
Sinar jingga dari matahari senja menerobos jendela dan membangunkan Aksa dari tidur lelapnya.
"Udah sore." Aksa mengerjapkan matanya lalu dia menatap istrinya yang masih terlelap dalam pelukannya. "Sayang udah sore." Sentuhan lembut Aksa di pipi Nada tak juga membangunkannya. "Sayang.. Mau jadi putri tidur yang dibangunkan pangeran? Oke." Aksa mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir Nada yang memang sedikit terbuka saat tertidur.
Merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibirnya, seketika Nada terbangun. "Mas..."
"Tuan putri akhirnya bangun dari ciuman sang pangeran."
"Ih, pangeran apa?"
"Pangerannya Nada."
Aksa beranjak dari tidurnya lalu mengambil celana pendek dan kaosnya. "Mandi sayang, udah jam 4 lebih. Tadi dhuhur udah kelewat."
Nada kini duduk dengan malas. Dia mengambil botol air minum lalu menegaknya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Untung leher aku gak merah banget." Aksa tersenyum di depan kaca melihat lehernya. Hasil dari hisapan Nada tak berdampak terlalu merah.
"Ih, kok bisa. Udah hisap sekuat tenaga loh." Nada beranjak dari ranjang dan ikut melihat leher Aksa. Iya, terlihat sedikit merah seperti gatal biasa.
"Kamu gak bisa tekniknya. Tuh lihat punya kamu."
Nada melebarkan matanya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Benar-benar ga nas bibir suaminya itu hingga mampu menciptakan tanda merah yang cukup banyak di sekitaran dadanya. "Ih, Mas Aksa." Nada mencubit pinggang Aksa.
Bukan mengaduh tapi Aksa justru terkekeh mendapat cubitan dari Nada. "Tenang, gak ada yang diluar, semuanya di dalam. Kamu mandi aja, biar aku mandi di bawah."
"Kenapa gak mandi bareng aja sih Mas." Nada menarik tangan Aksa menuju kamar mandi.
"Tentu, dengan senang hati." Aksa tersenyum penuh arti. Keagresifan Nada yang sangat Aksa sukai.
__ADS_1
Pintu kamar mandi tertutup. Suara gemercik air terdengar sebagai peredam suara yang sebenarnya.
...***...
Malam itu, Nada masih sibuk berkutat dengan laptopnya sedangkan Aksa dia membaca beberapa materi yang akan diajarkan esok hari.
"Aduh, aku tuh gaptek gini yah." Nada menyandarkan dirinya. Niat hati ingin membuat website untuk pendaftaran tempat kursusnya tapi sedari tadi masih gagal.
Aksa menutup bukunya lalu menyusul Nada naik ke atas ranjang dan duduk di sampingnya. "Memangnya kenapa?"
"Gagal terus dari tadi." Nada tertawa sumbang sambil menatap Aksa.
"Kalau soal ini gampang... Kamu exit aja terus tidur." Aksa mengarahkan kursor dan justru menekan tombol exit.
"Ih, Mas. Ya udahlah minta tolong Kak Satya aja besok. Kak Satya itu pinter urus beginian. Gak kayak kita, punya kelebihan kok bisa sama. Jadi gak bisa saling melengkapi gini."
"Siapa bilang?" Aksa meraih laptop yang ada di pangkuan Nada. "Kita saling melengkapi kok. Waktu di ranjang." Aksa tertawa lepas.
Aksa meletakkan laptopnya di meja lalu dia merebahkan dirinya kembali di samping Nada yang masih duduk bersandar di headboard.
"Kecebong aku udah numbuh belum ya di sini?" Aksa menyentuh perut Nada dan membentuk pola abstrak dengan telunjuknya.
"Kecebong? Ih, baru juga dimasukkin beberapa hari."
"Siapa tahu tokcer Na. Bisa langsung jadi. Eh, tapi ngomong-ngomong kamu mau punya anak berapa?"
"Satu aja dulu, adiknya urusan ntar," jawab Nada yang memang tidak memiliki patokan ingin memiliki anak berapa.
"Kalau aku sih sejadinya."
__ADS_1
"Emang Mas udah siap jadi orang tua?"
Pertanyaan Nada membuat Aksa mendongak lalu dia menegakkan dirinya dan duduk di samping Nada. "Ya siap Na. Ketika aku memutuskan untuk menikahi kamu itu berarti aku sudah siap jadi orang tua juga. Kita nanti belajar sama-sama ya." Aksa meraih tubuh Nada ke dalam pelukannya.
"Na, gak mau nyoba di atas?" tanya Aksa tiba-tiba. Entahlah otaknya travelling kemana hingga dia bertanya seperti itu.
"Di atas apa?" Nada tidak mengerti dengan maksud dan tujuan pertanyaan Aksa.
"Goyang di atas sini." Aksa meraih tubuh Nada dan mendudukannya tepat di atas miliknya yang telah menegang.
"Ih, Mas. Kok udah bangun lagi sih. Bilangin suruh tidur Mas."
"Gak bisa kalau bukan kamu yang nidurin." Aksa memainkan alisnya menggoda Nada.
Pipi Nada bersemu merah. Si perayu ulung itu selalu berhasil menggodanya hingga membuatnya terlena dan mengiyakan kemauan Aksa. Tanpa sadar sudah tidak ada lagi benang yang melekat di tubuh mereka.
"Mas aku gak bisa..."
"Bisa. Tinggal goyangin aja pinggul kamu. Lama-lama pasti enak."
"Ih, Mas." Pipi Nada semakin bersemu merah. Antara mau dan tidak mau. Tapi dia begitu penasaran dengan sensasi baru itu.
Aksa tidak pernah lupa membaca do'a yang menemani perjalanan indahnya.
Setelah itu Nada mulai memimpin permainan mereka. Mengalun indah di setiap gerakan, untuk mencapai kenikmatan bersama.
💞💞💞
Yang ini aku sensor. Kepala author udah pening. 😵
__ADS_1
Sebenarnya mau aku tamatin cerita ini soalnya viewernya ampun sekali meski up 2 bab sehari, tapi beberapa ide masih muncul dan masih bertahan karena ikut event, eman sekali oey. 🤔
Tunggu tanggal 1 ya, kisah Alvin dan Rasya akan kembali dimulai..