluk Nada. Dia bisa merasakan ketulusan cinta Nada untuk putranya.


Nada mengeratkan pelukan Bu Diana, rasa haru semakin menyeruak kala pelukan hangat itu seperti kehangatan pelukan Mamanya yang telah tiada. "Tidak apa-apa tante." Meskipun sebenarnya Nada ingin merasakan pelukan itu lebih lama lagi tapi dia harus segera melepasnya. "Saya permisi tante." Nada mengusap asal air matanya yang terus mengalir itu.


"Ren, apa kamu tega melihat anak-anak kita yang tidak tahu apa-apa menjadi korban kesalah pahaman kita di masa lalu. Mereka berhak bahagia, Ren. Jalan cerita mereka harusnya tidak seperti ini." Pak Teguh menghela napas panjang lalu dia berdiri dan menyusul langkah putrinya.


"Kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Bu Diana terus menatap nanar kepergian mereka berdua. Setelah punggung mereka menghilang, kini Bu Diana duduk di samping Pak Rendra yang sedang membaca isi amplop itu satu per satu.


Hati Pak Rendra terasa tertusuk benda tajam. Selama ini dia egois hanya memikirkan sakit hatinya yang tak berujung. Benar perkataan Pak Teguh dan istri yang di sampingnya sekarang itu. Seketika tangis Pak Rendra pecah memikirkan apa yang telah dia perbuat pada putranya. "Ibu benar, Ayah egois. Tidak seharusnya Aksa jadi korban kekecewaan masa lalu Ayah."


Bu Diana merengkuh tubuh yang terlihat kuat tapi berhati rapuh itu.


"Yang penting sekarang kita lakukan yang terbaik untuk Aksa. Ikhlaskan semua Yah. Buang semua sakit hati yang mengganjal di hati Ayah. Insya Allah, hidup kita akan menjadi lebih baik."


...***...


Malam itu, tepat pukul 21.00, Aksa masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


"Aksa, kamu kelihatan capek sekali?"


Aksa mencium tangan ibunya yang menyambutnya di depan pintu.


"Iya, tadi ada resepsi pernikahan."


"Aksa, duduk sebentar Ayah mau bicara." Nada bicara Pak Rendra mulai lembut saat ini.

__ADS_1


"Aksa, capek mau istirahat."


Sebelum Aksa melangkahkan kakinya ke kamar, Bu Diana menarik tangannya agar duduk di sampingnya yang diapit oleh Ayahnya.


"Aksa, jawab jujur ya. Apa kamu masih mau melanjutkan kuliah kamu?"


Aksa hanya terdiam dan menundukkan pandangannya. Sejujurnya dia masih sangat ingin.


Pak Rendra merengkuh bahu Aksa. "Kamu lanjutkan perjuangan kamu. Kamu lanjutkan semua cita-cita kamu. Mulai sekarang Ayah tidak akan larang kamu."


Aksa terkesiap. Dia kini menatap wajah Ayahnya tak percaya.


"Ayah tidak akan egois lagi dan mengorbankan impian kamu. Tadi Nada dan Papanya ke sini, menyerahkan ini semua." Pak Rendra menunjukkan 4 amplop yang langsung dibuka Aksa satu per satu. "Masalah kamu sudah selesai. Mulai besok kamu kembali kuliah ya nak."


Dia sedikit tersenyum dengan mata yang telah berkaca. Dia sangat bersyukur, Allah telah memberikan jalan keluar secepat ini.


"Aksa, kamu cinta sama Nada?" tanya Bu Diana yang membuat dada Aksa berdebar tak karuan.


Belum juga Aksa menjawab, Pak Rendra sudah menimpali kalimat itu. "Kalau kamu cinta sama Nada, kejar dia sebelum terlambat. Ayah akan merestui hubungan kalian."


Senyum simpul merekah di bibir Aksa.


"Tapi, Nada tadi titip surat sama Ibu."


"Surat?"


Bu Diana memberikan surat yang masih tertutup rapat itu pada Aksa.


Aksa menerima surat itu lalu membukanya. Ada firasat tidak enak setelah Aksa membaca surat itu, apakah Nada akan pergi?


💞💞💞


.


.


.


🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2