It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Kebusukan Seorang Sahabat


__ADS_3

Radit cukup bingung dengan perkataan Aksara. Dia masih saja berpura-pura. "Maksud lo apa? Gue gak ngerti!"


"Punya otak itu buat mikir. Jangan bisanya cuma buat mesum!" kata Aksara sambil berlalu meninggalkan Radit. Jujur saja dia begitu ingin menghajar Radit yang sangat munafik itu.


Aksara kini duduk di bangkunya, dia berusaha meregangkan otot-ototnya yang menegang.


Beberapa teman mereka mulai masuk ke dalam kelas dan pandangan mereka langsung tertuju pada Nada yang berpenampilan beda.


"Nada? Lo itu sebenarnya Nada Azalea?" tanya salah satu teman sekelas Nada yang ternyata juga tahu tentang Nada Azalea.


"I-iya."


"Ya ampun, lo udah jadi superstar kenapa masih kuliah. Gak nyangka gue." Beberapa teman mulai bergerombol mengelilingi Nada.


"Ngapain kalian kumpul di sini. Ini bukan tontonan." usir Aksara karena melihat Nada yang mulai tidak nyaman.


"Dasar Aksa! Lo tuh ada cewek cantik gercep aja."


Nada bernapas lega saat mereka sudah kembali ke tempatnya. Dia kini memutar badannya dan tersenyum pada Aksara yang duduk di belakangnya. Mereka mulai mengobrol sambil tertawa sesaat sebelum kelas dimulai.


Nada Azalea? Radit tersenyum miring melihat kedekatan mereka berdua. Entah apa yang dia rencanakan?


...***...


Setelah kelas selesai, seperti biasa Aksara membantu Reno membawa hasil tugas phortopolio ke ruang dosen.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Nada? Kelihatannya berkembang pesat ya." kata Reno yang kini duduk di kursinya.


Aksara meletakkan setumpuk kertas di meja Reno lalu menjawab pertanyaannya. "Iya Pak. Saya sama Nada sudah mulai ke tahap serius."


"Syukurlah. Nada berada di tangan orang yang tepat. Oiya, pengumuman kompetisinya besok. Semoga kamu terpilih ya."


Aksara mengangguk. Mereka mengobrol sesaat seputaran kompetisi di ruang dosen.


Sedangkan di kelas, selesai berbicara dengan Santi, Nada kini bangkit dari tempat duduknya. Sangking asyiknya mengobrol dia sampai tidak merasa kalau kelas telah sepi. Tunggu dulu, masih ada satu nyawa yang tersisa selain dirinya yaitu Radit.


Nada kini berdiri, dia tidak mau lagi melihat tatapan Radit yang dia rasa mengerikan itu. Seperti seekor serigala yang akan menerkam mangsanya.


"Na." tiba-tiba saja Radit menghalangi langkah Nada.


"Ada apa? Gue mau pulang." Nada menggeser langkahnya tapi gagal untuk melewati Radit.

__ADS_1


"Lo beneran jadian sama Aksa atau cuma pura-pura?"


Nada tersenyum miring, ternyata ini kelakuan sahabat Aksara itu di belakangnya. "Bukan urusan lo."


"Ya gue cuma gak mau aja lo jadi korban Aksa selanjutnya."


Nada melipat tangannya. Apalagi yang akan dikatakan sahabat busuk itu selanjutnya.


"Lo tahu kan Aksara itu playboy, lo cuma bakal sakit hati aja sama dia."


"Oo, terus maksud lo ngomong gitu apa? Aksara kan sahabat lo, kenapa lo bisa jelekin dia?!"


Radit justru semakin mendekat, Nada semakin mundur. Dia harus berhati-hati. Yang dihadapannya sekarang bukan hanya seorang buaya, tapi seorang serigala yang bisa saja nekat menerkam mangsanya.


"Kalau mau tahu sifat Aksa sebenarnya, gue bisa kasih info sama lo."


Nada semakin mencibir. "Gak penting. Gue percaya sama Aksa." tentulah setelah apa yang dia lihat, dia tidak akan mungkin percaya dengan bualan Radit.


Radit semakin mendekat lalu membisikkan sesuatu pada Nada. "Kalau lo mau, gue bisa kasih apa yang Aksa tidak bisa kasih ke lo."


Radit benar-benar nekat, jadi seperti ini cara Radit mendekati gadis-gadis Aksara.


Plak!!


"Gak usah munafik deh lo. Lo mau aja dicium sama Aksa, pasti lo juga mengharap sesuatu yang lebih kan?! Karena Aksa gak mungkin ngelakuin lebih dari itu."


"Cukup! Lo pikir gue gak tahu kelakuan bejat lo. Aksa itu jauh lebih baik daripada lo." Nada berusaha melepas tangannya tapi cekalan Radit sangat kuat.


"Menarik sekali lo. Salah gue udah pilih Salma."


"Radit lepas!!" Nada semakin memberontak saat dia semakin mengintimidasi Nada.


"Radit! Lepaskan Nada! Jangan sentuh dia sedikitpun!!" Aksara datang di saat yang tepat. Dia mendorong cukup keras hingga Radit mundur beberapa langkah.


"Lo salah lihat. Gue gak sentuh dia." Radit masih saja berusaha berkamuflase.


"Lo pikir, gue gak tahu kebusukan lo." Aksara sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, dia kini melayangkan pukulan pertamanya di wajah Radit. "Silahkan kalau lo mau mesum sama mantan-mantan gue, tapi jangan pernah lo sentuh Nada dengan tangan kotor lo itu."


"Lo jangan sok suci! Lo ganti-ganti cewek buat apa kalau gak lo cicipi."


Satu pukulan keras melayang lagi di rahang Radit. "Gak nyangka gue punya sahabat yang busuk kayak lo."

__ADS_1


Radit mengusap ujung bibirnya yang sedikit berdarah. "Lo pikir, lo udah baik sama sahabat lo. Lo sendiri dengan sengaja ambil pacar gue waktu itu!"


"Pacar lo! Pacar lo yang mana?"


"Lia."


Aksara menghela napas panjang. Dia teringat lagi nama Lia. Seingat dia waktu awal masuk kuliah ada seorang yang menyatakan cinta padanya tapi dia tolak, ternyata dia pacar Radit. "Lia? Gue gak pernah merasa ada hubungan sama dia."


"Gak ada hubungan apa-apa lo bilang?! Waktu itu lo sengaja cium dia di depan gue!" Kini Radit yang berganti memukul rahang Aksara hingga dia terhuyung ke belakang.


"Bukan gue yang mulai, tapi dia?!" Aksara kembali membalas pukulan Radit.


"Aksa, udah!" Nada menarik jaket Aksara agar melepaskan cekeramannya pada Radit. "Jangan berantem di sini."


Aksara menghela napas panjang. Dia kini melepaskan Radit. Sejak saat itu selesai sudah persahabatannya dengan Radit.


Radit mengepalkan tangannya sambil menatap kepergian Aksara. Gue akan balas perbuatan lo Aksa, gue pastiin impian lo juga akan hancur.


"Jadi itu masalah yang sebenarnya!" jujur saja, Nada juga sedikit kesal dengan Aksara. Di sini Nada juga tidak tahu apakah Aksara ikut andil dalam masalah ini.


"Lo jangan kemakan omongan Radit."


Nada mencibir lalu dia duduk di kursi dekat tempat parkir. "Tapi emang lo bener waktu itu merebut Lia dari Radit?"


"Nggak! Lia yang deketin gue."


"Trus ciuman itu?"


"Ciuman apa? Lia yang main sosor gitu aja, kayaknya dia memang sengaja melakukan itu biar dia diputuskan sama Radit."


"Main sosor? Tapi lo nikmati." Nada melipat tangannya. Kali ini dia merasa kesal dengan Aksara.


"Astaga! Na, lo ngomong apa sih?! Udahlah jangan bahas soal masa lalu. Yang penting sekarang gue menikmati sama lo."


"Kalau bicara jangan ambigu gitu. Menikmati?Emang lo pikir makanan." Mereka masih saja beradu argumen.


Aksara tersenyum kecil, bukankah Nada yang tadi membahas soal menikmati. Daripada semakin panjang, dia kini merengkuh tubuh Nada dan membawa dalam pelukannya. "Radit gak sentuh lo kan tadi? Jangan dekat-dekat dia, gue takut dia punya pikiran buruk sama lo."


Nada menganggukkan kepalanya. "Iya, takut gue. Lo jangan ninggalin gue kayak tadi dong."


"Iya, gue gak akan ninggalin lo." Aksara menatap kedua netra Nada dengan teduh.

__ADS_1


"Ma-maksud gue bukan gitu..." Nada tiba-tiba saja menjadi gerogi saat mendapat tatapan cinta dari Aksara.


"Terus?"


__ADS_2