
"Kalau Aksara dan Nada bersatu nanti nama anaknya siapa ya? Melodi kayaknya cocok ya kalau cewek."
Nada tersenyum saat mengingat kalimat halu Aksa yang dulu pernah terlontar dari mulutnya. Sekarang semua itu benar-benar menjadi nyata.
"Kenapa senyum-senyum?" Aksa yang baru selesai melaksanakan sholat maghrib, kini mendekati Nada yang sedang memangku putri kecilnya di atas brangkar. Kemudian Aksa meraih putrinya dan menggendongnya. "Udah tidur nyenyak lagi. Pasti kenyang habis minum ASI. Hasil stimulasi Papa loh itu." bisik Aksa pada bayi yang masih tidak mengerti apa-apa itu.
Nada semakin tersenyum. "Ih, Mas jangan bilang aneh-aneh gitu."
"Emang iya kan, Na."
"Aku tadi tuh ingat kehaluan Mas Aksa dulu. Waktu bilang, kalau seandainya Aksara dan Nada bersatu nama anaknya siapa ya? Melodi kayaknya cocok ya kalau cewek," kata Nada menirukan gaya Aksa waktu itu.
"Kamu masih ingat aja. Dulu gak sekadar halu, tapi do'a Na. Nih langsung di ijabahi. Alhamdulillah." Aksa mencium lembut pipi bayi yang masih merah itu. "Melodi Nara. Melodi nya Nada dan Aksara."
Kebahagiaan Nada terasa sangat lengkap. Aksa yang dulu sangat menyebalkan sekarang dia benar-benar menjelma menjadi seorang suami dan imam rumah tangga yang taat beragama, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.
Beberapa saat kemudian kedua orang tua Aksa dan Pak Teguh masuk ke dalam ruangan.
"Aksa, sini Ibu gendong dulu. Kamu makan dulu sama Nada. Ibu sudah bawakan makanan."
Aksa memberikan putrinya pada Bu Diana.
"Cucu kakek, cantik sekali," kata Pak Teguh.
"Iya, wajahnya mirip keduanya ya. Hidungnya mancung kayak Aksa sedangkan bibirnya mirip Nada."
"Calon gadis cantik ini."
Aksa kini duduk di dekat brangkar Nada dan bersiap menyuapi istrinya itu. "Makan dulu, aku suapin."
"Aku bisa sendiri. Mas Aksa makan ya, sedari tadi belum makan. Gak lapar?"
Aksa menggelengkan kepalanya. "Kamu dulu. Aku mau suapin kamu." Aksa mulai menyuapi Nada meski Nada sempat menolaknya.
Perut Nada yang memang sudah terasa sangat lapar tentu makanan itu habis dengan cepat.
"Mau nambah?"
__ADS_1
Nada hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Gak papa, makan yang banyak. Kamu kan habis mengerahkan seluruh tenaga kamu dan sekarang juga menyusui anak kita. Ralat." Aksa membisikkan sesuatu pada Nada. "Papanya juga nanti di rumah."
"Ih, gak boleh.." Nada mencubit lengan Aksa.
Aksa hanya tertawa. Dia kembali menyuapi Nada, dan sekali-kali masih saja menggoda Nada.
...***...
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Nada kini bisa pulang ke rumah. Kepulangan mereka di sambut oleh keluarga dan para tetangga.
Dedek Melodi di gendong oleh Bu Diana. Sedangkan Nada saat akan turun dari mobil, tiba-tiba saja badannya terasa melayang. Tentu saja itu ulah suaminya yang menggendongnya.
"Ih, Mas. Aku bisa jalan. Turunin. Malu banyak tamu tuh."
"Ngapain malu sih. Sini pegangan leher aku aja."
Nada akhirnya mengalungkan tangannya di leher Aksa. Setelah sampai di dalam rumah, Aksa menurunkan Nada di sofa ruang tamu karena banyak tetangga dan kerabat yang menjenguk.
"Iya, bener banget. Duh, ini dedek bayi cantik banget. Nggemesin. Siapa namanya?"
"Melodi Nara Danendra.
"Namanya aja cantik. Orang tuanya bakatnya di musik jadi nama anaknya melodi."
Ibu-ibu itu mulai berkomentar sambil tertawa.
"Lah, sama kayak cucu saya. Anak saya jualan hp, jadi cucu saya dikasih nama Android."
"Loh, buk bukannya si Andro itu kepanjangannya Andromeda. Andromeda itu nama galaksi bukan hp."
Seluruh ibu-ibu di ruangan itu tertawa termasuk Nada dan Aksa hingga membuat bayi mungil yang tertidur itu seketika terbangun dan menangis.
"Yah, pasti dedek Melo kaget dengerin omongan ibu RT sini."
"Minta nen nih."
__ADS_1
Nada meraih Melodi lalu menggendongnya. Dia berjalan pelan yang dituntun Aksa.
"Udah lancar ASInya?"
"Alhamdulillah udah," jawab Nada sambil tersenyum dan melalui beberapa ibu-ibu.
"Wah, pasti tiap hari di stimulasi. Tuh, lahirnya saja sampai gangsar."
Nada hanya tersenyum sambil masuk ke dalam kamarnya yang sudah tertata rapi dengan perlengkapan bayi yang telah tersusun juga pada tempatnya.
"Ibu-ibu makan dulu." terdengar suara Bu Diana yang sedikit mengurai perkataan ibu-ibu yang kurang kondusif.
Nada duduk dengan perlahan yang dibantu oleh Aksa. Setelah merasa nyaman, Nada mulai menyu sui putrinya. Seketika Melodi terdiam dan menghisap sumber kehidupannya dengan rakus.
"Ya ampun Mel, kayak habis perjalanan jauh aja kalau minum." Aksa mengusap gemas pipi yang ikut bergerak itu saat menghisapnya. "Bikin Papa pengen aja."
"Ih, Mas."
Aksa tertawa lalu dia mengecup singkat pipi yang merona itu dan mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sudah dua hari itu dia hampir tidak tidur. Dia benar-benar menjadi seorang Ayah baru yang terus membantu istrinya.
"Mas, masih ada tamu. Temani mereka diluar aja."
"Biarinlah. Udah tahu baru pulang dari rumah sakit langsung diserbu. Capek, Na. Setelah Melo tidur kamu juga tidur ya."
Nada menganggukkan kepalanya.
"Nanti setelah satu bulan, kita adakan aqiqah ya. Alhamdulillah rezeki kita selalu mengalir."
"Iya Mas. Alhamdulillah.."
Aksa mengusap lengan Nada sambil tersenyum.
"I love you, Na."
Nada membalas tatapan Aksa. "I love you too, Aksara Danendra...."
Kisah yang diawali dengan kebencian dan pertengkaran, kini berakhir dengan sangat manis. Bahkan mereka saling menyempurnakan dan membangun rumah tangga impian mereka. Dengan hadirnya Melodi yang akan semakin menambah keindahan alunan musik yang menghiasi hari-hari mereka...
__ADS_1