
"Iya, gue gak akan ninggalin lo." Aksa menatap kedua netra Nada dengan teduh.
"Ma-maksud gue bukan gitu..." Nada tiba-tiba saja menjadi gerogi saat mendapat tatapan cinta dari Aksara.
"Terus?"
"Hmm, maksudnya ya temani gue."
"Sama aja kan. Gue gak akan ninggalin lo dan gue akan selalu temani lo kalau bisa seumur hidup gue." ucap Aksa dengan segala keseriusannya.
Merasa tidak mampu menahan debaran di dirinya, Nada menundukkan pandangannya. Dia masih takut untuk berharap banyak. Apa benar Aksa akan selalu ada untuknya dan menemani sepanjang hidupnya.
"Trust me," bisik Aksa di dekat telinga Nada yang seketika membuat pipi Nada memerah. "Ada acara gak? Jalan yuk? Sebagai kencan pertama kita."
"Kencan? Kapan kita jadian?"
Aksa tersenyum. Dia memang belum menembak Nada secara resmi dan dia tidak akan melakukan itu. Dia ingin langsung melamarnya suatu saat nanti. "Gue gak mau jadian sama lo."
Perkataan Aksa membuat Nada kini menatapnya. "Kenapa?"
"Karena gue gak mau kita putus. Udah cukup gue pacaran putus pacaran putus terus. Mending gue langsung lamar lo, biar kita bisa bersama selamanya."
Nada tersenyum malu. Bisa-bisanya hatinya sekarang berbunga-bunga mendengar kata manis dari Aksa.
"Gimana? Free?"
"Iya, mau kemana?"
"Nonton bioskop yuk, lihat film KKN."
"Film horor?" Nada nampak berpikir. Sejujurnya dia takut menonton film horor.
"Kenapa? Takut? Kalau takut bisa langsung peluk gue."
Seketika Nada melepas tangan Aksa yang berada di pundaknya. "Ih, modus."
Aksa terkekeh lalu dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. "Gue pesenin tiket sama temen gue dulu ya. Takut kehabisan soalnya ramai banget."
"Teman apa mantan?"
Aksa tertawa. Masih saja Nada sensitif jika menyangkut soal mantan. "Teman dong. Ya udah yuk." Aksa berdiri lalu menggandeng tangan Nada dan mengajaknya untuk segera naik ke atas motor.
Aksa tersenyum tipis saat merasakan tangan Nada yang kini memeluknya. Rasanya dia ingin semakin memelankan laju motornya agar momen ini tidak cepat berlalu.
Dia usap sesaat tangan Nada yang ada di perutnya yang membuat dada Nada seketika berdebar-debar. Inikah yang dinamakan jatuh cinta itu? Benar-benar terasa indah.
Seperti ada magnet yang membuat Nada semakin menempelkan tubuhnya bahkan dagunya kini bersandar di bahu Aksa.
"Na, kita keliling kota dulu yuk?"
"Ngapain?"
"Gue ingin ngerasain momen ini lebih lama."
__ADS_1
Nada hanya tersenyum, dia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Yah, udah sampai." Inginnya memang mengajak Nada keliling kota tapi dia takut tertinggal film yang sudah dia pesankan tiket.
"Ayo!" setelah memarkir motornya, Aksa menggandeng tangan Nada masuk ke dalam mall dan naik menuju lantai tiga. Mereka kini masuk ke dalam Mandala 21 dan menuju ke tempat pembelian tiket.
"Untung lo pesan dulu tiketnya. Sekarang udah habis," kata Sari teman SMA Aksa yang bekerja di bioskop itu.
"Oke. Makasih ya Sar."
"Ceweknya?" tanya Sari sambil menunjuk Nada.
"Iya, kenalin dia Nada."
Mereka berdua bersalaman sambil tersenyum.
"Widih, high quality banget selera lo. Udah sana masuk. Sebentar lagi udah dimulai filmnya."
Aksa kembali menggandeng Nada dan mengajak masuk ke dalam ruang cinema 2. Kebetulan mereka duduk di kursi nomor 4 dari atas dan paling pojok.
"Aksa, tadi gak beli pop corn dulu."
"Daripada antri di depan mending di sini kan." Aksa melambaikan tangannya pada pria yang menjajakan popcorn dan minuman.
"Dua paket ya," kata Aksa sambil menyodorkan uang yang berwarna biru itu. "Nih!" Aksa memberikan pop corn beserta minuman pada Nada.
"Makasih. Lo traktir nih semuanya?" kata Nada lalu dia mulai menyedot minuman dingin itu.
"Iya, emang lo pikir gue gak punya uang buat nraktir lo. Gue kan udah kerja."
Aksa tersenyum. Tangan kanannya kini meraih tangan kiri Nada dan menggengamnya dengan erat.
Lampu sudah dipadamkan. Film mulai diputar. Sebenarnya Aksa tidak terlalu tertarik dengan film itu, dia justru sangat tertarik dengan seseorang yang kini duduk di sebelahnya. Dia terus menatapnya dengan senyum kecil yang terukir di bibirnya.
Tersadar akan tatapan Aksa, Nada kini mengalihkan pandangannya dari layar. Mereka kini saling menatap. Sudah tidak menyimak lagi alur cerita di film itu.
Aksa memberi usapan-usapan lembut di
tangan Nada yang membuat getaran-getaran menjalar ke seluruh tubuh. Dia buka telapak tangan Nada. Dia gerakkan jari telunjuknya di atas telapak tangan itu hingga membentuk sebuah kata I love u.
Nada tersenyum, dia kini membalas kalimat itu. Dia buka telapak tangan Aksa, dan menggerakkan jari telunjuknya membentuk sebuah kalimat, I love u too.
So sweet ya?
Nada kini justru menyuapi Aksa pop corn karena sedari tadi tangan kanan Aksa tidak melepas tangannya sama sekali. Nada menyuapinya dengan cepat sampai mulutnya penuh dengan pop corn.
Nada tersenyum kecil saat melihat ekspresi Aksa yang hampir tersedak.
Aksa melepas tangannya lalu menyedot minuman dinginnya untuk membantu para pop corn itu turun ke dalam perutnya.
"Nada?" Aksa sedikit mencubit pipi Nada sangking gemasnya. Dari cubitan beralih ke usapan lembut. Usapan yang awalnya di pipi justru beralih ke bibir Nada. Aksa pasti sudah membayangkan bibirnya singgah di bibir itu.
Tak disangka Nada justru menghisap jari Aksa. Tubuhnya bagai tersengat listrik. Awalnya terlena tapi hisapan itu berubah jadi gigitan yang membuat Aksa seketika menarik jarinya.
__ADS_1
Nada menahan tawanya sambil menutup mulutnya.
"Na, keluar aja yuk?" bisik Aksa.
"Kemana? Filmnya masih setengah."
Aksa mengangkat bahunya.
"Ngobrol di rumah gue aja yuk?" ajak Nada yang langsung dibalas anggukan oleh Aksa.
Mereka kini berdiri dan berjalan sambil membungkuk keluar dari jajaran kursi. Mereka mempercepat langkahnya agar tidak mengganggu lainnya.
"Lo sebenarnya gak suka nonton film?" tanya Nada setelah berada di luar bioskop.
Aksa tertawa karena itu memang benar adanya. "Gak suka soalnya adegannya di sensor."
"Ih, kalau gak di sensor ntar lo bisa horny di sana."
Aksa kembali menggandeng tangan Nada. "Ya, gue kan mau kencan juga ala-ala remaja. Tapi btw lo kok tahu kata vulgarisme gitu."
"Itu kan bahasa inggris. Lo aja yang mikirnya vulgar."
Aksa hanya tertawa. Mereka berjalan turun ke lantai dasar lalu menuju tempat parkir.
"Untung lo ajak pulang. Udah mendung."
"Iya, gue lupa lagi gak bawa jas hujan."
Setelah memakai helm, mereka segera naik ke atas motor. Beberapa saat kemudian motor mereka segera melaju meninggalkan kawasan mall.
Aksa sedikit mempercepat laju motornya karena awan hitam semakin menyatu. Angin juga mulai bertiup cukup kencang pertanda hujan akan turun.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. "Na, kita berteduh dulu yuk!"
Nada semakin mengeratkan pelukannya. "Nanggung, bentar lagi udah sampai terus aja."
Meskipun sudah dekat tapi air hujan itu berhasil membasahi baju mereka. Setelah Aksa menghentikan motornya, mereka segera masuk ke dalam teras.
"Hujannya deres banget." Aksa mengebaskan jaketnya yang telah basah.
Nada menekan bel berkali-kali tapi tidak ada yang membukakan pintu. Dia kini mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Papanya. Tapi dia baru tahu ada satu pesan masuk di whatsapp nya.
"Aduh, Papa keluar sama kakak. Pasti lama. Mbak Sumi mana sih kok gak bukain pintu."
Nada kini membalikkan badannya sambil menyilangkan tangannya. Pandangan matanya tiba-tiba bersirobok dengan Aksa. Seperti ada sihir yang membuat tatapan mereka semakin lekat...
💞💞💞
Hujan-hujan author mau mojok dulu sama pacar. .
.
Sebelum menuju konflik utama, mau puas-puasin dulu ah sama Aksa.
__ADS_1
Bantu ramaikan guys, lapak ini sepi amat dah. Bentar lagi aku kebut ya setelah novel aku satunya tamat.