
Di dalam kamar, Aksa menghidupkan ponselnya. Banyak pesan chat dan grup yang masuk tapi hal pertama yang dia buka adalah pesan dari Nada.
Aksa, lo dimana?
Aksa, masalah lo udah selesai. Gue mau ketemu.
Ada hal penting yang mau gue sampaikan.
Hanya tiga pesan itu, selebihnya panggilan masuk tak terjawab sampai tak terhitung.
"Maafin gue, Na." Hatinya resah, andai malam belum larut dia pasti sudah meluncur ke rumah Nada. Aksa mencoba menghubungi Nada, tapi nomor whatsapp Nada tidak aktif. Tunggu dulu, bukan tidak aktif tapi nomornya seperti di blokir sama Nada. Ingin dia menghubungi Nada lewat jaringan selular tapi dia tidak punya pulsa. (Reader tolong kirim pulsa ke Aksa, soalnya kang pulsa jauh. 😁)
"Please Na, jangan tinggalin gue." Aksa berusaha menghubunginya lewat Direct Message instagram. Berharap Nada membuka dan membacanya.
Bagaimana dia bisa tidur malam itu, jika setengah pikirannya tersita memikirkan Nada. Aksa kembali membaca surat dari Nada. Dan mungkin sudah kesekian kalinya.
"Aku juga sayang kamu, Na." jawabnya meski Nada tidak mendengarnya, hanya berharap suaranya bisa menembus batas ruang dan waktu.
...***...
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke kampus Aksa datang ke rumah Nada. Rumahnya nampak sepi meski pintu gerbangnya tetap dibuka sedikit.
Aksa turun dari motornya. Dia berjalan menuju pintu lalu menekan bel rumahnya. Sampai beberapa kali pintu tak juga terbuka.
__ADS_1
Dia tekan sekali lagi, akhirnya pintu itu terbuka tapi bukan Nada yang diharapkannya yang sekarang ada di hadapannya. Hanya ada mbak Sumi yang membukakan pintu itu.
"Mbak, Nada ada?"
"Waduh Mas. Mbak Nada sekeluarga berangkat ke Bandung Mas tadi pagi-pagi sekali."
"Bandung Mbak? Ada acara apa?"
"Hmm, anu..." Mbak Sumi menggaruk tengkuk lehernya sesaat. "Sepertinya Mbak Nada mau lanjut kuliah di sana."
Seketika Aksa terdiam. Apa Nada benar-benar telah meninggalkannya atau hanya alibi untuk menghindarinya. "Serius mbak? Mbak gak bohong kan?" Ingin Aksa menerobos dan memeriksa sendiri apa Nada benar-benar tidak ada di rumahnya tapi dihalangi oleh Mbak Sumi.
"Iya Mas, tidak ada siapa-siapa selain saya."
"Mas ini udah ganteng, manis lagi. Kalau Mbak Nada gak mau sama Mas, saya mau kok sama Mas."
Aksa memutar bola matanya. Asisten rumah tangga Nada itu tak ubahnya seperti cacing kepanasan. "Maaf Mbak, tapi saya yang tidak mau." Kemudian Aksa segera menuju motornya dan naik ke atas motor. Beberapa saat kemudian motor Aksa melaju meninggalkan rumah Nada.
Na, gue gak akan sia-siakan kesempatan ini. Seperti yang lo bilang, see you on top. Kita jumpa lagi Na, ketika gue udah sukses.
Jalanan pagi itu yang tidak begitu ramai membuatnya cepat sampai di kampus. Dia turun dari motor dan melepas helmnya. Ada yang kurang rasanya jika tanpa Nada.
Dia kini berjalan menyusuri lorong kampus. Ada beberapa teman yang menyapa dan meminta maaf padanya. Andai saja Nada berada di sampingnya saat ini pasti kebahagiaannya akan terasa sangat lengkap.
__ADS_1
"Aksa, akhirnya lo balik lagi." Deni si ketua BEM itu kini ikut berjalan di samping Aksa.
"Iya, Alhamdulillah, masalah gue cepat selesai."
"Ngomong-ngomong lo udah tahu soal Radit?"
"Gue udah baca sedikit berita di grup." viralnya berita Radit sudah memenuhi beberapa grup yang ada di kampus. Aksa tidak menyangka, Radit sampai berbuat nekat seperti itu.
"Gue gak nyangka dia seperti itu. Eh, gue dengar Nada pindah dari kampus ini?"
Ucapan Deni membuat Aksa menghela napasnya panjang. Satu hal yang sangat dia sesali saat ini.
"Sabar aja. Gue dengar dari Pak Reno, Nada ngelakuin ini karena dia gak mau ada gosip lagi tentang kecurangan lo. Kalau lo emang jodoh sama dia, lo pasti akan bertemu lagi."
Aksa mengangguk paham.
"Lo mau ikut kita gak? Nanti kita mau jenguk Salma."
Aksa terdiam beberapa saat. Sebenarnya dia cukup iba juga dengan apa yang menimpa Salma. "Iya, nanti gue ikut."
Baru sehari kuliah tanpa Nada, rasanya sangat sepi. Apa Nada juga merasakan hal yang sama saat ini?
Na, gue udah kangen sama lo. Gimana caranya gue lalui hari-hari tanpa lo.
__ADS_1
Aksa membuang napas kasar. Dia yang telah duduk di dalam kelas harus kembali fokus pada materi. Ingat, dia harus bisa segera meraih impiannya. Karena dia yakin, Nada menunggunya di ujung kesuksesan.