
Pagi hari, di rumah baru, dan tentu dengan aktifitas yang baru juga.
Aksa baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Aroma harum begitu menguar membuat Nada yang sedang mempersiapkan pakaian Aksa sedikit terlena.
"Sayang," Aksa memeluk tubuh yang kini berdiri di depan lemari yang sedang terbuka itu dari belakang. "Gini ya enaknya udah nikah. Ada yang dipeluk, terus ada yang nyiapin keperluan aku tiap pagi."
Nada hanya mencibir. Terkadang suaminya itu memang terlalu berlebihan memujinya. "Pakai baju dulu Mas."
"Oke."
"Mas nanti pulang jam berapa? Kak Satya ajak aku keluar katanya mau ada yang diomongin sama sekalian aku ke ace hardware ya Mas, lihat-lihat peralatan buat ngajar kursus." Tangan Nada kini terulur membantu Aksa mengancingkan kemejanya.
"Sekitar jam 11 aku udah pulang, gak ada kelas siang." Aksa terus menatap paras cantik Nada yang kini telah mengancing di kancing terakhir kemejanya.
"Ya udah nanti jemput di ace hardware aja ya Mas. Mas bawa mobil aja."
"Iya." Aksa menarik tubuh istrinya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Mendekatkan wajahnya dan memberi ciuman hangat di pagi hari itu.
"Sayang, udah sembuh kan? Tonight..." kata Aksa setelah melepas pagutannya.
Pipi Nada bersemu merah. Memang sudah tiga hari sejak malam pertama itu Aksa tidak melakukannya lagi. Ternyata suami nakalnya masih sanggup menahannya.
"Tapi jangan lama-lama kayak yang pertama ya Mas."
Aksa tersenyum simpul lalu membisikkan kalimat yang mampu membuat dada Nada berdebar-debar. "Kali ini pasti lebih menggetarkan." Aksa berlalu setelah menyapu lembut daun telinga Nada.
Nada terpaku beberapa saat, merasakan getaran yang sudah menyerang tubuhnya.
Aksa tersenyum kecil sambil menyisir rambutnya. "Udah pengen? Nanti malam aja sayang," goda Aksa.
"Ih, siapa yang pengen." Nada keluar dari kamar. Dia menuju meja makan dan menyiapkan makanan untuk Aksa.
...***...
"Na, aku mau tanya soal Salma?" kata Satya mengungkap tujuannya mengajak Nada bicara berdua. Mereka kini berada di cafe Ria. Cafe yang tetap menjadi langganan setia mereka saat mengobrol. Selain dapat diskon tentu karena tempatnya yang nyaman.
Nada menghentikan gerak mulutnya menyedot jus alpukat dari gelasnya mendengar pertanyaan dari Satya. "Salma? Kak Satya ini serius naksir Salma?"
"Iya, semakin ke sini aku semakin penasaran sama Salma. Ada masa lalu apa yang membuat Salma gak mau dideketi sama cowok?"
Nada menghela napas panjang. "Kak, bukannya aku gak mau cerita tapi kalau aku cerita kesannya kayak mengumbar aib orang."
"Aib? Na, kalau gak ada yang kasih tahu aku ya bagaimana aku tahu masalah Salma." Satya menyandarkan dirinya sambil melipat tangannya. "Apa masa lalunya ada hubungannya dengan Aksa? Atau dia patah hati sama Aksa?"
__ADS_1
"Nggak Kak. Ini bukan tentang Aksa." Nada menghela napas panjang lalu menatap wajah Kakaknya. Selama ini Nada tahu persis, jika Kakaknya enggan mendekati gadis sembarangan. "Baik, aku akan ceritakan sama Kak Satya."
Satya memasang telinganya untuk mendengarkan cerita Nada setelah sebelumnya dia meminum kopinya terlebih dahulu.
"Dulu setelah Salma putus sama Aksa, dia terlibat hubungan gelap sama temannya Aksa. Sepertinya itu sih rencana temannya Aksa yang munafik dan pengkhianat. Dia sengaja menggoda gadis yang pernah dekat dengan Aksa. Aku juga gak tahu kenapa bisa Salma tergoda sama dia sampai melakukan hal di luar batas wajar."
"Di luar batas wajar?" Satya menautkan alisnya. Oke, kali ini dia mengerti maksud itu.
"Dan," Nada menghentikan pembicaraannya sesaat. "Salma sampai hamil lalu dipaksa menggugurkan sama cowok brengsek itu sampai pendarahan dan masuk rumah sakit."
Satya menghela napas panjang. Jadi seperti itu cerita yang sebenarnya. Pantaslah Salma trauma sampai sekarang.
"Sepertinya Salma benar-benar menyesal dengan perbuatannya itu. Sekarang terserah Kak Satya mau menerima masa lalu Salma atau gak?"
"Semua orang itu gak ada yang sempurna, Nad. Aku tahu sebenarnya sekarang dia sedang rapuh, butuh seseorang untuk menguatkannya."
"So?"
"Aku akan tetap coba mendekatinya lagi."
"Oke, oke. Good luck ya kak. Jadi next bucin selanjutnya." Nada tertawa singkat lalu menghabiskan minumannya. "Kak, antar aku ke ace hardware ya. Nanti kakak tinggal saja gak papa. Aku sudah janjian sama Aksa di sana."
"Oke."
Tak butuh waktu lama, Satya menghentikan mobilnya persis di depan tempat itu. "Na, aku gak ikut ya. Aku mau langsung ke kantor."
"Iya Kak. Gak papa." Nada keluar dari mobil lalu segera masuk ke dalam toko perabot itu. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru toko yang sangat luas sambil berjalan tanpa arah karena mencari letak barang yang dia butuhkan.
"Nada."
Mendengar ada yang menyebut namanya, Nada membalikkan badannya. "Aldo. Hei, apa kabar?"
"Gue baik. Mau cari apa? Biar gue tunjukkan tempatnya."
Nada melihat name tag yang menggantung di lehernya. "Wih, keren. Sekarang jadi manager di sini."
"Biasa aja."
...***...
Aksa mengemasi beberapa bukunya karena jam mengajarnya sudah selesai.
"Pak, mau pulang?" tanya Bu Nurul, seorang guru Bahasa Indonesia.
__ADS_1
"Iya Bu. Kebetulan jam mengajar saya sudah selesai." Aksa yang memang belum menjadi guru tetap di sekolah itu bisa pulang kapan saja selama tidak ada jadwal mengajar lagi. Bahkan jadwal mengajarnya bisa disesuaikan dengan sekolah satunya.
"Tadi ada pesan dari Pak Kepsek, apa Pak Aksa mau mengajar ekskul musik di sini?"
Selagi Aksa bisa, dia pasti mau. "Insya Allah. Iya saya mau."
"Kalau begitu besok saya kasih jadwal ya. Pasti anak-anak di sini sangat antusias kalau guru pembimbingnya Pak Aksa karena sudah dua tahun ini ekskul itu sempat vakum."
"Iya bu, kalau begitu saya permisi dulu."
Aksa keluar dari ruang guru dengan semangat. Memang beda rasanya jika sudah punya istri. Rasanya dia ingin cepat-cepat pulang karena ada istri yang sedang menunggunya.
"Pak, mau pulang?" tanya salah satu siswi yang memang kebetulan saat itu jam istirahat kedua, jadi di beberapa lorong kelas dipenuhi dengan murid-muridnya.
"Iya."
"Pak kemarin jadi hari patah hati nasional loh pas kita tahu bapak udah nikah."
Aksa hanya tersenyum tipis sambil tetap melangkah.
"Pak, katanya mau buka kursus di rumah?"
"Iya. Insya Allah buka dua minggu lagi. Nanti saya kasih web pendaftarannya kalau berminat."
"Oke, Pak."
Setelah sampai di tempat parkir, Aksa segera masuk ke dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil itu telah melaju meninggalkan tempat parkir. Dia segera menuju ke tempat shareloc istri tercintanya.
Jalanan yang dilalui tak begitu ramai. Hingga dia kini telah sampai di tempat tujuan. Memarkir mobilnya lalu dia turun dan masuk ke ace hardware.
Dia edarkan pandangannya sambil melangkah masuk ke dalam toko perabotan yang sangat luas itu.
Nada sama siapa?
Dari kejauhan dia bisa menangkap bayangan istrinya yang sedang bercanda dengan seorang lelaki. Tertawa lepas sambil sesekali memukul lengan lelaki itu....
💞💞💞
.
.
Duh, author pengen lihat Aksa cemburu. Gimana sih si playboy tobat itu kalau lagi cemburu?? 🤔🤔
__ADS_1