
"Happy anniversary, Mas." seru Nada sambil memeluk suaminya yang sedang menggendong Melodi.
Aksa mengulum senyum lalu mencium pipi bulat bayi yang sudah berumur tiga bulan itu.
"Kirain lupa," kata Aksa.
"Ih, Mas Aksa tuh yang lupa. Dari tadi aku udah nunggu kejutan dari Mas Aksa tapi gak peka."
Aksa tertawa kecil lalu menimang melodi yang sudah mulai mengantuk. "Melo mau tidur nih."
"Emang anak Papa. Dari tadi udah nen sampai kenyang gak tidur-tidur. Giliran di gendong Papanya langsung tidur. Ih, gemesin." Nada melepas pelukannya lalu tangannya beralih pada pipi bulat Melo yang sudah terlelap.
"Aku punya kejutan buat kamu," bisik Aksa yang membuat pipi Nada seketika merona. "Sebentar aku turunin Melo di box dulu." Dengan lembut Aksa menurunkan Melodi yang telah terlelap. Dia kini menggandeng tangan Nada dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Mau kemana Mas?"
"Ke kamar atas."
"Melo?"
"Aku udah bilang sama Mbak Sumi untuk jaga Melo malam ini."
Pipi Nada semakin bersemu merah. Apakah malam ini akan menjadi malam yang panjang dengan Aksa?
Di dekat pintu kamar, Sumi sudah berdiri dan siap menjadi baby sitter Melodi semalaman. "Tenang Mbak Nada. Dedek Melo aman sama saya. Nanti tiap dua jam biar saya hangatkan ASIP nya. Semangat Mbak buat adiknya Melo."
"Ih, apaan sih Mbak. Cuma bentar, nanti aku balik lagi ke sini."
Aksa justru merengkuh bahu Nada. "Kita semalaman di atas." bisik Aksa sambil mengajak Nada untuk segera menaiki tangga.
"Mas, nanti Melo nangis."
"Kalau nangis kan kedengeran sampai atas. Kamu tenang ya, Melo gak akan serewel itu. Udah aku bisikin tadi di telinganya mau pinjam mamanya buat malam ini."
Nada hanya menelan salivanya. Menghabiskan semalaman dengan Aksa? Memang sebelumnya dia sudah berkonsultasi kb dan sudah mencobanya dengan Aksa, meski dengan durasi singkat karena selalu di ganggu oleh rengekan Melo.
Mata Nada membulat saat Aksa membuka kamar atas. Kamar utamanya dulu sebelum dia hamil.
Dengan sinar temaram dan berhiaskan kelopak bunga, pintu balkon juga terbuka. Aksa menuntun Nada menuju teras balkon. Sudah ada karpet rasfur dan dua bantal kecil di sana, di dekatnya ada meja kecil yang lengkap dengan minuman hangat dan cemilan.
"Duduk sini, kita ngobrol sambil melihat indahnya langit." Aksa duduk terlebih dahulu yang disusul oleh Nada.
__ADS_1
"Mau ngobrol apa?"
"Mengenang perjalanan kita." Aksa mengambil minuman coklat hangat dan diberikan pada Nada. "Kamu minum dulu biar hangat. Udaranya dingin soalnya musim kemarau." Aksa beralih mengambil selimut dan menutupi punggung mereka berdua.
"Jadi kejutannya apa?" tanya Nada setelah meneguk pelan minumannya.
"Ya, ini." Aksa tersenyum kecil. "Aku gak pandai buat kejutan. Itu bunganya aku tabur di atas ranjang, with aroma therapy."
"Kayak malam pertama aja." Nada meletakkan kembali gelas yang tinggal separuh di atas meja kecil lalu dia menyomot french fries yang juga masih hangat.
Aksa tertawa mengingat malam pertamanya dengan Nada di kamar sempitnya. "Dulu kita malam pertama di kamar sempit aku. Sekarang kita ulangi malam pertama kita ya. Tapi tenang gak bakal sakit kayak dulu, malah makin enak."
Nada mencubit kecil pinggang Aksa tapi sedetik kemudian dia menyandarkan dirinya di bahu Aksa.
Aksa semakin mengeratkan rengkuhannya. "Gimana kesan dan pesan selama satu tahun pernikahan kita?" tanya Aksa sambil menarik selimut hingga menggulung tubuh mereka.
"Kesan dan pesan? Mas Aksa itu suami yang terbaik buat aku dan Papa terbaik buat Melo."
"Aku kayak gini juga karena kamu, Na. Tapi pernah gak kamu kesal sama aku?"
"Ya, pernah Mas. Namanya manusia. Mungkin Mas Aksa yang sering kesal sama aku karena aku sering cerewet."
"Ya, kadang sih emang. Tapi kan aku dari dulu udah tahu kalau kamu cerewet."
"Aku jadi teringat awal kita bertemu Mas. Boleh minta foto?" Nada tersenyum kecil. "Ternyata dulu foto sama calon suami sendiri."
"Foto itu masih tersimpan, Na. Dan udah aku buat status malah. Kamu gak lihat?"
Nada mengernyitkan dahinya. "Status? Yah, aku gak bawa hp."
"Untuk malam ini gak perlu hp." Aksa semakin mengeratkan pelukannya lalu menciumi pipi Nada. "Aku sayang banget sama kamu, Na.
"Aku juga sayang banget sama Mas Aksa."
Ciuman yang awalnya di pipi kini berpindah ke bibir Nada. Memagutnya dengan lembut yang semakin lama semakin bergelora saat angin malam menerpa tubuh mereka. Tangan Aksa sudah melepas satu per satu kancing piyama terusan Nada. Dia usap lembut dua benda bulat yang semakin berisi itu, hanya sesaat karena masih menjadi hak milik Melodi. Tangannya semakin turun dan diam-diam merayap di antara paha Nada yang membuat Nada melenguh secara spontan.
"Ehmm, Mas."
Aksa hanya tersenyum menatap wajah Nada yang telah memerah. Tangannya semakin aktif menciptakan sensasi yang membuat Nada semakin berdesis merdu.
Entah sejak kapan Nada sudah pasrah di bawah kungkungan Aksa dengan tubuh polosnya.
__ADS_1
"Mas, serius mau lakuin di sini?"
Aksa mengangguk lalu menyudahi jemarinya bermain di bawah sana karena sudah sangat basah.
"Nanti tetangga dengar Mas."
"Ya, jangan teriak-teriak."
"Otomatis Mas. Gak bisa terkontrol."
Aksa melepas semua pakaiannya lalu kembali mengungkung Nada dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Kita bermain di bawah selimut. Nikmati udara malam hari dengan cara yang berbeda. Belum pernah merasakan di rooftop kan?" Aksa kembali menyambar bibir Nada, semakin dalam dan menuntut hingga terdengar suara decapan yang ikut terbang dibawa angin.
Setelah melepas pagutannya, seperti biasa Aksa selalu membaca do'a pengantar perjalanan nikmat mereka.
Nada mengalungkan tangannya di leher Aksa saat merasakan guncangan dari Aksa. Rasanya semakin penuh di bawah sana. Entahlah karena milik Aksa yang semakin besar atau karena punya Nada yang semakin sempit karena terjahit. Tapi kalau soal rasa jangan ditanya lagi, baru sesaat saja sudah membuat Nada mabuk kepayang.
"Na, makin greget rasanya."
Pipi Nada terasa semakin memerah, hal yang paling dia suka adalah menatap wajah tampan Aksa yang sedang berselimut gairah, dengan poni rambut yang teracak menutupi jidatnya. "Punya Mas Aksa mungkin yang tambah besar, masak iya punyaku jahitnya kelebihan."
Aksa hanya tersenyum lalu menenggelamkan dirinya di leher Nada. Menghisap dan menjejaki yang membuat Nada semakin melenguh nikmat dan membuat Akasa semakin bersemangat menambah ritme gerakannya.
Selimut yang awalnya menutupi tubuh mereka berdua, kini telah terlepas. Dinginnya angin malam sudah tidak mempan lagi melawan hawa panas yang mereka ciptakan berdua.
Nada semakin mencakar punggung Aksa saat gelombang nikmat itu akan segera menerpanya. Pompa an Aksa semakin cepat, hingga membuat tubuh Nada kini menggelinjang dan kedutan berulang semakin me re mas milik Aksa.
"I love you, Na..." ucapan cinta selalu terucap saat Aksa telah mencapai pelepasannya.
Satu kecupan kini mendarat di bibir Nada lalu dia melepas miliknya. Dia bangkit dan mengangkat tubuh Nada. "Kita nikmati lagi di dalam."
Nada hanya tersenyum.
Pintu rooftop telah tertutup. Kini suara nikmat itu terulang lagi. Menikmati malam panjang berdua. Memadu cinta tiada henti.
.
.
💞💞💞
__ADS_1
Sebenarnya ini udah tamat ya, tapi ada sedikit bab lagi pengantar menuju seasion dua.. ðŸ¤ðŸ¤