
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Beberapa momen penting telah terjadi. Salah satunya pernikahan Salma dan Satya.
Perut Nada sudah semakin membesar, kini usia kandungannya sudah jalan 8 bulan. Nada semakin rajin melakukan olahraga kecil di pagi hari dengan jalan-jalan untuk memperlancar persalinan nanti, tentu dengan ditemani suami tercinta. Seperti hari Minggu pagi hari itu.
"Pagi sayang, yuk jalan-jalan." Aksa berjongkok di depan Nada yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia menciumi perut besar Nada. "Eh, Papa di tendang. Sehat-sehat ya sayang." Aksa bermain dengan perut Nada yang bergerak tak beraturan. "Gemes banget."
Nada hanya tersenyum sambil menghabiskan segelas susu yang hangat.
"Sayang, sudah habis? Mau makan roti dulu gak?" Aksa meraih gelas yang telah kosong.
Nada menggelengkan kepalanya. "Aku mau beli pisang. Di tukang sayur biasanya ada."
"Ya udah yuk, sekalian jalan-jalan." Aksa menggandeng tangan Nada keluar dari kamar.
"Mas, kaki aku gak bengkak kan ya." tanya Nada saat mulai melangkahkan kakinya diluar rumah.
"Nggak. Kamu itu bumil aktif. Alhamdulillah ya, tempat kursus kita ramai."
"Kan Mas gak matok tarif, bayar seikhlasnya. Tapi makin berkah rasanya Mas."
Aksa tersenyum lalu merengkuh pinggang Nada. "Iya, Alhamdulillah."
"Kemarin aja ada wartawan yang meliput loh Mas. Siap-siap aja, tempat kursus Mas Aksa jadi viral."
"Wah, kalau semakin banyak yang kursus kita tambah pengajar lagi. Aku punya beberapa kenalan yang punya bakat di bidang musik sepertinya mereka mau kalau diajak bergabung. Soalnya kan sebentar lagi kamu lahiran dan aku juga beberapa bulan lagi mau ambil magister."
Mereka masih mengobrol sambil jalan-jalan pagi yang sesekali menyapa tetangga yang berpapasan dengan mereka.
"Mas Aksa beneran pengen jadi dosen?"
"Iya, Na. Kenapa?"
"Gak papa. Tambah suka. Pak Dosen ganteng." Nada bergelayut manja di lengan Aksa.
"Na, tuh tukang sayurnya. Kayaknya bawa macam-macam buah juga. Aku beliin ya."
"Jangan Mas. Banyak ibu-ibu. Nanti Mas Aksa dicubit-cubit." Nada sudah hafal jika Aksa bertemu dengan ibu-ibu. Mereka sering mencubit gemas lengan atau pipi Aksa karena terpesona dengan ketampanannya.
Nada mendekat ke tukang sayur itu.
"Mau beli apa Mbak Nada?"
"Mau beli buah." kata Nada sambil memilih pisang dan buah jeruk.
"Rajin ya jalan-jalan pagi."
__ADS_1
"Ditemani suami jelas rajin lah bu."
Beberapa ibu-ibu mulai berkomentar.
"Enak banget punya suami ganteng penyayang lagi."
"Udah berapa bulan hamilnya?" tanya salah satu ibu-ibu sambil mengusap perut Nada sesaat.
"Jalan 8 bulan bu."
"Wah, sebentar lagi lahiran ya. Mau lahiran normal atau sesar."
"Insya Allah normal. Kata Dokter semua sehat jadi bisa lahiran normal."
"Loh, sekarang kan banyak yang bisa lahiran normal tapi milih sesar." ucap salah satu ibu-ibu memprovokasi.
"Kenapa bu? Bukannya enak normal?"
Nada hanya menyimak saja karena dia masih belum merasakan yang namanya lahiran dan baru akan merasakan.
"Iya bun, selain mereka gak mau ngerasain sakit pas kontraksi, mereka juga gak mau kalau suaminya merasa kurang puas karena udah longgar."
"Ya kan, bisa ikutan senam lalu minum jamu juga."
"Ya, zaman sekarang ya, lagi marak pelakor. Takutnya kayak gitu, kalau suami gak puas bisa putar haluan."
"Waduh, ngeri juga ya. Wah, mbak Nada pikir-pikir lagi dulu mau lahiran normal atau sesar. Mas Aksa gantengnya kayak gitu jangan sampai dipikat pelakor. Harus dijaga baik-baik."
"Jangan gitu Bu. Bagus dong kalau mau lahiran normal."
"I-iya Bu." Nada hanya tersenyum sumbang. Setelah membayar buahnya dia berjalan mendekati Aksa yang duduk sambil mengobrol dengan Pak Hasan yang sedang menemani cucunya jalan-jalan.
"Udah? Sini aku bawain." Aksa meraih kantong plastik yang dipegang Nada.
Mereka berdua berjalan pulang. Sepanjang perjalanan, Nada masih memikirkan obrolan ibu-ibu tadi. Si bumil harusnya tidak mendengar hal-hal aneh seperti itu.
"Sayang, kok diam aja? Capek?" tanya Aksa saat sudah sampai di rumah. Mereka kini duduk di meja makan. "Minum air putih dulu." Aksa memberikan segelas air putih pada Nada.
Aksa mengusap pelan pinggang Nada karena sejak memasuki trimester ketiga pinggang Nada meang sering terasa pegal. "Pegal pinggangnya?"
"Gak terlalu Mas. Aku mau ke kamar." Nada berdiri secara perlahan setelah menaruh gelas yang telah kosong dan diikuti oleh Aksa.
Di dalam kamar, Nada mengambil buku pemeriksaannya dan melihat beberapa lembar hasil print out USG nya yang dilakukan rutin tiap bulan. Dia tersenyum menatap hasil foto USG 4 dimensi bulan ini. Sudah terlihat bentuk wajahnya. Bahkan dia terlihat tersenyum manis.
"Mas, kayaknya wajahnya mirip kamu. Curang yah, aku yang mengandung tapi malah mirip kamu."
__ADS_1
Aksa ikut duduk di samping istrinya lalu mengambil foto itu. "Mana sih? Belum kelihatan itu. Nanti kalau lahir baru tahu mirip aku atau kamu."
"Lihat deh hidungnya, mancung banget kayak Mas Aksa."
"Ya kan aku yang buat, Na." Aksa tersenyum kecil lalu tangannya mengusap perut Nada. "Semoga lancar sampai harinya nanti."
Nada teringat lagi dengan perkataan ibu-ibu tadi. Kira-kira bagaimana pendapat suaminya jika dia memutuskan untuk sesar?
"Hmm, Mas kalau seandainya aku melahirkan dengan cara sesar gimana?"
Seketika Aksa menatap Nada. Dia kini merengkuh tubuh itu. "Kamu takut sakit? Orang melahirkan itu pasti sakit Na, entah itu normal atau sesar oleh sebab itu balasannya surga. Kamu tenang ya, aku akan selalu menemani kamu."
Nada menggelengkan kepalanya. "Ya, aku tahu Mas orang melahirkan itu sakit. Tapi bukan itu yang aku takutkan."
"Terus?" Aksa menatap Nada tak mengerti.
"Hmmm, itu, hmm..." Nada bingung harus menjelaskan seperti apa.
"Apa? Kenapa? Coba cerita sama aku. Kita cari solusi biar bumil satu ini gak stress."
Nada tidak berani menatap mata Aksa. Dia mainkan jarinya sendiri sambil mulai bercerita.
"Tadi kan kata ibu-ibu kalau melahirkan secara normal nanti itu bisa longgar Mas?"
Aksa mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Maksudnya, Na?"
"Itu Mas maksudnya nanti Mas Aksa bisa gak puas kalau berhubungan soalnya udah gak menggigit lagi."
Seketika tawa Aksa pecah. Sejak hamil Nada memang terlewat polos. Dia selalu memikirkan apa saja yang dibicarakan orang. "Tenang Na. Punya aku kan besar."
Satu cubitan mendarat di pinggang Aksa. "Ih, Mas aku serius."
"Na, udah kamu gak usah dengerin omongan ibu-ibu itu. Yang penting sekarang kamu harus fokus dengam kondisi kamu aja."
"Tapi beneran kan Mas gak bakal kayak gitu. Nanti Mas tergoda lagi sama pelakor."
"Astaghfirullah, Na. Ya gak mungkin aku kayak gitu. Udahlah gak usah mikir aneh-aneh." Aksa mencium pipi Nada. "Yang aku cintai hanya Nada seorang. Apalagi kamu sudah mengandung dan akan melahirkan anak aku. Kamu itu sempurna."
Nada kini memeluk Aksa meski tak seerat biasanya karena terhalang perut yang telah membesar. "Nanti temani aku ya Mas berjuang."
"Kamu bagi sakitnya sama aku juga kalau bisa kayak waktu awal kamu hamil."
"Jangan Mas. Nanti Mas Aksa bisa pingsan lagi."
"Iya. Lemah ya ternyata aku. Gak sekuat kamu. Nada memang hebat."
__ADS_1
💞💞💞
🤣🤣🤣🤣