
Cerita teen baru aku yang bergenre isekai. Dimana pemeran utamanya masuk ke dalam cerita sebuah novel. Jangan lupa mampir. Jadikan favorit dan beri dukungan. Sudah up, yuk langsung ke profil.
Akan up setiap hari mulai bulan depan sama dengan novel satunya godaan sang mantan.
Novel ini juga ikut event noveltoon ya... Mohon dukungannya kawan.. 😘
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
Plak!!
Aulia menutup sebuah buku novel yang baru selesai dia baca cukup keras karena dia sangat kesal dengan ending cerita itu. "Katanya novel teen kenapa alur ceritanya berat banget. Udah gitu di akhir cerita kenapa Sri harus bunuh diri karena dilecehkan gurunya. Hah!! Gak pinter yang buat cerita. Pantes judulnya Sri Oh Sri dan gak laku di pasaran." Kemudian dia merapikan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang.
Aulia adalah seorang dosen sastra muda di salah satu fakultas negeri di Kota Malang. Dia cantik dan tentu saja sangat pintar.
"Bu Aulia mau pulang?" tanya salah satu mahasiswa yang berpapasan dengannya di lorong kampus.
"Iya," jawabnya sambil melempar senyuman manis. Selain cantik dan pintar, Aulia adalah salah satu dosen yang sangat ramah. Bahkan dia merupakan idola para mahasiswa di fakultas sastra.
"Hati-hati Bu, hujannya sangat deras."
Aulia menatap langit siang menjelang sore itu yang sangat gelap dengan kilatan petir bersahutan. "Iya."
"Saya permisi dulu."
Aulia mengangguk lalu dia mengambil ponselnya. "Aku udah ada janji sama Mas Arka, pasti Mas Arka sudah menunggu aku di butik."
Bagai ada sambungan khusus, Arka, calon tunangan Aulia menghubunginya setelah Aulia memikirkannya.
"Iya hallo, Mas."
"Kamu aku jemput ya. Hujannya deras sekali." Terdengar suara Arka di seberang sana.
"Gak usah Mas. Aku bawa mobil sendiri."
"Ya udah kalau begitu tunggu sampai hujannya reda. Aku tunggu di butik."
__ADS_1
"Mas udah sampai butik?"
"Iya. Tidak apa-apa aku tunggu kamu. Santai aja."
"Iya Mas." Aulia memutuskan panggilan Arka.
Aulia duduk di depan kelas menunggu hujan sedikit mereda. Dia tersenyum sendiri membayangkan rencana pertunangan yang tinggal dua hari lagi. Bagi Aulia, Arka adalah lelaki yang sangat sempurna. Dia baik, sabar, dan sangat penyayang. Selain wajah tampannya tentu jenjang karirnya sangat bagus di Hans Group, salah satu perusahaan terbesar di kota ini.
"Lama sekali hujannya. Gak tambah reda tapi tambah deras." Aulia akhirnya berdiri. "Daripada Mas Arka menunggu lama, lebih baik aku ke sana sekarang."
Aulia berjalan menuju tempat parkir. "Lin, saya bareng ke tempat parkir." Aulia mendekat dan ikut berteduh di bawah payung yang di pegang Lina, salah satu mahasiswinya.
"Iya bu," Lina berjalan sejajar dengan Aulia sampai mobil.
"Makasih ya." Aulia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Dia letakkan buku-bukunya di jok sebelah setelah itu dia menghidupkan mesin mobilnya.
"Tambah deras banget." Aulia menghela napas panjang. "Semoga gak ada banjir di jalan." Beberapa saat kemudian Aulia mulai melajukan mobilnya keluar dari parkir kampus. Derasnya air yang menimpa kaca mobilnya membuat pandangan Aulia kabur meski wiper terus menyapunya.
Aulia sedikit menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai. Tapi nahas, saat dipertigaan, dia tidak melihat ada truk yang berbelok ke arahnya. Kencangnya laju truk itu tak bisa dihindari mobil Aulia.
Beberapa pengguna jalan seketika berhenti. Warga sekitar berkerumun untuk menolongnya.
Aulia hanya samar-samar mendengar keributan itu. Kepalanya terasa sangat sakit dan berat, setelah itu dia sudah tidak mendengar apa-apa lagi.
...***...
Arka menunggu Aulia dengan harap-harap cemas. Terakhir kali chat dari Aulia mengabari jika Aulia akan berangkat ke tempatnya.
Dia berdiri dan menghubungi Aulia kembali. Tapi nomornya justru tidak aktif.
"Aulia kamu dimana?" Perasaan Arka semakin tidak tenang. Beberapa kali panggilan masih saja tidak terjawab.
Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk dari orang tua Aulia.
"Ka, Aulia kecelakaan."
Dada Arka bagai dihantam benda keras. "Kecelakaan??" Arka segera keluar dari butik dan masuk ke dalam mobilnya. Dia lajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Aulia kamu harus baik-baik saja."
Sampainya di rumah sakit, Arka langsung berlari menuju IGD, dimana kedua orang tua Aulia sedang menangis di sana.
"Bagaimana keadaan Aulia?"
"Aulia harus menjalani operasi karena ada pendarahan di otaknya."
Arka sudah tidak sanggup bicara lagi. Dia tekan ujung matanya yang mulai mengembun. Bahkan kini dia tidak bisa hanya duduk diam saja.
Dia mengikuti kedua orang tua Aulia untuk menunggu di depan ruang operasi. Dia berjalan ke sana ke mari tak beraturan dengan sesekali bersandar di tembok.
Operasi yang berlangsung beberapa jam terasa sangat lama.
Aulia kamu harus kuat. Sebentar lagi kita akan tunangan...
Arka akhirnya duduk di kursi tunggu sambil menundukkan kepalanya. Dia terus berdo'a dalam hatinya agar Aulia berhasil melewati operasi ini.
Setelah tiga jam berlalu, dokter yang menangani operasi Aulia keluar. Wajahnya nampak lelah dan sedih.
"Bagaimana keadaan putri kami?" Kedua orang tua Aulia langsung bertanya pada dokter itu.
"Kami mohon maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Putri bapak mengalami koma."
Dada Arka bagai teremat sesuatu. Dia berlari dan menerobos masuk ke dalam ruang operasi tepat saat Aulia akan dipindahkan ke ruang ICU.
"Aulia bangun!!!" Air mata itu sudah tidak bisa Arka bendung lagi. Dia menangis sambil memegang tangan Aulia. "Aulia aku mohon bangun."
"Arka, sabar..."
"Auliaa.."
Mas Arka!!
Aulia membuka matanya. Tapi tempat itu sangat asing baginya.
"Aku dimana?"
__ADS_1