
"Nada, ini Ibu bawakan makanan. Kamu cepat makan ya. Ibu bawakan susu juga masih hangat."
Setelah selesai menyuapi Aksa, kedua orang tua Aksa datang dengan membawa beberapa makanan. Terutama untuk Nada, menantu kesayangannya.
"Bu, buat Aksa ada?" tanya Aksa yang sebenarnya masih lapar karena hanya mendapat jatah bubur dari rumah sakit.
"Ada, ibu bawakan roti." Bu Diana mendekat sambil memberikan roti pada putranya itu.
Tapi hidung Aksa justru mencium aroma lezat dari kotak bekal yang dibuka Nada. "Baunya enak banget. Itu apa?"
Bu Diana mengernyitkan dahinya menatap Aksa. "Nasi rendang sama sayur cap jay. Udah, kamu makan roti aja. Gak boleh makan aneh-aneh sama Dokter. Biar Nada aja yang makan."
Tapi Aksa malah menelan salivanya. Dia begitu ingin mencoba makanan yang sekarang mulai dimakan Nada.
Melihat ekspresi Aksa yang sangat ingin, Nada menjadi kasihan. Tidak apalah jika sekali-kali tidak mengindahkan larangan Dokter. "Mas mau?" Nada menawari Aksa yang langsung dijawab anggukan Aksa dengan cepat.
"Loh, itu buat Nada."
Nada berjalan mendekat dan kembali menyuapi Aksa. "Gak papa, Ma. Justru Nada senang kalau Mas Aksa sudah mau makan."
Pak Rendra menyenggol lengan istrinya, "Ibu gak bawa double aja tadi."
"Ibu kira Aksa gak boleh makan kasar dulu."
"Loh, ibu lupa soal itu..."
"Ingat Ayah. Ya udah Ayah ambil lagi ya di rumah. Sekalian buat makan siang."
"Tidak usah Ma. Ini banyak kok. Cukup buat kita berdua."
"Tidak apa-apa. Kamu harus makan yang banyak."
Nada hanya menautkan alisnya. Sebenarnya yang sakit itu Aksa, kenapa dia yang terlalu diperhatikan oleh Bu Diana.
Aksa mengambil alih sendok yang dipegang Nada. "Benar kata Ibu, kamu harus makan yang banyak. Nih, kamu habisin ya." Sekarang justru Aksa yang menyuapi Nada.
"Mas, aku bisa sendiri. Mas istirahat aja." Nada akan mengambil alih kembali sendok itu tapi dengan cepat Aksa menghindar.
"Aku udah sembuh. Kamu dari kemarin makan cuma sedikit. Gak ngemil juga. Jangan sampai gantian kamu yang sakit." Aksa terus menyuapi Nada sambil tersenyum.
"Ya udah, Ayah pulang dulu nanti siang ke sini lagi." Saat Pak Rendra membuka pintu, dia berpapasan dengan Pak Teguh dan Satya.
"Ren, mau pulang?"
"Iya, nanti siang aku ke sini lagi. Ada Ibunya Aksa yang menemani Nada."
"Ya udah. Nanti aja kita ngobrol."
__ADS_1
"Iya,"
Pak Teguh dan Satya masuk ke dalam ruangan Aksa. "Loh, katanya Aksa yang sakit kok Nada yang disuapin."
Nada menelan suapan terakhir dari Aksa lalu tersenyum malu.
"Saya udah sembuh, Pa. Nanti sore sudah boleh pulang," ucap Aksa lalu tangannya terulur mengusap puncak kepala Nada yang sedang minum di dekatnya.
"Ih, Mas hampir keselek nih." Nada meletakkan kembali botol air mineral itu lalu berjalan mendekati Satya.
"Na," panggil Satya. "Ada yang mau aku omongin. Kita ke kantin rumah sakit yuk sebentar."
Nada mengangguk lalu dia berpamitan pada Aksa yang sedang mengobrol dengan Papanya.
Setelah itu, kedua kakak beradik ini berjalan menuju kantin rumah sakit. Sesampainya di sana, mereka memesan minuman. Bukan jus alpukat seperti biasanya yang Nada pesan, tapi dia memesan jus mangga yang membuat Satya menjadi bertanya-tanya.
"Na, bukannya kamu gak suka sama jus mangga?"
"Lagi pengen aja Kak. Gak tahu dari tadi kebayang mangga terus."
Satya menatap Nada dengan serius. "Mau aku beliin mangga? Tadi di tukang buah seberang rumah sakit kayaknya banyak mangga."
Nada menggelengkan kepalanya. "Nanti aja biar Aksa yang belikan."
"Aksa kan masih sakit."
Satya hanya tersenyum kecil. Sebenarnya dia bisa menebak perubahan Nada tapi sebagai lelaki yang bukan berjiwa sok tahu, jadi dia hanya menyimpannya dalam hati.
"Kak Satya mau ngomong apa?" tanya Nada yang mulai menyedot jus mangganya.
"Salma sudah menerima permintaan ta'aruf aku."
"Yee, selamat kak. Kapan mau melamar."
"Secepatnya Na. Do'a kan ya?"
"Iya Kak, pasti aku akan selalu mendo'akan kebahagiaan Kak Satya."
"Makasih Na." Satya tersenyum tipis, dia kini melihat gelas jus yang telah kosong, secepat itu Nada meminumnya. "Na, mau nambah lagi? Atau beli sesuatu lagi?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Aku heran Kak. Mas Aksa yang sakit kok semua malah perhatian ke aku. Apa hanya perasaanku?"
Satya semakin tersenyum. "Bagus kan Na. Berarti semua sayang sama kamu."
"Ini nih termasuk Kak Satya, nawarin aku mau apa? Biasanya juga gak pernah nawarin."
Satya mencubit gemas pipi Nada. "Ya udahlah balik yuk. Nanti sore sudah pulang kan? Sekalian aja aku sama Papa nunggu sampai sore."
__ADS_1
Mereka berdua beranjak dari kantin rumah sakit dan kembali ke ruangan Aksa.
...***...
Sore hari, Aksa sudah diperbolehkan untuk pulang. Aksa dan Nada menaiki mobil Satya. Mereka duduk di belakang sedangkan di depan ada Papanya.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah lalu mereka keluar dari mobil.
"Na, aku bisa sendiri." Nada masih saja membantu Aksa. Padahal Aksa sudah merasa sangat sehat.
"Loh, Mas Aksa sudah pulang? Padahal kita punya rencana mau jenguk ke rumah sakit," kata Bu Rima tetangga sebelah rumah Aksa.
"Iya Bu. Saya sudah sembuh."
"Sakit apa?"
"Asam lambung," jawab Nada.
"Oalah, asam lambung toh," ucap Pak Wito, suami Bu Rima. "Pasti kecapekan itu." Suara tawa bapak-bapak, termasuk Pak Rendra yang mengikuti mereka di belakang dan juga Pak Teguh. Apakah semua bapak-bapak memiliki pemikiran yang sama?
Pandangan Nada tiba-tiba tertuju pada buah mangga yang bergelantung di pohonnya dan berada di depan rumah Bu Rima. Sepertinya enak jika makan mangga yang baru petik dari pohonnya.
Tapi keinginannya dia urungkan mengingat si suami baru saja sembuh. Dia kini masuk ke dalam rumah dengan tangan yang terus menggandeng Aksa.
Kedatangan mereka langsung disambut antusias oleh Mbak Sumi. "Selamat datang, baru semalam tapi rasanya rumah sepi gak ada Mbak Nada sama Mas Aksa. Masuk semua. Saya sudah masak makanan untuk kalian semua sesuai pesan Mbak Nada."
"Oalah Sum, kamu di sini semakin rajin aja."
"Iya dong, tuan. Mbak Nada sekarang the best, sering manjain Sumi."
Mereka tertawa lalu mengobrol di ruang tamu.
"Na, ikut Ibu sebentar yuk?" ajak Bu Diana pada Nada.
Mereka kini naik ke lantai dua dan mengobrol hanya berdua.
"Ada apa Ma?" Mereka kini sama-sama duduk di tepi ranjang.
"Nak, kamu gak merasakan apa-apa? Mual atau pusing?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Cuma kadang pusing aja sih, Ma."
"Kamu udah telat datang bulan?"
Seingat dia terakhir datang bulan waktu hari pernikahannya. "Iya, kayaknya sudah dua minggu."
Bu Diana tersenyum. Benar sekali tebakan suaminya itu. Lalu dia mengeluarkan dua alat tes kehamilan dan diberikan pada Nada. "Coba kamu cek ya besok pagi. Ibu sudah belikan testpack buat kamu. Tapi jangan bilang sama Aksa. Buat kejutan aja sama dia."
__ADS_1
Nada menatap ragu pada kedua benda itu....