
Full plus plus lagi.. Totalitas tanpa batas... Yang gak terlalu suka skip-skip next ya... Oke.. 😁
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨*...
Mereka saling menatap lekat. "Sudah lebih tenang kan? Aku akan mulai ya." Aksa memposisikan dirinya di antara kedua pa ha Nada.
Saat wajah Nada kembali menegang, Aksa mencium bibirnya dengan lembut. Setelah Nada kembali terbuai, Aksa mulai mengarahkan miliknya. Berusaha menerobos pintu yang masih sangat sempit itu. Baru saja ujungnya, Nada sudah meringis dan sedikit bergerak hingga Aksa gagal memasuki.
"Sayang sebentar ya. Tenang dulu." Tangan kiri Aksa mengusap lembut rambut Nada ahar lebih tenang.
"Sakit."
"Baru juga dikit. Rileks ya jangan tegang biar gak tambah sakit." Aksa kembali memposisikan miliknya. Dia tahan pinggul Nada dengan satu hentakan cukup kuat akhirnya bisa masuk setengahnya.
Baru setengah saja, ujung mata Nada sudah mengembun. Nada menggigit bibir bawahnya sendiri saat teriakannya akan lolos.
"Aksa, sakit."
Aksa masih tidak bergerak. Dia menunggu Nada cukup tenang, dia mengerti ini pasti sangat sakit karena memang pintu yang berusaha dia terobos itu terasa sangat sempit.
"Maaf ya sayang." Aksa mengusap lembut setetes air mata yang ada di ujung mata Nada. "Kita harus melewati ini dulu. Sakit-sakit dahulu baru enak-enak kemudian."
"Ih," seulas senyum mengembang di bibir Nada karena candaan dari Aksa. "Itu udah masuk semua? Kok rasanya udah penuh banget."
"Belum masih setengah."
Nada melebarkan matanya. Baru setengah rasanya sudah sesakit itu. Benda tumpul tapi rasanya bisa setajam pisau kalau menusuk.
"Sakit. Gak jadi deh. Kamu lepas lagi ya." rengek Nada.
"Nanggung," jawab Aksa tenang. Kemudian dia kembali mencium Nada dengan lembut. Tangannya sudah beroperasi menciptakan sensasi yang akan memacu kembali gairah Nada hingga dia lupa akan rasa sakitnya.
Dia bisikkan kata-kata cinta di telinga Nada sambil sesekali menyapu telinga Nada dengan bibirnya.
Saat napas Nada sudah memberat yang lengkap dengan suara indahnya, Aksa kembali menghentakkan miliknya cukup kuat hingga berhasil terbenam seluruhnya.
__ADS_1
Nada memekik tertahan. Rasanya ada sesuatu yang robek di bawah sana. Terasa sangat perih dan memanas.
Mata Nada kembali mengembun.
"Maaf sayang." Aksa mengecup embun yang berada di ujung mata itu. Lalu dia usap lembut pipi Nada.
"Sakit banget."
"Iya sayang. Aku tahu. Bentar ya, pasti nanti rasanya akan berganti jadi nikmat." Aksa kembali mencium bibir itu dengan lembut lalu ciumannya turun ke leher jenjang Nada dan terus memberi sensasi pada Nada.
Setelah dirasa Nada mulai terlena, Aksa mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan.
Nada kembali menggigit bibir bawahnya saat merasakan milik Aksa bergerak dengan sesak. Meski masih sangat pelan tapi rasanya sudah panas dan perih.
"Aku sayang kamu, Na. Aku cinta sama kamu." Aksa kembali mencium bibir itu. Memagutnya semakin dalam seiring rasa nikmat yang kian menjalar ke sekujur tubuh.
Peluh sudah membanjiri kulit mereka yang saling bersentuhan itu. Mereka kini saling berpandangan dengan lekat merasakan sensasi nikmat yang semakin terasa.
Nada mulai mengikuti alur pergerakan Aksa. Dia kalungkan tangannya dileher Aksa sambil menatap wajah yang semakin tampan saat di bakar gelora itu.
Nada hanya mengangguk kecil.
Aksa semakin menambah tempo gerakannya. Dia hujam semakin cepat dan dalam. Suara deru napas dan desa han tertahan memenuhi kamar sempit yang semakin panas itu. "Kamu nikmat sayang. Terasa sempit dan menggigit." Kata-kata erotis sudah tidak malu lagi dia ucapkan di dekat telinga Nada.
Nada semakin meracau, ada sesuatu yang rasanya akan meledak di bawah sana. "Aksa..." panggil Nada disela suara lenguhannya. Sejak dia diliputi gairah, panggilan Mas sudah terlupa. Tapi Aksa justru senang saat Nada menyebut namanya dengan sexy. "Aksa, rasanya ada sesuatu yang..." suara Nada terbata.
Aksa mengerti. Pasti Nada akan meraih puncaknya. Dia semakin mempercepat hujamannya.
"Aksa.. Hmmpp.."
Aksa membungkam bibir Nada dengan bibirnya saat suara Nada semakin keras. Dia rasakan rema san di bawah sana yang membuat Aksa semakin mabuk kepayang.
Nada nampak mengatur napasnya. Dia tatap Aksa yang masih saja belum menyudahi permainannya.
"Enak?" tanya Aksa yang hanya dibalas senyuman kecil oleh Nada. Meskipun rasa sakit itu masih terasa tapi kini sudah bercampur menjadi rasa nikmat.
__ADS_1
Tenaga Aksa seolah masih penuh. Dia masih saja bergerak aktif di atas tubuh Nada sampai gelombang dahsyat itu siap menerjangnya. "Na..." Dia mempercepat gerakannya dengan menenggelamkan wajahnya di leher Nada. "Aku mau sampai." Aksa menge rang tertahan di leher Nada saat menuntaskan semua hasratnya.
Terasa hangat memenuhi bagian bawah Nada.
"Makasih sayang." Satu kecupan mendarat di kening Nada saat Aksa melepas penyatuannya.
Meski sudah dilepas, Nada masih saja merasakan milik Aksa tertinggal di dalam sana.
"Punya kamu gak ketinggalan di dalam kan? Kok rasanya masih ngeganjal gini."
Aksa tersenyum simpul. Dia sangat gemas dengan kalimat Nada yang terkadang terlewat polos itu.
"Nggak. Nih masih utuh. Pegang deh. Udah bangun lagi malah."
Mendengar kata bangun, Nada melebarkan matanya lalu dia memunggungi Aksa.
Aksa meraih tubuh yang masih polos itu dalam pelukannya. "Satu kali lagi ya," bisik Aksa di dekat telinganya.
"Ih, masih sakit."
"Yang kedua pasti ada manis-manisnya. Buktinya tadi kamu sampai bilang gini, Aksa, enak, Aksa, more faster," ucap Aksa menirukan suara Nada lengkap dengan desa hannya dengan sedikit dimodifikasi.
"Ih, aku gak bilang gitu." Nada kini membalikkan badannya akan mencubit pinggang Aksa tapi kesempatan itu justru diambil Aksa. Dengan gerak cepat Aksa merubah posisi tubuhnya hingga menindih tubuh polos Nada.
Mereka kembali bertatapan lekat. Lagi-lagi Nada telah terbuai oleh sentuhan si perayu ulung. Dan hal panas itu terulang lagi untuk kedua kalinya.
.
.
💞💞💞
.
Author gak lihat loh ya. Tadi udah di bacakan do'a sama Aksa jadi authornya melipir. 🤭🤭
__ADS_1