It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Tetap Tenang


__ADS_3

Setelah sholat dhuhur, Aksa duduk sebentar di depan musholla sambil melihat ponselnya.


"Ayah?" Aksa sedikit menyipitkan matanya saat mendapat pesan dari Ayahnya. Memang selama ini Ayahnya tidak pernah mengirim pesan jika tidak hal yang penting.


Aksa, kamu pulang jam berapa? Langsung pulang ya...


Begitulah isi pesan whatsapp dari Ayahnya. Seketika perasaan Aksa menjadi tidak enak. Sedari tadi dia memang sangat memikirkan Nada, ditambah beberapa chat whatsapp nya tidak dibalas Nada.


Sebenarnya acara utama pemberian penghargaan pada pemenang lomba sudah selesai tapi masih ada sedikit wawancara dengannya.


"Kayaknya aku harus pulang sekarang." Aksa segera berdiri dan berbicara sesaat dengan penyelenggara acara itu.


"Saya benar-benar minta maaf. Mungkin lain kali kita bisa melakukan sesi wawancara secara online." Setelah memberi penjelasan alasannya untuk pulang lebih cepat, akhirnya Aksa bisa pulang terlebih dahulu.


"Iya Pak, kami mengerti. Semoga tidak terjadi apa-apa. Hati-hati di jalan. Tetap fokus, jangan mengebut."


"Iya Pak, terima kasih."


Aksa mempercepat langkahnya menuju tempat parkir. Sekarang sudah pukul satu siang berarti sekitar pukul 3 sore dia akan sampai di rumah.


Aksa masuk ke dalam mobilnya, sesaat sebelum melajukan mobilnya, dia menghubungi Ayahnya tapi tidak diangkat.


Aksa menghela napas panjang.


"Bismillah, semoga tidak terjadi apa-apa." Aksa mulai melajukan mobilnya. Kebetulan jalanan tidak terlalu macet sampai dia masuk ke ruas jalan tol.


Aksa menambah laju mobilnya saat melewati jalan tol. Meski demikian, dia masih bisa mengontrol kecepatan laju mobilnya. Dia harus tetap fokus meskipun tergesa.


Dua jam perjalanan terasa sangat lama. Dia menarik napas panjang ketika telah sampai di pintu exit jalan tol di Singosari. Sedikit terjadi kemacetan di wilayah Arjosari.


Keringat mulai membasahi pelipisnya. Setidaknya masih butuh waktu 15 menit lagi untuk sampai di rumah.


Kemacetan telah terlewati. Aksa segera tancap gas, dan mempercepat laju mobilnya.


Dia menghentikan mobilnya di halaman depan rumahnya. Buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang tidak ada siapa-siapa.


"Mbak Sumi, Nada dimana?" Aksa nampak mengatur napasnya karena dia mencari keberadaan Nada yang tidak ada di rumah.


"Alhamdulillah Pak Aksa udah pulang. Mbak Nada mau melahirkan, Pak. Sudah berangkat ke rumah sakit dua jam yang lalu."


"Ya Allah Nada, kenapa gak ada yang bilang kalau Nada mau melahirkan." Aksa segera berbalik dan berlari keluar dari rumah. Tanpa berganti baju bahkan tanpa minum terlebih dahulu meski tenggorokannya terasa sangat kering. Dia segera masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit bersalin.


Perjalanan yang hanya memakan waktu 10 menit itu terasa sangat lama. Tangannya telah berkeringat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan Nada tanpanya.


Setelah sampai di tempat parkir rumah sakit, Aksa segera keluar dan berlari menuju resepsionis rumah sakit.

__ADS_1


"Ruang bersalin di sebelah mana? Atas nama Nada?" tanya Aksa dengan tergesa.


"Ibu Nada masih dalam ruang observasi. Ruang observasi dan bersalin ada di lantai dua."


"Terima kasih." Aksa segera berlari menuju lift. Untunglah dia tiba tepat saat pintu lift terbuka. Setelah sampai di lantai dua, Aksa segera berlari keluar dari lift. Dia melihat Ayahnya dan Pak Teguh duduk di depan ruangan. Sedangkan Satya berdiri tak jauh dari sana.


"Ayah." Aksa mengatur napasnya terlebih dahulu.


"Aksa, untung kamu udah datang. Nada ada di dalam sama Ibu."


Aksa segera masuk ke dalam ruangan. Hatinya seketika berkabut melihat Nada yang duduk sambil meringis menahan sakit. Dia berjalan mendekat.


"Sayang, maafin aku baru datang." Aksa langsung meraih Nada dalam pelukannya. Setetes air mata meleleh dari matanya.


Perasaan Nada seketika menghangat. Memang pelukan dari suami adalah yang paling nyaman.


"Sejak kapan kontraksinya? Kenapa kamu tadi pagi gak bilang sama aku?"


"Setelah Mas Aksa berangkat." jawab Nada dengan suara bergetarnya.


"Ya Allah Na. Kamu bisa langsung bilang sama aku biar aku langsung putar balik. Aku gak bisa bayangin kalau seandainya aku gak bisa menemani kamu berjuang."


"Ada Mama Mas."


Aksa melepas pelukannya lalu dia berlutut di hadapan Nada. Dia usap wajah yang telah berpeluh itu.


Mereka saling menatap dengan mata yang sama-sama mengembun. "Mas, langsung ke sini? Gak ganti baju dulu? Gak istirahat dulu?"


"Kenapa kamu masih mikirin aku? Kamu konsentrasi pada kelahiran buah hati kita ya. Aku yakin semua pasti lancar."


Aksa mengusap perut Nada sambil memejamkan mata sesaat. Dia bacakan beberapa do'a sebelum melahirkan untuk istrinya. Setelah itu dia berdiri dan meletakkan tangannya di puncak kepala Nada sambil mengusapnya kecil lalu melanjutkan do'a nya.


Nada semakin berdesis menahan sakit.


"Sayang, tambah sakit?" tanya Aksa lalu mengusap perut Nada.


"Iya Mas."


Melihat Nada kesakitan seperti ini, jantungnya bagai diremat sesuatu. Dia terus mendo'akan kelancaran istrinya.


"Wah, calon Ayah sudah datang. Saya cek lagi ya," kata Dokter kandungan yang menangani Nada. "Pembukaannya langsung sempurna ada Ayah yang menemani. Kita pindah ke ruang bersalin sekarang. Pakai kursi roda ya."


Suster meraih infus yang telah terpasang lalu Aksa mengangkat Nada dan mendudukkannya di kursi roda untuk pindah ke ruang bersalin.


Perut Nada sudah terasa sangat mulas, bahkan mulai ada dorongan dari dalam.

__ADS_1


Aksa mengangkat Nada dan menurunkannya di bed khusus bersalin. Dengan posisi setengah duduk dan kaki diletakkan di alat penopang hingga bisa terbuka lebar.


Di sisi Nada, Aksa terus berdzikir dalam hatinya sambil menggenggam erat tangan Nada.


"Mas sakit sekali..." Nada sampai menggertakkan giginya menahan rasa sakit.


"Iya sayang. Kamu hebat, kamu pasti bisa."


"Bunda jika mulai ada dorongan dari dalam langsung mengejan ya. Letakkan dagu pada dada, jangan menutup mata terlalu rapat. Mengejan seperti buang air besar dalam hitungan 10 lalu tarik napas lagi dan lakukan berulang sampai tiga kali."


Apa yang dibicarakan oleh Dokter sudah tidak masuk dalam otak Nada. Saat ini dia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.


Dia hanya menempelkan dagunya di dada, saat terasa dorongan yang kuat, dia mulai mengejan dengan sekuat tenaga.


"Bagus bunda. Hitungan ke 10 tarik napas lagi lalu mulai mengejan lagi. Iya, bagus. Rambutnya sudah terlihat."


Tangan Aksa yang sedari tadi menggenggam tangan Nada terasa semakin berkeringat dingin. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Nada saat ini.


Nada nampak menarik napas dalam. "Mas, aku gak kuat Mas..."


Perkataan itu seperti menghantam dada Aksa. "Na, kamu bisa. Kamu pasti bisa sayang. Tinggal sedikit lagi..."


Dorongan itu kembali terasa. Nada mulai mengejan dengan sekuat tenaganya.


Aksa tak hentinya memberi motivasi pada Nada.


"Iya, bagus kepalanya sudah terlihat."


Nada kembali mengambil napas lagi lalu mulai mengejan dengan sekuat tenaganya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara tangis bayi yang cukup keras.


"Alhamdulillah, bayinya sangat sehat, normal, dan cantik." Dokter itu mengelap tubuh bayi sesaat lalu meletakkan di atas dada Nada.


Kedua orang tua baru ini menangis bahagia menatap buah hati tercintanya bergeliat gemas di dada Nada.


Aksa mendekatkan dirinya ke telinga bayinya, dengan volume rendah dan lembut dia mengumandangkan adzan lalu iqomah.


Rasa haru semakin menyeruak di dada Nada. Kini hidupnya terasa sangat sempurna.


"Makasih sayang." satu kecupan kini mendarat di pipi Nada. "Kamu ibu yang hebat."


"Ini berkat do'a-do'a Mas Aksa."


Nada dan Aksa kini melihat putri kecilnya yang sudah berhasil menemukan sumber kehidupannya dan mulai menghisapnya.

__ADS_1


"Melodi Nara Danendra..."


__ADS_2