
"Suami Anda terkena asam lambung dan dehidrasi. Jadi butuh rawat inap setidaknya sampai dua hari. Sudah saya beri obat lambung, setelah mual mereda dan selang satu jam langsung di suapi bubur. Untuk sementara jangan makan yang terlalu kasar dulu."
"Iya Dok, terima kasih." Setelah mendengar penjelasan dari Dokter, Nada dan Satya masuk ke dalam ruangan Aksa dirawat.
Pandangan Aksa dan Nada bersirobok beberapa saat. Nada masih kesal mengingat keras kepalanya Aksa tadi yang tidak mau makan bahkan untuk periksa.
"Na, kamu bisa kan di sini sendiri? Aku pulang dulu ya. Akhir bulan harus cek keuangan kantor." kata Satya karena dia harus segera kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Iya Kak, bisa. Makasih ya Kak. Sudah siap sedia aku panggil."
"Iya, Aksa aku pulang dulu. Semoga lekas sembuh."
"Iya Kak. Makasih Kak."
"Oke." Satya keluar dari ruangan Aksa.
"Udah enakan perutnya? Bentar lagi makan yah." Nada duduk di dekat brangkar Aksa sambil menggenggam tangan Aksa dengan erat.
"Maaf ya, aku udah buat kamu khawatir."
Nada menggelengkan kepalanya. "Sekali ini aja ya Mas sakit. Setelah ini pokoknya jangan sampai kecapekan dan gak boleh telat makan. Kalau merasa gak enak badan langsung berobat. Jangan bandel kayak tadi. Makan gak mau, berobat gak mau. Duh, kayak anak balita aja."
Aksa tersenyum kecil mendengar kecerewetan Nada. Perannya sebagai ibu rumah tangga benar-benar telah dia hayati. "Siap Mom. Aku gak akan bandel lagi."
"Ih, dibilangin serius juga."
"Padahal aku gak papa. Masih kuat. Pulang aja yuk, tidur di rumah."
"Tuh kan keras kepala lagi. Mas Aksa itu udah dehidrasi. Kata Dokter harus opname sampai dua hari."
"Dua hari Na? Kalau gitu kamu pulang aja ya, tidur di rumah." Tangan Aksa terulur dan mengusap rambut kusut Nada. Wajah cantik itu terlihat lelah.
"Terus Mas Aksa mau sama siapa di sini?"
"Aku bisa sendiri."
"Dih, tadi yang hampir pingsan siapa."
"Aku gak mau kamu kecapekan. Kamu udah makan belum?"
Kalimat Aksa berhasil menyentuh perasaannya. Semenjak menikah dengan Aksa, Aksa selalu melarangnya untuk mengerjakan sesuatu yang melelahkan. Dia tidak boleh sampai kecapekan, selain di ranjang tentunya.
Setetes air mata kini jatuh di pipinya. Dia merasa gagal merawat suaminya, belum genap dua bulan menikah tapi suaminya sudah jatuh sakit. Entahlah mengapa perasaannya bisa sesensitif ini. "Mas, gimana aku bisa makan kalau Mas sendiri gak makan seharian. Mas selalu bilang aku gak boleh sampai capek, tapi Mas sendiri ada waktu gak buat istirahat."
"Loh, kok malah nangis sih Na. Aku salah ngomong?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Mas dulu aja yang makan, soal aku gampang." Nada melihat jam terlebih dahulu untuk memastikan satu jam sejak pemberian obat lambung.
"Mas bisa duduk?" Nada membantu Aksa bersandar setengah duduk.
__ADS_1
"Na, biar aku aja."
Nada mengelak saat Aksa akan mengambil sendok yang ada di tangannya. Dia kini mulai menyuapi Aksa meski tanpa suara.
Aksa juga terdiam dan patuh menerima setiap suapan dari Nada. Dia tidak mau istrinya yang cantik itu marah lagi hanya karena dirinya yang keras kepala.
Semangkok bubur akhirnya habis. Setelah membantu Aksa minum, dia kini mengecek suhu badan Aksa dengan punggung tangannya.
Nada bernapas lega, karena suhu badan Aksa sudah tidak sepanas tadi.
"Assalamu'alaikum..." Kedua orang tua Aksa datang ingin melihat keadaannya.
"Wa'alaikumsalam."
"Aksa kok bisa sampai sakit asam lambung lagi nak?" Bu Diana langsung mendekat dan mengusap lengan Aksa.
"Pasti kamu kecapekan. Siang malam kerja terus." Pak Rendra justru tertawa meledek putranya itu.
"Ayah, anaknya sakit malah dikatain."
"Loh, emang bener kan Aksa. Kalau banyak pikiran dan kecapekan asam lambung kamu kambuh. Tapi biasanya kamu gak sampai separah ini." Pak Rendra tiba-tiba menyenggol Bu Diana dan membisikkan sesuatu.
Bu Diana hanya menggelengkan kepalanya. "Masak sih?" Kemudian dia menatap Nada yang masih terduduk dengan lesu. "Na, kamu udah makan nak?"
Nada hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu makan dulu ya, Ibu bawa makanan buat kamu. Ayo." Bu Diana meraih tangan Nada dan mengajaknya duduk bersama di sofa.
"Dihabiskan ya."
Nada sebenarnya tidak nafsu makan tapi untuk menghargai kebaikan Ibu mertuanya, dia mulai memakannya meski sangat pelan.
"Gak papa makan pelan aja yang penting kamu habiskan. Jangan terlalu memikirkan keadaan Aksa. Aksa memang udah beberapa kali kena asam lambung tapi masih aja keras kepala kalau sakit."
"Loh, Ibu itu ke sini mau jenguk anaknya? Atau mau ketemu Nada? Kok malah Nada yang diperhatikan." Aksa protes dengan tingkah Ibunya yang malah menemani Nada makan bahkan sampai mengatainya keras kepala.
Pak Rendra justru tertawa. "Kamu udah makan kan?"
"Udah."
"Ya udah kamu tidur aja." Pak Rendra masih saja mengulum senyum, entah apa yang ada dipikiran Ayah Aksa ini.
"Anak sakit malah diketawain."
"Kamu itu kebanyakan bergadang kalau malam. Jadinya kayak gini. Minum jamu biar kuat. Malu-maluin generasi Ayah aja, nikah baru sebulan lebih masak udah tepar."
Aksa hanya mencebikkan bibirnya. Dia juga tidak tahu, kenapa dia bisa sakit. Padahal setelah menikah dia tidak pernah sampai telat makan. Mungkin benar, dia terlalu kecapekan. Berolahraga setiap malam.
Kedua orang tua Aksa masih menemani mereka sampai larut malam. "Na, kalau kamu mau istirahat di rumah tidak apa-apa. Biar Ibu yang jaga Aksa di sini. Kamu biar diantar Ayah pulang."
__ADS_1
Nada menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma. Biar Nada saja. Mama sama Ayah kalau mau pulang gak papa. Ini udah malam. Aksa juga sudah tidur."
"Terus kamu mau tidur dimana?"
"Bisa tidur di sofa ini, Ma."
Bu Diana mengusap rambut Nada sambil tersenyum. "Ya sudah. Kamu juga jaga kondisi ya. Jangan sampai sakit. Besok pagi Ibu ke sini lagi. Kamu mau makan apa biar Ibu bawakan besok."
Nada menggelengkan kepalanya. "Apa aja, Ma."
Lagi-lagi Bu Diana hanya tersenyum. "Ya sudah. Kamu cepat istirahat." Bu Diana mengajak Pak Rendra untuk pulang.
Setelah orang tua Aksa keluar dari ruangan, Nada berdiri lalu melihat suaminya yang telah tidur dengan lelap. Dia kini duduk di kursi dekat brangkar sambil menopang dagunya. Lama kelamaan rasa kantuk mulai menyerang hingga beberapa kali dagunya harus terlepas dari topangan.
"Na," tiba-tiba saja Aksa terbangun. "Kok kamu gak tidur?" Aksa menggeser dirinya hingga menyisakan ruang kosong di sebelahnya. "Tidur sini."
"Aku tidur di sofa aja." Nada berdiri tapi tangan Aksa mencegahnya. "Bisa tidur tanpa pelukan aku? Wajah kamu kelihatan sangat lelah loh. Sini, tidur sama aku."
Akhirnya Nada naik ke atas brangkar. Dia memeluk tubuh Aksa dan menenggelamkan dirinya di dada Aksa. "Mas jangan sakit lagi ya."
"Iya, ini aku udah enakan. Kamu tidur ya."
Aksa mengusap pelan rambut Nada dengan tangan kirinya yang terinfus.
"Mas hati-hati infusnya."
"Gak papa Na. Udah kamu tidur aja."
Beberapa saat kemudian Nada terlelap dalam dekapannya. Dia kini melihat cairan infus yang tinggal sedikit, pasti sebentar lagi suster akan datang dan menggantinya.
Benar saja, beberapa saat kemudian suster masuk dan tersenyum melihat Nada yang berada dalam dekapan Aksa.
"Permisi, saya ganti ya cairan infusnya." Suster itu mematikan sebentar selang infus lalu mengganti cairan infus dengan yang penuh. "Pak Aksa pengantin baru ya?"
"Iya, Sus."
"Masih mual Pak?"
"Sudah tidak."
Kemudian suster itu mengecek suhu badan Aksa lalu tensi darahnya. "Bagus, semua sudah normal."
"Sus, tolong bilang sama Dokter kalau bisa besok sore saja pulangnya. Kasihan istri saya kalau harus tidur kayak gini."
"Iya, kalau sudah membaik kemungkinan besok memang sudah boleh pulang. Oiya, besok sore juga kebetulan ada Dokter Rasti, Dokter SpOg andalan rumah sakit ini. Mungkin sekalian mau periksa."
Aksa hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi." Suster itu keluar.
__ADS_1
Sedangkan Aksa sendiri masih bingung dengan ucapan suster barusan. "Dokter SpOg itu apa? Hah, udah gak sakit ngapain periksa lagi." Aksa kembali memeluk Nada dan dia segera menyusul Nada ke alam mimpinya.