
Aksa dan Nada terus berpegangan tangan saat melihat hasil USG yang berada di layar.
"Bu Nada, lihat nih sudah kelihatan ya janinnya. Usia kehamilan sudah 7 minggu. Sudah ada detak jantungnya. Sehat ya bunda dedeknya."
Setetes air mata bahagia itu jatuh saat mendengar suara detak jantung buah hatinya untuk pertama kalinya.
"Sudah terdengar detak jantungnya bunda."
Aksa berkali-kali mengucap syukur lalu mengecup kening Nada dengan penuh kasih sayang.
"Sudah selesai. Saya cetak hasilnya ya."
Aksa membantu Nada untuk duduk lalu turun dari brangkar pemeriksaan. Mereka kembali duduk di depan dokter yang sedang mencatat hasil pemeriksaan.
"Ada keluhan apa bunda?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Hanya sedikit pusing dan kadang mual saja."
"Baik. Itu memang biasa dirasakan pada trimester pertama. Saya kasih vitamin, jangan lupa diminum setiap hari. Bila tidak ada keluhan kita bertemu satu bulan lagi bunda cantik dan ayah ganteng."
Mereka berdua tersenyum. "Terima kasih Dokter."
"Iya, sama-sama."
Aksa menggandeng tangan Nada dengan erat keluar dari ruang periksa.
"Makasih ya sayang."
"Kok makasih lagi sih Mas."
Aksa tersenyum lalu merengkuh pinggang Nada sambil berjalan perlahan. "Iya, karena kamu telah menyempurnakan hidup aku. Ditambah kehadiran buah hati kita."
"Justru aku yang merasa paling sempurna. Sekarang ada kehidupan baru dalam perut aku. Aku merasa sangat istimewa."
Aksa mencium singkat pipi Nada tak peduli jika di rumah sakit itu sedang ramai, biarlah mereka tahu betapa bahagianya pasangan ini.
"Mas, ke rumah Papa ya. Pasti Papa senang dengar kabar ini."
__ADS_1
"Iya sayang."
Mereka berjalan menuju tempat parkir. Setelah masuk ke dalam mobil, Aksa segera melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah sakit.
Nada sedikit bersandar di bahu Aksa sambil terus menatap hasil print out USG nya.
"Hasil karya aku." Aksa mengecup singkat puncak kepala Nada.
Nada hanya terkekeh. Hasil karya? Beginilah bahasa dari guru kesenian.
"Mentang-mentang ngajar kesenian, bilangnya hasil karya."
"Iya memang kan. Hasil jerih payah kita tiap malam."
Nada semakin tersenyum. "Iya, langsung tokcer."
"Alumni cafe ria jelas tokcer, Na."
"Dih, apa hubungannya."
"Pengikut kaum bucinnya Bos Alvin."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam. Wah, kebetulan sekali kalian sudah satang. Papa baru saja mau menghubungi kamu suruh ke sini buat makan malam."
"Makan malam?" tapi sedetik kemudian Aksa paham dengan acara makan malam hari itu karena ada Salma yang sedang duduk di ruang tamu.
"Oo, ada Salma."
Salma hanya tersenyum membalas sapaan Aksa.
"Kak Satya sudah deal sama Salma?" tanya Aksa yang kini duduk di dekat Nada.
"Aku lupa gak cerita sama Mas Aksa," kata Nada.
"Apa?"
__ADS_1
"Kak Satya sama Salma sedang proses ta'aruf."
"Wah, selamat kalau gitu. Jadi ini acara pengenalan Salma."
"Iya, makanya tadi kita mau ajak kalian juga. Eh, ternyata udah ke sini." Satya duduk di dekat Salma yang berjarak setengah meter. "Pasti kalian mau ngasih kabar bahagia kan?" Sesuai tebakan Satya kemarin.
"Kok kak Satya bisa tahu?"
"Tahu dong. Kamu kan biasanya gak suka mangga, kemarin malah beli jus mangga. Udah dibeliin mangga belum sama Aksa?"
Aksa mencebikkan bibirnya. "Gak beli lagi, tapi tadi subuh-subuh aku udah disuruh manjat pohon mangga."
Satya tertawa cukup keras. "Bagus, bagus, lanjutkan ngidamnya ya."
"Nada kamu beneran hamil nak? Udah berapa minggu." Pak Teguh merengkuh bahu Nada yang duduk di sampingnya.
"Tujuh minggu, Pa." lalu Nada menunjukkan hasil USG pada Papanya.
Pak Teguh menatap hasil print out itu dengan mata berkacanya. "Alhamdulillah, cucu pertama Papa. Gak nyangka, Nada gadis kecil Papa sekarang sudah akan menjadi ibu. Sehat-sehat terus ya, jaga kondisi jangan sampai kecapekan."
"Iya Pa. Mas Aksa selalu jagain Nada kok, Pa."
"Alhamdulillah sayang. Ayo, kita makan malam dulu. Semua sudah siap di meja makan. Kita rayakan kebahagiaan ini bersama ya." Pak Teguh beranjak dari duduknya menuju meja makan. Yang diikuti oleh Nada dan Aksa lalu Satya dan Salma.
"Na, kita ada proses ta'aruf gak sih dulu?" bisik Aksa di telinga Nada setelah Nada mengambilkannya nasi.
Satu cubitan mendarat dipinggang Aksa dari Nada. "Ih, Mas Aksa main sosor gitu dibilang ta'aruf."
Mereka masih saling berbisik dan tersenyum.
Aku tidak menyangka sekarang berada di tengah keluarga ini. Waktu begitu cepat berlalu. Teringat dulu waktu pacaran sama Aksa, sekarang dia sudah bahagia bersama istrinya bahkan akan segera punya anak. Alhamdulillah akhirnya aku bisa melalui ini semua dan memantapkan hatiku menerima Kak Satya atas petunjuk dari Allah.
"Makan dulu, jangan bengong." tangan Satya terulur mengambil piring Salma yang masih kosong lalu mengisinya dengan nasi.
"Iya Kak. Aku bisa sendiri." Ingin Salma menahan tangan Satya.
"Udah, gak papa."
__ADS_1
"Makasih Kak."