It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Keputusan Aksa


__ADS_3

"Tidak perlu. Biar Aksa saja yang keluar dari kampus ini.."


Beberapa pasang mata kini langsung menatap Pak Rendra tak percaya.


"Ayah, Aksa bisa selesaikan masalah ini. Ini hanya ulah teman Aksa yang gak suka sama Aksa."


Pak Rendra tidak mau tahu lagi alasan Aksa. Dia tetap akan membawa Aksa keluar dari kampus itu.


"Aksa, kamu dengar sendiri kan? Mereka tidak percaya dengan kemampuan kamu. Kamu masih bisa sukses tapi dengan jalan lain. Kita pulang sekarang!" Pak Rendra menarik paksa tangan Aksa.


"Ayah, Aksa udah berjuang sampai sejauh ini." terjadi adu argumen beberapa saat antara seorang Ayah dan anaknya.


"Maaf Ren, Aksa sudah melangkah sejauh ini jadi biarkan kita menyelesaikan masalah ini secara baik-baik." Pak Teguh berusaha menengahi pertengkaran antara anak dan ayah itu.


"Anda tidak perlu ikut campur dengan masalah anak saya." Pak Rendra kembali menarik tangan Aksa sambil berdiri.


"Rendra, jangan jadikan masa lalu kamu sebagai tolak ukur impian Aksa."


Rendra hanya menghela napas panjang, dia tetap akan mengajak Aksa pergi.


Aksa tidak lagi membantah Ayahnya. Dia kini sudah pasrah. Dia hanya bisa mengikuti langkah Ayahnya keluar dari ruangan itu.


"Aksa!" Nada mengejar Aksa dan mampu menghentikan langkah Aksa sesaat. "Aksa gue pasti akan selesaikan masalah ini."


"Gak perlu, Na. Makasih. Maaf ya, gue udah buat masalah dalam hidup lo. Gue juga udah buat lo malu."


"Aksa!" panggil Pak Rendra agar Aksa segera melanjutkan langkahnya.


"Gue pergi, Na. Maafin gue." Aksa mengusap pipi Nada sesaat lalu dia pergi mengikuti langkah Ayahnya. Dia sudah tidak mau lagi berdebat dengan Ayahnya.


Nada hanya mampu menatap kepergian Aksa lalu dia kembali ke dalam ruang dekan. "Pak, saya akan mencari dalang dibalik semua ini." Nada kini duduk kembali di sebelah Papanya.


"Iya, kita akan coba meminta waktu pada panitia untuk keputusan hasil akhir kompetisi ini."


Nada sedikit lega mendengar keputusan Pak Aryo. Dia sudah menyusun sebuah rencana. "Pak Reno, saya butuh bantuan bapak?"


"Iya, saya akan membantu Aksa. Kamu punya rencana?"


...***...

__ADS_1


Aksa bersama Ayahnya kini telah sampai di depan rumahnya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.


"Aksa, mulai besok kamu tidak perlu kuliah lagi di sana. Kamu bisa daftar di kampus lain."


Aksa yang saat itu akan melangkah masuk ke dalam kamarnya menghentikan langkahnya dan menatap Ayahnya.


"Tidak perlu, mulai besok Aksa akan bekerja full day di cafe," Aksa membalikkan badannya lagi dan masuk ke dalam kamarnya. Baru kali ini dia benar-benar merasa putus asa seperti ini. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pikirannya buntu, sudah tidak ada jalan keluar. Padahal harusnya cukup mencari Radit dan menyelesaikan masalah ini.


"Shits!!!" umpat Aksa kesal. Dia kini melempar semua bukunya ke lantai hingga terdengar suara gaduh sampai luar.


"Ayah, ada masalah apa?" terdengar suara ibunya dari luar.


"Ada yang memfitnah Aksa."


"Astaga. Lalu bagaimana?"


"Lebih baik Aksa keluar saja dari kampus daripada dia harus menerima perlakuan tidak adil seperti ini."


Terdengar kedua orang tuanya masih beradu argumen diluar sana.


Aksa duduk dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. "Ini semua gara-gara Radit!!" Aksa mengepalkan tangannya lalu memukul meja dengan keras. Dia tidak boleh diam saja. Dia kembali berdiri lalu mengambil kunci motornya.


"Aksa, mau kemana? Kamu makan dulu nak." cegah Bu Diana saat Aksa sudah bersiap menuntun motornya.


"Ada urusan. Nanti Aksa langsung ke cafe."


Bu Diana merasa khawatir dan takut Aksa tidak pulang lagi seperti sebelumnya. "Tapi kamu nanti pulang kan?"


"Iya bu. Mulai besok Aksa akan kerja mulai pagi." Pandangan Aksa lurus ke depan, tanpa berani menatap kedua mata ibunya yang telah berkaca. Dia mulai berjalan menuntun motornya tanpa lagi berpamitan dengan Ibunya atau sekedar mengucap salam.


Sesampainya di pinggir jalan, Aksa segera melajukan motornya cukup kencang menuju tempat kos Radit. Entahlah, apa yang dilakukannya ini benar atau tidak yang jelas dia akan membuat perhitungan dengan Radit sekarang juga.


Aksa memarkir motornya di depan kos Radit yang cukup besar. Sepertinya Radit sedang ada di kosnya saat ini, terlihat dari motornya yang terparkir.


Aksa mengetuk pintu itu tanpa bersuara. Saat pintu terbuka, Radit nampak terkejut melihat kedatangan Aksa secara tiba-tiba.


Aksa langsung menyergap Radit dan mendorongnya kasar masuk ke dalam kos. "Lo brengsek!!"


"Aksa, tunggu dulu. Lo jangan asal serang gini." Radit berusaha melepas sergapan Aksa yang sangat kuat.

__ADS_1


"Lo jadi sahabat munafik banget!!" satu pukulan kini melayang ke perut Radit. "Apa salah gue sama lo! Kenapa lo fitnah gue kayak gini! Brengsek lo!" Pukulan kedua kembali melayang di perut Radit.


Radit berusaha membalik keadaan. Dia mendorong tubuh Aksa cukup kuat hingga Aksa melepas sergapannya.


"Lo jangan sok hebat!!" Radit mengunci tubuh Aksa dan melayangkan pukulannya. "Lo pikir lo aja yang bisa ikut kompetisi itu!!"


"Jadi selama ini lo iri sama gue!! Gak nyangka lo itu musuh dalam selimut." Perkelahian mereka semakin sengit. Bahkan luka lebam sudah tercetak di wajah tampan Aksa.


"Berhenti!! Apa-apaan kalian ini berantem di kos orang!" suara keras itu menghentikan perkelahian sengit mereka. "Radit!! Kamu kemarin kepergok membawa gadis ke sini. Sekarang berantem di sini, sekali lagi kamu melanggar peraturan, kamu angkat kaki dari tempat kos saya. Dan kamu!" Pemilik kos itu menunjuk Aksa yang sedang mengusap darah di ujung bibirnya. "Keluar dari sini sebelum masalah ini berlanjut ke Pak RT."


Aksa keluar dari kos Radit, meski sebenarnya dia belum puas memukuli Radit. Dia kini memakai helmnya lalu naik ke atas motor dan beberapa saat kemudian motor Aksa sudah melesat dengan kecepatan cukup tinggi menuju cafe.


Daripada memikirkan semua masalahnya, lebih baik dia bekerja.


Tak lama, Aksa sudah sampai di tempat parkir cafe. Dia segera turun lalu mengunci motornya dan masuk ke dalam cafe sambil membawa helmnya.


"Lo habis berantem? Sampai bonyok gitu?" tanya Adit yang melihat luka memar di wajah Aksa.


Aksa kini mengambil kotak obat lalu duduk di ruang karyawan. "Iya, habis hajar teman munafik."


"Siapa?" Adit kini ikut duduk di dekat Aksa.


"Radit."


"Radit yang pernah lo ajak ke sini itu?"


"Iya." Aksa mulai bercerita kronologi kejadian yang menimpanya. Baginya, baik bos dan teman-temannya di cafe sudah seperti saudaranya sendiri. Tidak ada kata munafik di antara mereka.


"Wah, tahu gitu gue mau ikut hajar dia!"


"Udahlah, emang nasib aku kayak gini Mas. Mulai besok aku akan full day di sini."


"Lo serius mau berhenti kuliah? Jangan. Lo udah mau semester 5."


"Mau gimana lagi? Aku udah nyerah sama keadaan."


Adit menepuk bahu Aksa memberinya ketenangan.


"Aksa, ada yang nyariin lo!" Ada sebuah teriakan dari depan tapi belum juga Aksa berdiri pandangan matanya kini bersirobok dengan seseorang yang mencarinya itu.

__ADS_1


__ADS_2