It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Obrolan Di Rumah Bos


__ADS_3

Tangan yang melingkar di perutnya dan kehangatan yang dia rasakan di punggungnya, sudah sangat lama tidak dia rasakan. Rasanya Aksa enggan menghentikan motornya di depan rumah mantan bosnya itu.


"Kok masih sepi? Yang lain belum pada ke sini?" tanya Nada sambil turun dari motor Aksa.


"Tadi waktu aku antar Tiara ke cafe katanya agak sore sekalian tutup cafe lebih awal." Aksa melepas helmnya dan turun dari motor.


Nada masih berusaha melepas pengait helmnya. "Ini pengaitnya nyangkut lagi kayaknya."


"Sini aku bantu lepasin." Aksa memiringkan kepalanya dan melihat pengait yang berada di bawah dagu Nada.


Lagi-lagi dada Nada berdebar-debar mendapat perlakuan dari Aksa. Gerakannya seolah slow motion hingga pengait itu berhasil terlepas.


Dengan tangannya juga Aksa melepas helm Nada. Lalu jemarinya kini terulur menata helai rambut Nada yang sedikit berantakan.


Nada semakin dibuatnya gerogi dengan perhatian Aksa.


"Kirain sama yang lain." Suara itu membuyarkan adegan sweet Aksa dan Nada. "Masuk dulu. Jangan pacaran di depan rumah orang."


"Iya bos."


Nada mengambil bingkisan terlebih dahulu yang sedari tadi berada di dekat dashboard motor Aksa. Lalu mereka masuk ke dalam rumah Alvin sambil berjalan beriringan.


"Assalamu'alaikum," salam mereka berdua.


"Wa'alaikumsalam. Sini masuk."


Mereka berdua bersalaman dulu pada kedua pemilik rumah.


"Selamat Kak atas kelahiran anak pertamanya. Ih, lucunya." Nada langsung merasa gemas pada seorang bayi yang berada dalam gendongan ibunya. "Boleh gendong?" tanya Nada sambil meletakkan bingkisannya di sisi sofa.


"Boleh."


Nada meraih bayi itu secara perlahan dalam gendongannya. Kemudian dia duduk di sebelah Aksa.


"Lucunya." Aksa mengusap lembut pipi bayi mungil itu.


"Udah pantas. Kapan nikahnya?" tanya Rili yang tersenyum melihat kecocokan Nada dan Aksa.


"Insya Allah tiga bulan lagi."


"Gini kan enak. Mau bersatu aja butuh sentilan dari aku dulu," kata Alvin yang kini duduk di sebelah istrinya.


"Iya bos. Makasih ya bos atas dukungan dan idenya."


Nada melirik Aksa, "Jadi lamaran kamu waktu show itu idenya Pak Alvin?"


"Iya, ada idenya bos dikit."

__ADS_1


"Kalau gak langsung sat set gitu kalian kapan bahagianya. Gemes aja lihat orang saling cinta tapi malah jauh-jauhan. Tapi aku ngerti, cobaan menuju hari bahagia itu banyak. Kita dulu juga mengalaminya kan sayang."


"Iya." Rili tersenyum kecil mengingat masa lalunya. Seperti Aksa dan Nada, butuh perjuangan untuk meraih kebahagiaan itu.


"Jadi mumpung di sini aku mau minta sesuatu sama bos."


"Ini, nih, roman-romannya mau minta endorse an."


Aksa tertawa, tebakan mantan bosnya ini memang benar. "Kok tahu, bos peramal ya. Rencana aku mau adain resepsi di cafenya bos. Cafe bersejarah buat hubungan kita." Aksa menatap Nada sesaat lalu beralih lagi ke Alvin yang sedang mencibir.


"Gak bisa gratis full ya. Kamu bayar cateringnya saja. Nanti aku hubungi EO yang kebetulan teman aku juga, bahkan mau jadi adik ipar." Alvin tertawa kecil, rupanya suatu kebetulan ini menjadi rezeki Aksa juga. "Gak usah bayar EO. Nanti urus jadwal pertemuan kamu dengan EO sama Adit. Bilang kalau kamu karyawan cafe, pasti dia ngerti."


Aksa menggaruk tengkuk lehernya. "Gak usah pake EO bos. Gak enak juga kalau digratisin."


"Terus siapa yang menghandle acara kamu? Kamu sendiri? Kamu gak usah ambil pusing soal itu biar jadi urusan EO aja. Rencana mau outdoor atau indoor. Tapi kalau outdoor nanti pas musim hujan gak ya?"


"Kalau musim hujan panggil Mbak Rara aja Mas," celetuk Rili yang sedikit bergelayut manja di lengan suaminya.


"Nanti Mbak Rara bisa perang batin sama Aksa."


"Loh, kenapa Mas?"


"Pengantin barunya kan ingin suasana yang mendukung buat bercocok tanam."


Tawa kedua lelaki ini pecah. Pikiran Aksa sudah connect dengan jaringan 5g mendengar kata cocok tanam dari Alvin.


"Ih, Aksa." Nada sedikit menyenggol tangan Aksa dengan sikutnya karena bayi mungil itu langsung bangun dan menangis. "Tuh kan dedeknya jadi bangun."


"Gak papa, memang waktunya nen. Aku tinggal dulu ya," Rili berdiri sambil menggendong bayi mungil yang masih menangis gemas itu.


"Sini aku bantu sayang." Alvin membantu istrinya berdiri dan menuntunnya berjalan menuju kamar karena memang Rili masih dalam masa pemulihan.


"Aku bisa Mas. Temani aja mereka."


"Mereka udah ada teman hidupnya."


Aksa hanya tersenyum melihat pasangan bucin itu. Bicara soal bucin dulu dia sempat mengejek kebucinan bosnya tapi ternyata sekarang justru dia yang menjadi kaum bucin selanjutnya.


"Ngapain senyum-senyum sih?"


Aksa meraih tangan Nada dan menggenggamnya. "Ingat dulu aku sempat ejek kebucinan Pak Alvin eh sekarang aku yang bucin sama kamu." Aksa semakin tertawa, memang virus itu begitu mudahnya menular.


"Aksa, hmmm, soal biaya pernikahan kita biar aku bantu ya. Papa juga udah nyiapin buat kita."


"Jangan ya. Biar aku aja."


"Tapi Aksa..."

__ADS_1


"Gak papa. Ini tanggung jawab aku." Satu usapan lembut di pipinya membuat Nada akhirnya terdiam dan tidak lagi memaksa Aksa.


"Waduh, ini tuan rumah mana? Bisa-bisanya biarin pasangan mesum di sini." Para tukang rusuh cafe datang.


Satu bantal kursi melayang ke arah Adit dari lemparan Aksa. "Eh, jangan asal bilang."


"Itu dempet-dempet sama pegang-pegang ngapain. Di rumah bos besar lagi." Adit kini duduk dan langsung membuka toples makanan yang ada di meja. "Ayo masuk semua. Bos mana?"


"Lagi di kamar." jawab Aksa yang kini sudah melepas tangannya dari Nada.


"Buset, didatangi anak buah malah kelon di kamar," kata Malik salah satu anak buah paling gesrek setelah Adit.


Nada hanya tersenyum mendengar kerusuhan yang terjadi.


"Wah, parah lo Malik. Gue aja sahabat bos dari SMA gak pernah ngatain gitu, cuma lebih parah dari itu. Mau buat adek lagi kayaknya. Trabas, serobot mumpung masih strong."


Suara tawa bergelegar memenuhi ruang tamu Alvin.


"Jangan ngomong gitu, ada pasangan di bawah umur woy."


"Oiya lupa ada adik imutnya Aksa oey. Hati-hati kena sawan."


"Harap maklum lah anak buahnya Alvin." kata Adit melanjutkan ejekannya sambil terus mengunyah makanan dari toples. "Main serempet aja terus dari mulai SMA."


Satu lemparan didapat Adit lagi. Kali ini dari Alvin. "Tamu gak punya sopan santun. Ngomongin yang punya rumah."


"Eh, bos, udah buat adiknya?"


"Untung lo temen gue, kalau gak udah gue pecat lo." Alvin menghela napas panjang. Dia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat rumahnya sudah amburadul didatangi anak buahnya yang rusuh tapi tetap solid itu.


"Aksa, kapan nikah?" topik pembicaraan mereka berganti pada Aksa.


"Tiga bulan lagi."


"Ngadain acara di cafe? Ogah ah gue jadi waitress."


"Ah, iya. Kita kan tamu undangan ya."


Mereka kembali tertawa. Terkadang bercandaan mereka memang keterlaluan tapi sudah biasa dengan hal itu, tidak ada kata tersinggung di antara mereka.


"Eh, kita kan ke sini mau lihat dedek bayi. Wajahnya mirip sama orang tuanya atau sama Adit."


"Eh, kok jadi gue. Gue gak ikut andil dalam pembuatan."


"Kan waktu hamil ngidamnya masakan lo terus."


Suasana semakin riuh.

__ADS_1


"Adit, mending lo bantuin Mami masak aja di belakang daripada lo ngobrol unfaedah di sini."


"Tuh kan, gue lagi yang harus kerja..." Adit menggaruk kepalanya meskipun demikian dia tetap beranjak dari duduknya dan menuju dapur.


__ADS_2