It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Mengobati


__ADS_3

"Na, Ibu masuk ya?"


Suara Bu Diana dan ketukan pintu itu membuat Nada menegakkan kepalanya dan berpindah duduk di tepi ranjang.


"Iya, Bu," jawabnya.


Bu Diana membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah Nada.


Nada nampak malu. Dia berusaha menutupi bekas hisapan Aksa dengan rambutnya meski tetap saja akan terlihat.


Bu Diana hanya tersenyum kecil. Tingkah Nada mengingatkan masa lalunya saat dia baru menikah dengan suaminya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


"Kamu sakit?" tanya Bu Diana dengan lembut sambil merangkul pundak Nada.


Nada menggelengkan kepalanya.


"Aksa sudah nakal ya sama kamu?"


Nada hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.


"Kamu jangan malu ya sama Ibu. Kalau ada apa-apa cerita sama Ibu. Sekarang kamu kan sudah jadi putri Ibu."


"Iya Bu."


Bu Diana mengusap-usap lengan Nada. "Sakit ya? Bisa jalan?"


"Iya, sakit. Buat jalan juga sakit," jawab Nada pelan.


"Gak papa. Nanti yang kesekian kalinya juga gak akan sakit lagi. Tuh, ibu sampai jadi dua." Bu Diana tertawa kecil berusaha membuat Nada agar tidak trauma. "Nanti biar dibelikan Aksa salep ya di apotek. Sekarang kamu mandi pakai air hangat biar pegal-pegalnya hilang. Ayo sama Ibu."


"Hmm," Nada masih saja berpikir. Rasa malunya belum juga hilang. Ini semua gara-gara Aksa. Nada terus merutuki suami nakalnya itu dalam hatinya.


"Gak usah malu. Di belakang cuma ada Aksa. Ayo Ibu bantu." Bu Diana membantu Nada berdiri lalu menuntunnya menuju dapur.


"Aksa, tuang air panasnya." suruh Bu Diana setelah sampai di dekat kamar mandi.


"Iya." Aksa yang baru saja selesai mandi, segera mengangkat panci yang berisi air mendidih. Membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menuangnya ke dalam bak air. Setelah dirasanya kehangatan airnya pas, dia beralih pada Nada yang berdiri di dekat kamar mandi.


"Nih, handuknya." Aksa meraih tangan itu hingga mereka berdua masuk dalam kamar mandi.


Sedari tadi Nada hanya menatap kesal Aksa. Bahkan bibirnya masih saja mengerucut.


"Masih marah? Maaf." bisik Aksa sambil memeluk tubuh itu.


Satu cubitan cukup keras mendarat di pinggang Nada. "Aku mau mandi. Sana keluar dulu."

__ADS_1


"Aku mandiin ya?"


"Ih," Nada kembali mencubit Aksa hingga membuat Aksa sedikit mengaduh karena sakit.


"Aksa!!" panggil sang Ibu dari dapur. Lama-lama dia menjadi sangat gemas dengan tingkah putranya itu.


"Iya, Bu," jawab Aksa sambil berlenggang keluar dari kamar mandi setelah mengecup singkat pipi Nada.


Setelah Aksa keluar, pintu kamar mandi langsung ditutup oleh Nada.


"Nanti setelah sarapan belikan salep saja di apotek."


"Emang ada salepnya?" tanya Aksa. Dia belum tahu salep penyembuh luka di area sensitif itu memang ada.


"Ada. Biar cepat sembuh. Sebentar ibu tulis nama obat salepnya."


"Ya sudah, Aksa belikan sekarang aja." ucap Aksa dengan sangat antusias. Dia berharap luka itu cepat sembuh biar bisa... Duh, otak nakal Aksa memang terlalu aktif.


"Gak makan dulu?"


"Nanti aja nunggu Nada. Kan apoteknya dekat di depan gang."


"Ya sudah."


...***...


"Tambah lagi ya?" Aksa meraih piring Nada yang telah kosong dan kembali mengisinya dengan nasi.


Meskipun hanya diam saja tapi Nada mau menerimanya dan kembali memakannya lagi.


Sedari tadi Aksa terus menahan tawanya, kejadian semalam rupanya membuat nafsu makan Nada meningkat.


"Ngapain sih senyum-senyum. Gak jelas banget!" Nada masih saja dongkol dengan suaminya itu.


"Gak papa. Gemesin kalau ngambek."


Nada hanya mencibir lalu kembali makan dengan lahap.


Setelah menghabiskan makanannya, Aksa membereskan piring kotor terlebih dahulu lalu mencucinya.


"Na, barusan udah aku belikan obat. Aku bantu obatin ya."


Nada menatap Aksa curiga. Dia buru-buru minum lalu berdiri dan kembali ke kamarnya. Sayang, dia masih belum bisa melangkah dengan cepat hingga langkahnya kini tersusul oleh Aksa.


"Sini, sini, kalau jalan aku bantu."

__ADS_1


"Ih, gak habis lahiran ngapain dibantu." Nada membuka pintu kamar Aksa lalu dia duduk di tepi ranjang. "Mana obatnya? Biar aku oles sendiri."


Aksa menutup pintu kamarnya lalu duduk di samping Nada setelah sebelumnya mengambil obat salep itu terlebih dahulu. "Biar aku bantu oles."


Nada membuang mukanya. "Modus!"


"Ya ampun sayang. Aku juga tahu kalau kamu lagi sakit."


"Iya, emang. Mas Aksa cuma ngerasain enaknya aja gak ngerasain sakitnya."


Aksa menghela napas panjang. Menghadapi kemarahan Nada itu memang harus bisa bersabar. Dia kini meraih tubuh Nada ke dalam pelukannya. "Iya, iya, aku minta maaf. Jangan marah lagi ya. Lain kali aku gak akan keterlaluan sama kamu. Aku sayang sama kamu, Na." Aksa mengecup kening Nada singkat tapi cukup dalam.


Merasakan kenyamanan pelukan Aksa seketika rasa kesal itu menguar. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan mengendus dalam aroma maskulin itu.


Aksa mengusap lembut rambut Nada yang baru mengering itu dengan penuh kasih sayang yang membuat dada Nada semakin menghangat.


"Aku bantu obati ya?" tanya Aksa lagi dengan suara lembutnya.


Nada mengangguk pelan. Dia rebahkan dirinya di atas ranjang dan membuka kakinya.


Oke, fokus mengobati bukan fokus yang lain.


Aksa mulai mengobati luka itu dengan perlahan. Nampak Nada meringis menahan perih.


"Perih ya?"


Nada menganggukkan kepalanya.


"Maaf. Tapi kamu jangan trauma ya. Nanti kalau udah sembuh kita lakuin lagi," Aksa masih sempat-sempatnya menggoda Nada.


Nada hanya mencebikkan bibirnya.


"Udah. Cepat sembuh ya." Setelah selesai, Aksa memutar tubuhnya dan memijat pelipisnya sesaat.


"Kenapa Mas?" tanya Nada yang telah merapikan pakaiannya.


"Hmm, pening aja."


Hah, pening Aksa?


"Apanya yang pening?"


Aksa tersenyum lalu mengusap puncak kepala Nada. Jelaslah yang pening bukan kepala atasnya tapi kepala bawahnya. Hanya melihat tempat kenikmatannya saja bayangan semalam sudah terlintas lagi.


Beberapa saat kemudian terdengar ponsel Aksa berbunyi. Dia berdiri dan mengambilnya. Menatap nama yang tertera di atas ponsel itu dengan serius.

__ADS_1


"Siapa Mas?"


__ADS_2