
Bu Diana tersenyum, benar sekali tebakan suaminya itu. Lalu dia mengeluarkan dua alat tes kehamilan dan diberikan pada Nada. "Coba kamu cek ya besok pagi. Ibu sudah belikan testpack buat kamu. Tapi jangan bilang sama Aksa. Buat kejutan aja sama dia. Ibu yakin kemarin itu Aksa mual-mual pasti karena dia lagi ngidam. Soalnya dulu Ayahnya Aksa juga gitu."
Nada menatap ragu pada kedua benda itu. "Tapi kalau ternyata tidak?"
"Ya tidak apa-apa." Bu Diana mengusap lembut rambut Nada sambil tersenyum. "Ya sudah kita kembali ke bawah yah. Kalau seandainya kamu beneran hamil, kamu pindah kamar di bawah saja. Jangan sering-sering naik turun tangga waktu hamil muda."
Nada menjadi terharu mendengar perkataan Bu Diana yang sangat perhatian dengannya. Dia sangat bersyukur memiliki mertua yang sangat baik, tidak seperti di film-film yang dulu sempat menghantui pikirannya.
"Makasih ya, Ma. Kalau Mama gak bilang, Nada gak akan ngerti soal ini." Nada memeluk tubuh Bu Diana sesaat.?
"Iya Nak. Kamu kan sudah seperti anak ibu sendiri. Mulai sekarang kamu jangan malu ya minta atau tanya apapun sama Ibu."
Nada mengangguk lalu mereka keluar dari kamar.
...***...
Semalam Nada hampir tidak bisa tidur, bukan karena Aksa mengganggunya tapi karena dia memikirkan hasil dari testpack yang akan dia lakukan di pagi hari ini.
Sebelum adzan Subuh berkumandang, Nada beranjak dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi sambil membawa kedua alat tes itu.
Dengan dada yang berdebar-debar, Nada mengikuti semua petunjuk cara pemakaian. Dia menunggu sampai beberapa detik agar hasilnya terlihat.
Detak jantungnya semakin tak beraturan saat melihat dua garis yang sudah terlihat sangat jelas.
"Jadi aku beneran hamil." Setetes air mata bahagia lolos. Dia segera menyimpan kembali alat tes kehamilan itu lalu keluar dari kamar mandi karena adzan Subuh telah berkumandang.
"Mas, sudah adzan Subuh." Nada mengguncang pelan tubuh suaminya itu.
"Iya, Na." Aksa bergeliat lalu dia membuka kedua matanya perlahan. Tersenyum kecil menatap Nada yang membungkuk di dekatnya.
Cup!!
Satu kecupan singkat mendarat tepat di bibir Nada.
"Ih, Mas. Mulai sekarang jangan main cium sebelum gosok gigi."
"Loh, kenapa Na?" tanya Aksa yang kini telah turun dari ranjang.
"Pokoknya gak mau."
Aksa hanya tersenyum. Memang mood Nada bisa berubah-ubah dengan cepat.
"Ya udah, ambil wudhu dulu yuk kita sholat berjamaah."
__ADS_1
Setelah mereka mengambil wudhu lalu mereka sholat subuh berjamaah dengan khusyuk. Suara merdu Aksa melantunkan ayat pendek selalu membuat hati Nada tentram.
Dia tidak salah memilih Aksa menjadi imamnya yang akan selalu menemaninya dalam suka dan duka dan berharap selalu bersama sampai tua nanti.
Setelah mengucap kedua salam, mereka berdzikir lalu memanjatkan do'a. Entah do'a apa yang Aksa panjatkan, dia selalu menengadah lebih lama daripada Nada.
Nada mengambil secara perlahan dua benda yang akan mengejutkan Aksa.
Setelah Aksa mengucap amin dan mengusap wajahnya, Nada memeluknya dari belakang dan meletakkan kedua benda yang telah berhiaskan dua garis merah itu di telapak tangan Aksa.
"Sayang, ini apa?"
Nada tersenyum sambil meletakkan dagunya di pundak Aksa.
Aksa mengamati dua benda itu. Dia yang memang belum berpengalaman tentu belum begitu paham. Tapi seingat dia, dua benda itu adalah alat tes kehamilan dan garis dua itu menandakan kalau Nada hamil.
"Sayang kamu..." Aksa tidak sanggup berkata lagi. Kebahagiaannya membuncah. Dia membalikkan badannya lalu menangkup kedua pipi Nada. "Sayang kamu hamil?"
Nada mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ya Allah..." Aksa memeluk tubuh Nada yang masih memakai mukena itu. Dia mengucap puji syukur berkali-kali. Jadi, seperti ini rasanya akan menjadi seorang Ayah. Bahkan rasa haru begitu menyeruak di dadanya hingga membuat setetes air mata kini menggenang di ujung matanya.
Aksa melepas pelukannya lalu menyusut air mata yang hampir terjatuh. "Makasih sayang..."
Seketika Aksa tertawa lalu kembali memeluk tubuh itu, bahkan semakin erat.
"Aku sayang kamu, Na. Mulai sekarang, aku akan selalu jagain kamu." Aksa melepas pelukannya lalu mencium kening Nada dengan penuh kasih sayang.
"Jadi Mas kemarin itu sebenarnya lagi ngidam bukan sakit, kata Mama."
"Jadi Ibu yang bilang sama kamu. Pantas Ibu perhatian banget sama kamu daripada anaknya yang lagi sakit." Aksa masih saja mengulum senyumnya sambil mengusap lembut perut Nada yang masih datar. "Nanti kita periksa ya?"
"Iya. Kita langsung periksa saja ya ke Dokter SpOg."
"Tunggu dulu. Dokter SpOg itu apa Na?"
"Dokter kandungan Mas. Ih, Mas Aksa ini lulusan S1 tapi masak gak ngerti Dokter SpOg," Nada melepas mukenanya lalu menyisir rambutnya.
"Ya Allah, pantes suster kemaren nyuruh buat periksa ke Dokter SpOg juga. Jadi ternyata suster itu udah nebak. Aku yang gak peka ternyata."
"Ih, dasar Mas Aksa. Sebenarnya aku juga gak ngeh kalau lagi hamil. Untung ada Mama yang ngasih tahu."
Aksa berdiri lalu mengambil ponselnya. "Telepon Ibu dulu ya, pasti senang dengar kabar ini."
__ADS_1
Nada mencegah tangan Aksa. "Jangan Mas. Ada yang lebih penting."
"Apa?" tanya Aksa sambil melihat raut wajah Nada yang sangat serius.
"Aku tuh dari kemarin pengen mangga Mas."
"Ya udah nanti aku belikan."
Nada menggeleng cepat. "Nggak beli."
"Terus?"
Nada menggandeng lengan Aksa dan bergelayut manja. Duh, gemasnya.
"Aku mau mangga yang ada di pohon depan rumah Bu Rima itu Mas. Ambilin ya Mas."
"Sayang, pohon mangganya tinggi. Terus aku manjat gitu?"
"Iya. Ya, Mas. Sekarang. Aku udah nahan dari kemarin loh. Semalam sampai gak bisa tidur."
Aksa menggaruk kepalanya. Tugasnya terasa berat sekali. Masak iya subuh-subuh manjat pohon mangga tetangga.
"Nanti siang aja ya, habis aku pulang dari ngajar."
"Yah, Mas. Maunya sekarang." Nada semakin merengek. Kenapa sekarang menjadi begitu manja seperti ini?
"Mas?" pinta Nada sekali lagi karena Aksa hanya terdiam. "Ya udah kalau gak mau." Meski tanpa penolakan, Nada merasa Aksa tidak akan melakukan itu untuknya.
Perut Nada tiba-tiba merasa mual, hingga dia harus segera berlari menuju toilet. Apa karena sang Ayah tidak menuruti keinginannya jadi janin yang masih ada dalam perut itu protes.
"Sayang..." Aksa menyusul langkah cepat Nada. Dia pijit punggung Nada saat Nada hanya mengeluarkan air dari mulutnya.
"Sayang, maaf ya aku terlalu banyak mikir. Kamu mau mangganya Bu Rima kan. Ayo, aku ambilin."
Ekspresi wajah Nada masih saja cemberut setelah dia selesai berkumur. "Mas terpaksa ya?"
"Nggak sayang..." Satu hal yang baru Aksa tahu, bahwa kesalahan terbesarnya adalah tidak menuruti secara langsung keinginan ibu hamil. "Ayo, aku ambilkan sekarang ya..." Satu kecupan kembali mendarat di pipi Nada.
Nada menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tapi minum air hangat dulu. Nanti pulang dari sekolah aku belikan susu hamil."
Mereka bergandengan tangan dengan mesra keluar dari kamar.
__ADS_1