
Nada menggeliat sesaat karena badannya terasa sangat pegal. Tidur berdempetan dengan Aksa membuatnya tidak leluasa untuk bergerak.
"Sayang, udah bangun? Pegal ya tidur sempit-sempitan."
Nada mengerjapkan matanya lalu perlahan dia duduk. Kepalanya terasa pusing, apa karena semalam dia terbangun beberapa kali karena hampir menyenggol infus yang terpasang di tangan Aksa.
Dia pijit pelipisnya sesaat untuk menghilangkan kepalanya yang terasa sangat berat.
"Sayang, pusing? Kamu pulang aja ya. Istirahat di rumah." Aksa duduk lalu merengkuh tubuh Nada.
Nada menggelengkan kepalanya. "Aku mau jagain Mas di sini. Udah jangan bawel."
Seketika Aksa terdiam. Sepertinya kosa kata yang keluar dari mulutnya hanya beberapa kenapa Nada sudah menyebutnya bawel.
"Mas mau ke kamar mandi? Biar aku bantu."
Kali ini Aksa hanya terdiam. Patuh dan taat dengan ibu komandan.
Aksa turun dari brangkar. Meskipun masih lemas, tapi untuk berjalan menuju kamar mandi sebenarnya dia sudah memiliki tenaga. Meski demikian dia membiarkan Nada menuntunnya sambil memegang infus. Jauh lebih baik daripada dirinya dikatai keras kepala, bandel, atau bawel.
"Na, mau lihat?"
Nada meletakkan infus pada tiang penyangga yang berada di dekat kloset. "Ih, Mas. Aku ambil handuk sama perlengkapan Mas dulu. Semalam sudah dibawakan sama Mama."
"Kirain mau bantu buang air juga."
Satu cubitan kecil mendarat di pinggang Aksa. "Ih, badannya baru enakan udah omes aja." Nada berlenggang keluar.
Sedangkan Aksa hanya tertawa sambil menuntaskan buang airnya.
"Mas sudah?" tanya Nada. Terkadang Nada memang terlewat polos. Seluruh badan suaminya sudah dia lihat dan nikmati mengapa masih bertanya sudahkah.
"Udah."
Nada masuk sambil membawa handuk kecil dan baju ganti Aksa. "Sini Mas, aku bantu seka dulu ya." Nada membantu Aksa cuci muka terlebih dahulu lalu gosok gigi. Kemudian Nada melepas baju Aksa dan mulai menyeka tubuh Aksa dengan handuk yang telah dibasahi air hangat. Mulai dari dada lalu punggung dan kedua tangannya.
Aksa tak hentinya menatap wajah Nada. Meskipun tanpa make up dan terlihat lelah, tapi tetap tak mengurangi kecantikan itu. "Aku sayang kamu, Na."
Nada hanya melirik suaminya lalu dia membantu memakaikan baju.
"Na, yang bawah gak?"
"Ih, maunya."
"Ya udah biar aku ganti sendiri. Kamu tunggu diluar ya."
Nada tak juga keluar. Dia kini membantu Aksa melepas celananya dan menyeka bagian bawah tubuh Aksa dengan air hangat.
"Ih, Mas kok berdiri. Bisa gitu ya. Badannya sakit tapi otaknya masih mesum."
__ADS_1
Aksa hanya terkekeh. Karena mendapat sentuhan lembut dari tangan Nada membuatnya seperti mendapat asupan lebih.
"Udah ah, pakai celananya lagi."
Setelah semua selesai. Nada meraih infus itu dan berniat menuntun Aksa untuk keluar dari kamar mandi, tapi bukan Aksa namanya jika tidak memanfaatkan keadaan sesempit apapun. Tiba-tiba tangannya menahan tengkuk leher Nada dan menciumnya lembut. Pahitnya bibir Aksa seketika hilang terganti oleh rasa manis bibir Nada.
"Mas.." Nada menjauh dengan ekspresi lain. "Aku belum gosok gigi. Perut aku jadi gak enak kan."
Aksa mengernyitkan dahinya menatap Nada. Biasanya setiap pagi pertama kali yang dia lakukan saat membuka mata adalah memberi morning kiss pada Nada. Tanpa minum terlebih dahulu atau bahkan gosok gigi.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Aksa yang hanya dijawab gelengan dari Nada.
Nada kembali menuntun Aksa keluar dari kamar mandi.
"Wah, kalau ada istri cantik yang merawat bisa cepat sembuh ya. Masih pagi sudah segar." seloroh suster yang mengantar obat dan makanan untuk Aksa.
Mereka berdua hanya tersenyum lalu Aksa kembali naik ke atas brangkar.
"Diminum dulu obatnya. Seperti biasa, setelah satu jam baru boleh makan."
"Iya Sus. Saya sudah boleh pulang kan sus nanti sore?"
"Iya, sudah boleh. Nanti siang Dokter akan memeriksa kondisi Pak Aksa secara keseluruhan baru boleh pulang."
"Terima kasih, Sus."
"Iya, sama-sama." Kemudian suster itu keluar dari ruangan Aksa.
"Iya, Mas jangan sakit lagi ya."
"Iya, Na. Tapi namanya manusia biasa, hanya bisa mencegah dan berdo'a."
"Tapi paling tidak jangan keras kepala kalau lagi sakit. Kalau merasa gak enak badan cepat minum obat dan istirahat, gak usah kerja dulu." Lagi, mode emak-emak aktif kembali.
Aksa hanya mengangguk sambil tersenyum. Bersyukurnya dia memiliki Nada dalam hidupnya...
.
.
💞💞💞
Yang mau tahu cerita Bos Alvin.. Yuk, cus cek profil atau cari di pencarian... Dalam cerita itu jauh sebelum Aksa kenal Nada ya...
...x x x...
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
"Will you marry me?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang seharusnya disambut oleh Rili dengan penuh kebahagiaan karena kekasih yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya kini melamarnya. Bukannya dia tidak mau atau dia tidak cinta. Tapi ada satu hal yang membuatnya meragu menerima lamaran itu segera.
Alvin berlutut di hadapan Rili dengan mengulurkan sebuah cincin. Berharap gadisnya berkata ya. Rili yang telah menemani perjalanan hidupnya mulai dari SMA sampai dia sukses dan memiliki sebuah cafe. Hanya dia tempat labuhan terakhir hidupnya.
"Rili, say yes please..."
Perkataan itu membuat Rili membuyarkan tatapan kosongnya. "Maksa?"
"Iya, udah pegal lutut aku." Suasana yang romantis seketika ambyar.
Rili tertawa, karena memang sedari tadi dia sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri. Dia kini meraih tangan Alvin lalu membantunya berdiri. "Tunggu ya, sebentar lagi. Bukannya aku gak mau tapi..."
Satu tangan kini mengusap lembut di puncak kepala Rili. "Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu. Rasya kan? Kamu ingin Kakak kamu menikah dulu. Oke, aku akan menunggu tapi jangan sampai tua, karena aku gak mau jadi perjaka tua."
Alvin selalu saja bisa membuatnya tertawa. "Makasih ya..."
"Sama-sama. Kamu aja bisa nunggu aku sampai 4 tahun waktu aku tinggal kuliah diluar negri, masak aku nunggu kamu gak bisa." Alvin meraih jemari Rili lalu memakaikan cincin itu. "Cincinnya kamu pakai saja. Karena pernikahan kita hanya menunggu waktu bukan karena penolakan dari kamu."
Rili tersenyum lalu menatap cincin indah yang kini telah melekat di jari manisnya.
"I love you..." Alvin meraih tubuh itu dalam peluknya.
"I love you too." Rili membalas pelukan Alvin dengan erat.
Meski telah berpacaran hampir 8 tahun, rasa itu masih tetap sama. Bahkan terasa semakin besar. Seiring berjalannya waktu dengan berbagai rintangan yang mereka lalui membuat hubungan itu semakin kuat dan tentu pikiran mereka semakin dewasa.
"Rasya, kenalin sama teman kuliah kamu gitu, biar es kutub mencair."
"Udah, tapi tetap aja dingin kayak gitu. Udah hampir 8 tahun Kak Rasya masih belum bisa move on dari Dara."
"Memang berat melupakan seseorang apalagi..." Alvin menghentikan perkataannya, dia teringat lagi kejadian tragis itu, dimana Dara menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan Rasya.
"Iya, memang sulit melupakan semua itu."
"Hmm, apa Rasya gak tahu kalau adiknya ini udah kebelet kawin?"
"Ih, siapa yang kebelet kawin. Mas Alvin kali."
"Benar 200 persen. Biar gak lakuin khilaf yang disengaja kayak gini." Alvin menatap kedua netra Rili begitu dalam.
Selalu saja Rili tersihir dengan tatapan itu. Tatapan yang seperti magnet yang mampu menariknya untuk semakin mendekat.
Sudah tidak ada jarak di antara kedua wajah mereka. Kedua bibir yang menyatu dengan lembut menghantarkan sebuah rasa cinta yang teramat besar.
"Bos, ada apa katanya mang...." Kedatangan Aksa yang tiba-tiba ke taman cafe membuat bos yang sedang memagut cinta itu menjauh.
................
...x x x x x x...
__ADS_1
...x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x...