
Nada kini membalikkan badannya sambil menyilangkan tangannya. Pandangan matanya tiba-tiba bersirobok dengan Aksa. Seperti ada sihir yang membuat tatapan mereka semakin lekat.
"Gak ada orang?" tanya Aksa yang kini telah melepas jaketnya yang basah.
"Ada sih Mbak Sumi tapi gak tahu kemana?" Nada kini duduk di kursi teras sambil melipat tangannya karena rasa dingin dari bajunya yang basah mulai terasa.
"Terus gimana? Baju lo basah nanti lo bisa masuk angin."
"Ya mau gimana lagi? Tunggu di sini saja."
Aksa kini ikut duduk di sebelah Nada. Hujan tak juga berhenti, justru semakin deras.
Nada semakin mendekap dirinya sendiri, ditambah angin yang cukup kencang menerpa tubuhnya.
"Sini." Aksa menarik tubuh Nada dalam pelukannya. "Kalau lo kedinginan kayak gitu bisa demam." Aksa mengeratkan pelukannya sambil mengusap punggung Nada memberi kehangatan.
Memang hangat bagi keduanya. Tapi rasa yang hangat itu berubah menjadi sebuah gelora aneh.
Nada kini sedikit mendongak menatap Aksa. Dia hanya terdiam menatap wajah tampan itu.
"Kenapa?" tanya Aksa.
Nada hanya menggelengkan kepalanya. "Gue gak nyangka bisa dekat sama lo kayak gini."
Aksa tersenyum penuh arti.
"Mau yang lebih dekat gak? Suasana mendukung nih."
"Jangan terpengaruh bisikan setan."
"Cuma terpengaruh dikit." Tangan kanan Aksa berpindah ke tengkuk leher Nada untuk menahannya lalu dia mendekatkan dirinya. Mulai mencium lembut bibir Nada yang telah menjadi candu itu.
Hangatnya pagutan itu membuat Nada ingin segera membalasnya. Tanpa rasa malu dan takut lagi, Nada sudah bisa mengimbangi pemainan Aksa. Bahkan tangannya kini sudah melingkar di leher Aksa untuk semakin memperdalam ciumannya.
"Na?" Aksa melepas ciumannya sesaat. "Siapa yang ngajarin kayak gini?" Aksa meraih tubuh Nada dan memangkunya.
"Lo," jawab Nada. Rupanya dia memang sudah terkontaminasi virus Aksara. Dia semakin melingkarkan tangannya di leher Aksa saat ciuman itu terulang kembali. Semakin lama semakin memanas, saling berbalas hisapan dan gigitan kecil.
Kali ini Aksa hampir saja khilaf saat tangannya mulai berani singgah dimana-mana. Mereka sudah berhasil menciptakan sensasi panas di tengah derasnya hujan.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu terbuka.
__ADS_1
"Astaga! Eh, maaf non." Mbak Sumi seketika salah tingkah melihat adegan semi itu. Ciuman yang bukan hanya sekedar ciuman biasa. Bahkan dengan posisi Nada yang berada di pangkuan Aksa membuat seseorang yang melihatnya seketika pikirannya travelling kemana-mana.
Dua sejoli ini seketika melepaskan ciumannya. Tangan Aksa yang telah diam-diam merayap ke balik baju Nada segera dia singkirkan.
Nada turun dari pangkuan Aksa, lalu merapikan bajunya sesaat dan berjalan mendekati Mbak Sumi. "Mbak Sum dari mana? Kok gak dibukain pintu."
"Maaf Non. Tadi saya ketiduran. Tadi mau lihat ke depan gak tahunya ada Non lagi itu..." Mbak Sum tersenyum lalu mencuri pandang pada Aksa.
"Mbak Sum, jangan cerita Papa sama Kakak soal ini loh ya."
"Beres Non. Duh, siapa sih yang gak tergoda sama cowok cakep kayak gitu. Saya sih juga rela di acak-acak."
"Mbak Sum!! Ih, siapin makanan aja deh. Kita mau makan dulu."
"Oke. Beres Non." Mbak Sumi segera masuk ke dalam.
Aksa masih saja terduduk. Dia garuk rambutnya sesaat sambil menatap Nada. Sebenarnya dia malu juga kepergok seperti itu. Setiap dekat dengan Nada dia tidak bisa menahan keaktifannya apalagi sekarang Nada menerimanya dengan terbuka.
"Sorry, itu Mbak Sum emang agak gaje."
"Gak papa. Penyelamat kita. Kalau diterusin mungkin gue bakal khilaf." Aksa tidak menepis segala kemungkinan yang akan terjadi. Barusan dia seperti tidak bisa menahan lagi hasratnya. Andai saja Nada pasangan halal baginya, mungkin Nada sudah dia serang tiada henti.
"Lo, ganti baju aja ya. Gue pinjamkan baju Kak Satya."
"Udahlah, gak papa. Ayo." Nada menarik tangan Aksa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Mereka berhenti di depan kamar mandi dekat ruang tengah. "Tunggu sini. Gue ambilin dulu baju Kak Satya."
Aksa menganggukkan kepalanya. Tak berapa lama Nada sudah kembali membawa satu setel baju untuk Aksa.
"Nih, kaos, celana, sama jaket. Kayaknya pas sih."
Aksa mengambil pakaian itu dari tangan Nada sambil tersenyum. Dia tak lepas menatap paras cantik itu.
"Kenapa?"
Aksa menggelengkan kepalanya. "Cuma pengen cepat halalin lo biar adegan tadi bisa berlanjut."
Nada mencebikkan bibirnya. "Omes terus. Emang udah bisa hidupin anak orang."
"Belum." Tangan Aksa terulur lalu mengacak rambut Nada. "Tunggu gue ya, suatu saat nanti." Setelah itu Aksa berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya, Aksa." senyum kecil mengembang di bibir Nada. Kemudian dia sedikit berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Nada segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah selesai menyisir rambutnya yang basah, Nada kembali turun. Rupanya Aksa masih saja di dalam kamar mandi.
"Ini gak salah Aksa sedari tadi masih di dalam." jiwa keponya meronta. Dia tempelkan telinganya di dekat pintu, ya mungkin saja terdengar sesuatu hal mistis.
__ADS_1
Ceklek.
Tiba-tiba saja Aksa membuka pintu. Nada yang kepergok ingin menguping hanya tersenyum sumbang.
"Ngapain?"
"Gue kira lo pingsan di dalam."
"Sorry lama. Nenangin adik dulu sebelum mandi," kata Aksa sambil berlalu.
Adik? Nada gagal paham dengan ucapan Aksa. Dia melihat sesaat ke kamar mandi. "Adik siapa? Horor lo ya."
Perkataan Nada membuat Aksa tergelak. Kadang otak polos Nada memang terkesan lucu. "Udah gak usah dibahas. Ntar adiknya bangun lagi."
"Ih, lo tuh kalau ngomong yang bener. Gak ngerti gue."
Kemudian Aksa membisikkan sesuatu pada Nada yang membuat pipi Nada memerah dan dengan gerak spontan Nada mencubit pinggang Aksa. "Aksa, aduh! Gila lo lakuin itu di kamar mandi rumah gue!"
Aksa kembali tertawa. "Daripada gue minta bantuan lo."
"Ih, dasar!! Makan dulu yuk, gue lapar."
"Eh, Na. Ini jam berapa?"
"Tuh."
Aksa menatap jam dinding yang sudah hampir jam tiga sore. "Astaga, udah Ashar. Ya Allah dosa banget hamba Mu hari ini."
Nada hanya menatap Aksa yang seketika religius itu.
"Na, gue numpang sholat dulu ya daripada terlewat lagi. Bentar lagi mau ke cafe."
"Aksa gak makan dulu?"
"Nanti aja. Kalau kamu mau makan dulu gak papa."
"Gue mau jadi makmum lo."
Mereka bertatapan sambil tersenyum.
"Sini, tempat sholatnya ada di dekat kamar Papa."
Aksa mengikuti Nada menuju tempat sholat. Lumayan besar, cukup untuk sholat berjamaah sekeluarga. Mereka segera mengambil wudhu terlebih dahulu. Setelah itu, mereka melakukan sholat berjamaah dengan khusu'.
__ADS_1
Setelah menjalankan sholat 4 rakaat, Aksa berdo'a dan berdzikir. Hatinya tiba-tiba berkabut, dia teringat akan dosa-dosa yang baru saja dia perbuat.