It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Rumah Baru


__ADS_3

Setelah berhasil menemukan alamat yang dia cari, Satya keluar dari mobil. Dia kini berdiri di depan sebuah rumah mewah yang berpagar tinggi dan rapat. Dia tekan bel rumahnya, kemudian ada seorang satpam yang keluar.


"Cari siapa Mas?"


"Ini rumahnya Salma?"


"Iya."


"Salma ada di rumah. Bisa saya bertemu?"


"Ada Mas. Masuk dulu. Mobilnya parkir di dalam saja, biar tidak menghalangi jalan."


"Iya." Satya kembali masuk ke dalam mobil. Setelah satpam membuka pintu gerbang dengan lebar, Satya melajukan mobilnya dan berhenti di halaman luas rumah Salma.


Dia kini turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah Salma. Tak disangka ada ibunya Salma yang telah berdiri di ambang pintu.


"Assalamu'alaikum." Salam Satya sambil bersalaman dengan Ibunya Salma, Bu Rima.


"Wa'alaikumsalam. Iya, mau cari Salma?"


Satya menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante."


"Masuk dulu, biar saya panggil Salma."


Satya duduk di sofa ruang tamu menunggu Salma. Cukup lama, sampai beberapa menit. Apa Salma tidak mau menemuinya?


Satya tersenyum saat melihat seseorang yang telah dia tunggu akhirnya keluar.


Dia duduk berjauhan dengan Satya bahkan tidak mau bertatap langsung dengan Satya. "Ada perlu apa Kak?" tanya Salma tanpa basa-basi lagi.


Satya terdiam sesaat. Satya yang memang telah matang dan dewasa tentu dia tidak mau lagi mendekati perempuan seperti para remaja yang hanya memberi kode.


"Aku ke sini mau mengenal kamu lebih dekat lagi."


Salma menatap Satya sesaat lalu kembali menundukkan pandangannya.


"Jujur saja, sejak pertama kali bertemu dengan kamu aku sudah tertarik sama kamu. Aku sebenarnya ingin..."

__ADS_1


"Maaf Kak." Salma memotong pembicaraan Satya. "Aku tidak pantas untuk Kak Satya. Jadi Kak Satya tidak usah berharap lebih. Aku kira gak ada yang harus dibicarakan lagi. Maaf, lebih baik Kak Satya pulang. Permisi."


Satya tak berbicara lagi. Dia hanya melihat Salma beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam. Satu helaan napas panjang kini berhembus. Apa yang sebenarnya membuat Salma begitu menutup hatinya untuk orang lain? Semakin memikirkannya rasanya Satya semakin penasaran.


Beberapa saat kemudian Bu Rima keluar dan tersenyum sungkan pada Satya. "Maaf ya, Salma lagi tidak mau diganggu."


"Iya, tidak apa-apa Tante. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya."


Satya berpamitan pada Bu Rima dan mengucap salam. Setelah kepergian pemuda itu, Bu Rima berjalan dan masuk ke dalam kamar putrinya. Wajah itu masih saja sering terlihat sendu.


"Sal..." Bu Rima mengusap lembut puncak kepala putrinya yang tertutup hijab itu.


Salma yang awalnya menatap kosong kaca jendela kamarnya kini beralih menatap ibunya. Lalu sedetik kemudian tangan itu memeluk ibunya, karena selama ini hanya ibunya yang menemani saat terburuk dalam hidupnya.


"Kelihatannya dia pemuda yang baik dan sopan."


Salma menggelengkan kepalanya. "Dia kakaknya Nada, Ma. Aku merasa gak pantas buat dia, bahkan untuk lelaki manapun. Mungkin saja jika dia tahu masa lalu aku, pasti dia tidak akan lagi mengejarku."


"Aku sudah bangkit Ma. Hanya saja aku masih tidak mau menerima kehadiran lelaki lain. Sekarang aku cuma ingin bahagiakan Mama." Salma melepaskan pelukannya. Bayangan masa lalu masih saja terus menghantuinya. Dia sangat menyesal, bahkan ketika dia sudah bertobat sekarang, rasanya dosa itu masih terlalu besar di dirinya. Mungkin inilah hukuman atas perbuatan buruk di masa lalunya.


...***...


"Loh, Mama mau pulang? Gak menginap di sini?" tanya Nada pada Bu Diana saat berpamitan untuk pulang. Hari Minggu itu Nada dan Aksa sudah resmi berpindah ke rumah barunya.


"Kapan-kapan saja ya, Na. Kamu dan Aksa cepat istirahat saja. Pasti capek baru pindahan."


"Iya, Ma."


"Aksa, kita pulang dulu. Awas ya, kalau kamu sampai nakal."


Aksa yang sedang makan dengan lahapnya karena kelaparan, sedari tadi dia sibuk merapikan rumah barunya. "Nakal apa sih Ma. Anak Mama ini kan gak nakal, alim dan pintar lagi."


Bu Diana menjewer pipi Aksa karena gemas dengan putranya itu. "Udah dibilang jangan panggil Mama."


"Aduh, iya-iya."

__ADS_1


Kedua orang tua Aksa, akhirnya pulang. Setelah itu Pak Teguh dan Satya juga ikut pulang. Kini tinggalah mereka berdua, dan Mbak Sumi yang sedang beberes di kamarnya.


"Na, kamu gak makan lagi?"


"Tadi kan udah, masih kenyang. Sini, piringnya biar aku beresin." Nada mengambil beberapa piring kotor lalu membawanya ke dapur.


"Na, kalau capek kamu tidur ya." Aksa mengikuti istrinya ke dapur sambil menguap panjang.


"Aku kan dari tadi gak ngapa-ngapain. Mas Aksa aja yang tidur dulu, besok kan ada jadwal ngajar pagi."


Aksa justru memeluk pinggang langsing Nada dari belakang saat Nada mulai mencuci piring. "Kita tidur bareng ya..." ucapnya sambil mengecup singkat leher Nada yang tidak tertutup rambut itu.


"Mbak Nada biar saya saja yang..." Mbak Sumi yang keluar dari kamarnya justru terpaku melihat adegan mesra sepasang pengantin baru ini.


Seketika Aksa melepas pelukannya. "Aku ke kamar dulu ya." Lalu Aksa melangkah pergi.


Ya Allah kalau tiap hari lihat adegan 21 plus gini jadi terkontaminasi otak suci saya. Mana Mas Aksa gantengnya gak ketulungan lagi.


"Udah selesai kok Mbak. Hmm, besok bangun pagi-pagi ya Mbak, temani aku belanja sayur."


"Biar saya aja Mbak. Gak papa."


"Mbak, sekarang udah beda. Aku kan udah jadi ibu rumah tangga. Mbak Sumi sekarang ajarin aku pekerjaan rumah ya."


"Iya Mbak." Mbak Sumi mengangguk sambil menatap langkah kaki nyonya mudanya itu. "Mbak Nada yang dulu manja dan suka suruh-suruh sekarang bisa mandiri kayak gini. Kekuatan cinta memang luar binasa. Eh, lanjut baca novel online aja lah. Menghalu jadi istrinya CEO dulu ketimbang menghalu jadi selir majikan."


Nada masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua, dia tersenyum melihat suaminya yang sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan mata yang hampir terpejam.


"Na," Aksa meraih tubuh Nada dalam pelukannya saat Nada sudah naik ke atas tempat tidur. "Selamat menempati rumah baru ya bersama aku. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecil kita." kata Aksa yang sudah seperti orang mengigau. Meski demikian dia masih sempat mengecup kening Nada.


"Iya, Amin."


Beberapa saat kemudian Aksa sudah tertidur. Nada terus memandangi paras tampan itu. Mengamati setiap guratan wajah yang sangat sempurna.


"Aku beruntung telah memiliki kamu. I love you." satu kecupan mendarat di kening Aksa.


"I love you too, Na." tak disangka Aksa justru menjawabnya meski setengah mengigau dan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2