
"Aksa, kamu sama siapa?" Pertanyaan itu membuat Nada menjadi salah tingkah.
Nada kini mendongak dan menatap seorang ibu yang tak lain adalah ibunya Aksara yang baru saja keluar dari rumah saat mendengar putranya datang.
Aksara mencium tangan ibunya. "Teman Aksa, Bu."
"Oo.."
"Nada, tante." Nada juga bersalaman dan mencium punggung tangan Bu Diana.
Bu Diana tersenyum. Memang baru kali ini Aksara mengajak teman gadisnya ke rumah. "Masuk dulu gih."
Nada mengangguk lalu mengikuti Aksara masuk ke dalam rumahnya. Dia kini duduk yang cukup berjarak dengan Aksara. Dia amati rumah Aksara yang memang tidak terlalu luas itu. Tapi cukup rapi dan bersih.
"Kenapa? Rumah gue gak kayak punya lo ya? Gak ada separuhnya mungkin."
"Ih, Aksa selalu aja bilang gitu." Nada menyandarkan punggungnya di kursi yang sudah lumayan tua itu. "Ngomong-ngomong lo berapa bersaudara?"
"Gue punya adik cewek masih SMA."
"Oo," Nada hanya mengangguk.
"Bentar ya. Lo pasti haus kan habis panasan." Aksara akan masuk ke dalam dapur tapi ternyata kalah cepat dengan ibunya yang sudah membawa dua gelas minuman dingin.
"Ibu, Aksa mau aja buat sendiri."
"Udah, gak papa. Duduk aja."
Aksara kembali duduk pada tempatnya. Sedangkan Bu Diana kini meletakkan dua gelas minuman di atas meja.
"Maaf tante merepotkan." kata Nada yang merasa sungkan sendiri.
"Tidak usah sungkan. Anggap aja kayak rumah sendiri."
"Tuh Na, anggap aja rumah sendiri ya. Nanti juga bakal jadi rumah sendiri kalau lo mau."
Seketika Nada menatap tajam Aksara.
Bu Diana hanya menggelengkan kepalanya. "Aksa, jangan gitu. Kalian udah makan? Kalau belum, makan dulu gih? Udah Ibu siapkan di dapur."
"Eh, hmm, udah tante."
"Udah? Kapan? Tadi kan cuma makan angin."
Lagi-lagi Nada hanya bisa menatap tajam Aksara.
"Makan dulu tidak apa-apa. Tidak usah sungkan. Aksa ajak, nak." suruh Bu Diana sekali lagi setelah itu dia berlalu menuju warung kecil dagangannya.
"Lo minum dulu gih." Aksara mengambil gelas yang berisi minuman dingin itu lalu meminumnya sambil melihat Nada yang langsung meneguk minuman itu sampai habis. "Haus banget? Nanti gue buatin lagi ya."
"Gak usah. Udah hilang hausnya."
"Ya udah. Makan dulu yuk?!"
Nada hanya terdiam tidak mengikuti Aksara berdiri.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Aksara sekali lagi sambil menarik tangan Nada. Sedikit memaksa memang, karena dia tahu gadis yang diajak ke rumahnya itu sedikit keras kepala.
Nada akhirnya menuruti Aksara. Dia kini mengikuti langkah Aksara menuju dapur yang satu ruangan dengan meja makan.
"Dimakan ya, seadanya." Aksara membuka tudung saji, dimana di dalamnya ada nasi, sayur sop, telor dadar, bakwan jagung, dan tak ketinggalan sambal.
Nada hanya menatap gerakan Aksara yang mengambilkan piring untuknya beserta sendok. Tapi Nada mencegah tangan Aksara saat akan mengambilkan nasi untuknya.
"Biar gue ambil sendiri." Lalu Nada mengambil satu entong nasi, kemudian lauk dan sayur.
"Kok dikit kalau ambil? Kenapa? Makanannya gak enak?" Aksara kini mengambil nasi untuknya sendiri sepiring penuh.
"Gue emang segini makannya. Lo aja yang makannya banyak banget kayak habis nguli aja."
Aksara tertawa sesaat. "Iya sih. Gue sadar diri kalau makannya emang banyak. Lo makan gih. Nanti kalau kurang nambah lagi."
Nada mulai memakannya. Satu suapan, dua suapan. Ada perasaan haru yang tiba-tiba terselip di dadanya. Semakin menyeruak dan menimbulkan genangan air di pelupuk matanya.
Kenapa gue tiba-tiba jadi kangen masakan Mama.
Nada segera mengusap air matanya yang berhasil lolos ke pipi.
"Eh, kok lo malah nangis sih? Kenapa? Makanannya gak enak?"
Nada menggelengkan kepalanya.
"Lah, terus? Gue jadi merasa bersalah kalau kayak gini? Udah, gak boleh makan sambil nangis." Aksara mengusap lembut air mata Nada yang berhasil lolos lagi.
"Gak tahu kenapa, gue tiba-tiba kangen sama masakan Mama."
Nada menganggukkan kepalanya. "Terakhir gue makan masakan Mama waktu masih SMA. Masakan Mama itu biasa saja, tapi sangat enak. Rasanya hampir sama kayak gini." Nada kembali makan dengan lahap.
"Kalau masih mau nambah aja gak papa."
"Boleh?"
"Ya jelas dong. Lo habiskan juga gak papa."
Nada kembali menambah nasi dan lauk pauknya. Dia memakannya lagi dengan lahap.
Aksara tersenyum kecil melihat Nada. Dia tidak mengira seseorang yang sombong dan keras kepala itu memiliki sisi lembut seperti ini.
Setelah selesai makan. Nada kini berdiri dan menumpuk piring kotor Aksara dengan miliknya.
"Udah, biar gue aja yang bersihin." Aksara mengambil alih piring kotor itu tapi Nada menahannya.
"Gak papa biar gue aja."
"Nanti pecah lagi kalau lo yang nyuci."
"Aksa, kalau gak belajar kapan bisanya."
Akhirnya Aksara membiarkan Nada untuk mencuci piring itu dan berdiri di samping Nada sambil terus menatapnya. Dia jadi membayangkan yang tidak-tidak tentang masa depannya. Apakah akan seindah itu.
"Gue kan juga mau belajar pekerjaan rumah, biar calon suami gue ntar gak kecewa-kecewa amat sama gue," cicit Nada sambil meletakkan piring dan sendok yang sudah bersih di atas rak piring.
__ADS_1
"Siapa calon suaminya?"
Nada hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Kalau belum ada kandidat, gue daftar ya." Aksara tersenyum sambil berlalu untuk menutup kembali tudung saji.
Meskipun perkataan Aksara hanya gurauan tapi sudah mampu menggetarkan dada Nada. "Formulirnya belum ada."
"Kalau udah ada hubungi gue ya."
"Ih, bercanda terus."
Aksara terkekeh sesaat. "Gue mau sholat dulu. Mau ikut?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Gue lagi gak."
Aksara justru menatap Nada. Entahlah apa yang ada dipikiran cowok tampan itu.
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu."
Tiba-tiba tangan Aksara terulur dan ingin melepas kacamata Nada tapi Nada segera menepis tangan Aksara.
"Mau ngapain lo?"
"Lo mirip seseorang."
Perkataan Aksara berhasil membuat detak jantung Nada lebih cepat. Apa Aksara kini mulai menyadarinya?
"Gue numpang ke kamar mandi ya. Dimana?"
"Tuh." Aksara menunjuk kamar mandi yang berada di ujung dapur.
Nada segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Sedangkan Aksara kini menunggunya dengan duduk di dekat meja makan. Dia masih saja memikirkan wajah Nada yang benar-benar mirip seseorang. Siapa ya?
Beberapa saat kemudian Nada keluar dari kamar mandi yang langsung berganti Aksara masuk ke dalam.
Nada kini duduk di ruang tamu menunggu Aksara sambil melihat ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
"Assalamu'alaikum.." terdengar suara seseorang yang diikuti dengan langkah kaki masuk ke dalam rumah.
Nada tersenyum saat melihat Pak Rendra masuk ke dalam rumah.
"Ada tamu. Temannya Aksa?"
"Iya Om," jawab Nada yang masih dengan senyumnya itu.
"Teman Aksa dari fakultas sastra juga?"
Sebenarnya Nada bingung dengan pertanyaan Ayah Aksara ini. Nada menggelengkan kepalanya. "Bukan Om, dari fakultas musik."
"Oo, gak sama kayak Aksa."
"Sama, Om."
"Maksud kamu?"
__ADS_1