
"Aksa kok gak masuk hari ini? Jangan-jangan dia beneran gak pulang?" Nada dengan gelisah terus memikirkan Aksara. Sejak dia datang ke kampus, sampai kelas selesai siang itu, orang yang berhasil menyita sebagian waktunya itu tak juga nampak.
Nada kini mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi Aksara, tapi nomornya tidak aktif. Baik whatsapp maupun selular.
Apa Aksa masih di cafe ya?
Nada berpikir beberapa saat, lalu dia mencari nomor Cafe Ria di google. Setelah berhasil menemukannya, Nada segera menghubunginya. Cukup lama, hingga akhirnya suara seorang lelaki di seberang sana mengangkat panggilan Nada.
"Siang, Pak. Apa Aksara masih ada di cafe? Bisa saya bicara dengannya?"
"Aksara baru saja pulang..."
"Oiya Pak, terima kasih." Nada memutuskan panggilannya. Dia kini segera berjalan menuju tempat parkir. Setelah memakai helm dan mengendarai motornya, dia segera pergi meninggalkan kampus. Dia memang berniat ke rumah Aksara. Entahlah kenapa tiba-tiba dia ingin bertemu dengannya.
Dia masih ingat betul jalanan menuju rumah Aksara walau baru satu kali ke sana. Setelah sampai di depan gang, dia memarkir sepeda motornya di depan sebuah toko daripada harus menuntunnya masuk ke dalam gang kecil.
Setelah itu dia berjalan menuju rumah Aksara. Langkah Nada berhenti di depan rumah bercat biru itu. Dia masuk ke dalam teras rumahnya. Saat akan mengucap salam, tanpa sengaja Nada justru mendengar cuplikan cerita dari Ayah Aksara.
"Iya, Aksa sekarang mengerti. Tapi siapa nama sahabat Ayah itu?"
"Teguh Wiratno..."
Teguh Wiratno? Teguh Wiratno itu kan nama Papa. Apa yang dimaksud Ayahnya Aksa adalah Papa.
"Teguh Wiratno?"
Perkataan Nada seketika membuat kedua orang yang berada dalam ruang tamu itu menoleh ke ambang pintu.
"Nada? Sejak kapan lo ada di situ?" Aksara berjalan mendekati Nada. "Ada perlu apa? Sini masuk dulu."
"Eh, hmm," Nada kini berjalan masuk. Sebenarnya dia masih sangat penasaran dengan orang yang Pak Rendra maksud. "Teguh Wiratno yang om maksud apa pernah mengikuti grammy award dan menjadi runner up?"
__ADS_1
Pak Rendra kini menatap gadis yang sedang bertanya itu. "Iya, kenapa?"
Nada terdiam beberapa saat. Apa benar bahwa Papanya adalah perebut mimpi seperti yang Pak Rendra ceritakan. "Dia Papa saya."
Pengakuan Nada membuat kedua lelaki ini menatapnya.
"Tapi saya yakin, Papa tidak..."
"Sudah, kamu tidak perlu membela Papa kamu di sini lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan ada hubungan apa-apa lagi sama Aksa." Tanpa menunggu reaksi dari mereka, Pak Rendra masuk ke dalam kamarnya.
Aksara kini terduduk di kursi. Kenyataan ini begitu memilukan. Mengapa semua ini terjadi dalam hidupnya? Semua yang dia sukai berhubungan dengan masa lalu Ayahnya.
"Aksa, gue yakin ini cuma salah paham."
Aksara hanya terdiam. Dia sendiri tidak tahu, harus membela Ayahnya atau Nada. Tapi kembali pada kenyataan bahwa dirinya dan Nada tidak ada hubungan apa-apa.
"Lebih baik sekarang lo pulang."
Hatinya sebenarnya tidak mau Nada pergi. Dia kini berdiri dan ikut berjalan keluar dari rumah. Tapi dia hanya bisa menatap punggung Nada yang kian jauh berjalan di gang sempit rumahnya.
...***...
Sampainya di rumah, Nada segera masuk.
"Pa," Seketika Nada duduk di samping Papanya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Nada, ada apa? Kenapa wajahnya serius gini?' Pak Teguh kini mengusap keringat yang mengalir di pelipis putrinya. Tidak biasanya dia melihat wajah putrinya yang begitu tegang.
"Pa, apa Papa kenal sama Pak Rendra?"
Mendengar nama itu, seketika Pak Teguh menghentikan usapan tangannya. Dia kini tampak menghela napas panjang. "Rendra?"
__ADS_1
Nada menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak Rendra. Apa Papa dulu lolos ke grammy award dengan cara curang?"
Pak Teguh membulatkan matanya. Dia cukup terkejut dengan pertanyaan putrinya ini. "Darimana kamu tahu?"
"Iya apa tidak, Pa?"
Pak Teguh menghela napas panjang. "Papa sebenarnya juga tidak mau, tapi kakek kamu yang memaksa. Dulu Papa dan Rendra adalah sahabat dekat. Kita sama-sama berjuang tapi Papa akui kemampuan Rendra itu sangat hebat. Keahliannya bermain piano itu jauh di atas Papa. Hingga dia berhasil lolos untuk mengikuti grammy award. Tapi kakek kamu tidak terima. Dia gunakan uang dan kekuasaannya untuk menyingkirkan Rendra. Papa sangat kecewa dan Papa juga terpaksa menuruti keinginan kakek kamu. Papa sangat menyesal, karena sejak saat itu Rendra jadi benci sama Papa dan dia hilang tanpa kabar." Satu helaan panjang terdengar diujung ceritanya. "Seandainya saja Rendra yang mengikuti kompetisi itu, pasti dia menang tidak hanya jadi runner up seperti Papa."
Nada hanya tertegun. Ini cerita versi Papanya.
"Darimana kamu tahu masalah ini?" tanya Pak Teguh sambil menatap Nada yang duduk di sampingnya.
"Pak Rendra itu Ayah Aksa."
Pak Teguh sangat terkejut. Pantaslah, dia merasa tidak asing dengan wajah Aksara.
"Dimana rumah mereka? Papa mau bertemu dengan Rendra."
Nada menggelengkan kepalanya. "Jangan dulu Pa. Keadaan masih memanas."
"Memanas?"
Nada menganggukkan kepalanya. "Gara-gara masalah Papa dan Ayah Aksa di masa lalu, Aksa tidak boleh masuk fakultas musik, tapi Aksa masih kekeh. Dia bohong pada Ayahnya dan baru kemarin ketahuan."
"Aksa itu mirip sekali sama Rendra. Wajah sampai semangatnya benar-benar mirip. Lalu hubungan kamu dan Aksa?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Nada gak ada hubungan apa-apa dengan Aksa," jawab Nada lirih.
"Apa kamu cinta sama Aksa?"
Nada tidak bisa menjawabnya, dia sendiri masih bingung dengan perasaannya.
__ADS_1
"Baik kamu maupun Aksa tidak seharusnya menjadi korban dari masa lalu Papa yang buruk."