
"Selamat Aksa. Selamat menempuh hidup baru. Semoga langgeng ya...
"Selamat Nada..."
Ucapan dari keluarga dan para sahabat didapat mereka saat berdiri di atas pelaminan. Do'a-do'a baik terus tercurah untuk mereka. Mereka terus tersenyum dan mengucapkan amin beserta terima kasih pada tamu yang memberinya selamat.
"Selamat Na..." Senyum manis dari seorang gadis berhijab ini membuat Nada sedikit terkejut.
"Salma apa kabar?" tanya Nada yang kini memeluk Salma sesaat.
"Alhamdulillah baik. Selamat ya akhirnya kalian menikah. Kalian memang pasangan yang sangat serasi. Semoga kalian selalu bersama sampai tua. Menjadi pasangan yang sakinah, mawadah, dan warahmah."
"Amin. Makasih ya."
"Aksa.." Salma menangkupkan kedua tangannya tanpa menyentuh Aksa. "Selamat ya.."
"Iya, makasih ya.."
"Terima kasih. Kata-kata kamu dulu sudah merubah hidup aku. Semoga kamu selalu bahagia bersama Nada."
"Amin.."
Setelah itu Salma turun dari pelaminan.
Satu senggolan langsung didapat Aksa dari Nada. "Kata-kata apa?"
"Dulu waktu dia dapat masalah, dia putus asa dan hampir bunuh diri. Ya, aku kasih aja kata-kata bijak dari Pak Ustadz."
"Ih, yang bener?" Nada sedikit mencubit pinggang Aksa.
"Iya beneran. Udah gak usah bicara masa lalu." Aksa merengkuh tubuh Nada. "Kita bicarakan masa sekarang dan masa depan kita." Satu kecupan mendarat di pipi Nada yang membuat Nada tersenyum malu.
"Woy, kalau mau mesra-mesraan nanti aja di kamar. Jangan di sini." Adit dan beberapa teman cafenya kini naik ke atas pelaminan.
"Kok kalian pada ganteng dan cantik gini," Aksa sedikit terheran karena teman-temannya itu tidak menjadi waitress dalam acaranya.
"Eh, lo pikir kita yang jadi waitress. Kita jadi tamu undangan. Noh, gak liat yang jadi waitress dari catering sebelah. Kali ini bos kita memang the best. Jadi pengen cepat merried juga oey."
Satu jitakan kini didapat Adit. "Makanya jangan kelamaan jadi jones."
"Eh, gue udah tunangan sekarang. Kalian aja yang pada gak tahu. Setelah Aksa nih, nanti gue juga adain resepsi di sini."
Tim rusuh itu masih saja asyik mengobrol bahkan sesekali menggoda Aksa sampai teman kuliah Aksa harus berteriak dari belakang agar segera bergantian.
"Bos minta maaf gak bisa datang soalnya istrinya lagi sakit. Katanya sih. Tapi kayaknya mau ada dedek baru lagi tuh."
"Eh, anaknya masih mau 4 bulan. Masak iya mau ada dedek lagi."
"Ayo, kita taruhan."
__ADS_1
"Oke, siapa takut."
"Udah-udah. Turun dulu. Kalau mau taruhan di bawah aja," usir Aksa karena tim rusuh semakin bertambah rusuh.
Akhirnya lalu lintas di atas pelaminan kembali lancar setelah tim rusuh turun.
Sedangkan di area prasmanan suasana semakin ramai.
"Eh, maaf. Aku gak sengaja." tanpa sengaja Satya menyenggol seorang gadis cantik hingga menumpahkan minumannya di tangan dia. Untung saja tidak mengenai gaunnya. Satya dengan cepat mengambil tisu dan berniat membersihkan tangan gadis itu.
"Tidak apa-apa. Biar aku sendiri saja." Dia meraih tisu itu lalu membersihkan tangannya sendiri.
Senyuman manisnya di wajah cantik yang berhijab itu mampu menggetarkan hati Satya. Inikah, love at first sight?
"Teman Nada?"
"Iya, teman Aksa juga."
"Ke sini sama siapa?"
"Sama teman-teman kampus."
"Salma!" panggil salah seorang teman lainnya. "Aku cariin ternyata kamu di sini. Kita gabung sama yang lain yuk."
Salma tersenyum pada Satya. "Permisi.." Lalu dia melangkah pergi.
...***...
"Capek." Malam itu setelah membersihkan diri, Nada merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia menarik selimutnya sampai menutupi tubuhnya. Sepertinya dia melupakan sesuatu. Iya, Aksa. Aksa yang masih mengobrol dengan keluarganya di ruang tengah dia tinggal begitu saja.
Nada yang akan menuju alam mimpi tiba-tiba kembali membuka matanya saat mendengar suara kuncian dari pintu.
Lupa kalau sekarang aku ada teman tidurnya.
Nada kembali memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
"Na, udah tidur?" tanya Aksa yang tidak mendapat jawaban dari Nada.
Aksa hanya tersenyum lalu dia menuju kamar mandi untuk membasuh dirinya. Tak butuh waktu lama, Aksa yang telah memakai piyamanya kini naik ke atas ranjang. Memiringkan dirinya dan menatap Nada yang pura-pura memejamkan matanya.
Aroma maskulin dari Aksa begitu tercium. Bagaimana Nada bisa tertidur sekarang, rasa kantuk yang tadi singgah tiba-tiba menguar begitu saja.
"Ngapain pura-pura tidur?" tanya Aksa sambil tersenyum menatap istrinya. Ini memang perdana dia satu ranjang dengan Nada. Andai tidak terhalang sesuatu pasti dia sudah berbuat ulah.
Nada membuka matanya lalu tersenyum malu. "Lupa kalau tidur sama kamu."
"Lupa? Baru juga sehari udah dilupain."
"Justru baru sehari itu jadi belum biasa."
__ADS_1
Aksa mengusap lembut pipi Nada. "Akhirnya aku bisa selalu sama kamu. Tiap hari bisa tidur sama kamu."
Begitu nyamannya sentuhan dari Aksa. Dia hanya ingin selalu bersama Aksa selamanya.
Aksa mencium lembut kening Nada. "Kamu tidur ya."
"Ngantuknya hilang.."
"Hilang kemana? Aku cariin."
"Ih..."
Aksa kini menghapus jarak di antara mereka. Memeluk Nada, karena mulai malam itu Aksa akan selalu memeluk tubuh itu saat tidur.
"Kalau kayak gini aku malah gak bisa tidur Mas. Dada aku makin sesak aja rasanya. Kok bisa ya?"
"Biar terbiasa sayang. Biar gak gerogi terus. Karena malam-malam selanjutnya aku akan selalu meluk kamu."
Nada kini mendongak menatap Aksa.
"Kenapa? Mau dicium?" tanpa menunggu jawaban lagi bibir itu telah singgah di bibir Nada. Menyentuhnya dengan lembut dan manelusup tanpa permisi.
Aksa yang selalu bisa membuat Nada terlena, dia hanya mampu mengikuti alur permainan Aksa. Semakin lama pagutan itu semakin dalam dan menuntut.
Tangan Aksa sudah bergerak aktif mengusap sepanjang punggung Nada.
Hisapan dan gigitan-gigitan kecil dari Nada semakin membakar gairah Aksa. Dia sedikit mendorong tubuh Nada hingga terbaring lalu bermain di atas tubuh itu. Ciuman yang awalnya di bibir pindah ke tengkuk leher. Menjejaki dan mengusapnya.
Nada semakin melenguh tertahan, entah apa yang dilakukan Aksa hingga membuat dirinya terasa melambung tinggi. Walau tak ada pakaian yang terlepas dari tubuhnya tapi sentuhan itu begitu nyata dan memabukkan.
Andai tidak terhalang sesuatu pasti Aksa akan melanjutkan setiap adegannya. Dia kini menatap wajah Nada yang telah memerah dengan napas yang tersenggal.
"Baru main bibir dan tangan udah kayak kepiting rebus."
Satu cubitan kini mendarat di pinggang Aksa. "Aksa turun dari badan aku. Ih, berat."
"Aksa?"
"Mas Aksa."
Aksa kembali menyerbu bibir itu sebelum akhirnya dia hempaskan kembali dirinya di sisi Nada. "Kamu tunggu ya. Nanti kamu rasakan betapa ulungnya aku menjelajah di setiap inci tubuh kamu."
Pipi Nada masih saja memerah. Hal itu masih belum sanggup Nada bayangkan untuk saat ini. Baru sentuhan Aksa saja sudah membuatnya melambung tinggi bagaiman jika Aksa melakukan lebih.
"Udah ah tidur."
💞💞💞
Tidur dulu ah.. ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1