It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Demi Istri


__ADS_3

Aksa berdiri sambil mendongak, melihat buah mangga yang lumayan besar-besar meski masih hijau bergelantung cukup tinggi.


"Na, aku ambilin pakai kayu ya?"


Nada yang berdiri tak jauh dari Aksa menggelengkan kepalanya cepat. "Gak mau. Aku mau lihat Mas Aksa manjat."


Aksa menghela napas panjang lalu berjalan untuk mengetuk pintu rumah Bu Rima. Beberapa saat kemudian, Pak Wito bersama istrinya membuka pintu.


"Ada apa Aksa pagi-pagi ke sini?"


Aksa tersenyum terlebih dahulu, "Hmm, saya mau minta mangga boleh? Soalnya Nada lagi ngidam."


"Ooo," mereka tertawa secara bebarengan. "Boleh, boleh, saya ambilkan galah ya."


"Tidak usah. Saya mau manjat."


Pak Wito dan Bu Rima kembali saling senyum lagi. "Mas Aksa kan habis sakit, nanti apa gak pusing dibuat manjat."


"Kayaknya sakitnya kemarin karena kehamilan istrinya deh, Ma."


"Duh, saking sayangnya sama istri."


Sedangkan Nada tersenyum riang saat melihat suami tampannya itu mulai memanjat pohon mangga dengan membawa kantong kresek sebagai tempat mangga yang telah berhasil dipetik.


"Na, 5 aja ya?"


"Iya Mas. Tapi besok lagi ya?"


Aksa menelan salivanya mendengar perkataan Nada. Akhirnya dia memetik beberapa lagi daripada setiap hari harus disuruh memanjat pohon mangga.


Bu Rima justru tertawa melihat kelucuan sepasang suami istri ini. "Kamu habiskan semua gak papa Na. Biar pohon mangga ibu makin lebat."


Nada hanya cekikikan sedangkan Aksa yang baru saja turun dari pohon mangga merasa sungkan sendiri dengan Bu Rima.


"Terima kasih Bu Rima."


"Iya, tidak apa-apa. Orang hamil memang biasa ngidam mangga. Tapi Nada ngidamnya spesial ya. Mau mangga yang dipetik dari tangan suaminya sendiri."


Nada kini bergelayut di tangan Aksa dengan manja. "Makasih ya Mas."


"Kok makasih sama aku? Sama Bu Rima dan Pak Wito makasihnya."


"Makasih ya, Pak, Bu."


"Iya, kalau ibu lihat Nada, kayak anak Ibu yang ada di Jakarta. Baru hamil tiga bulan juga."


"Wah, selamat ya Bu. Akan jadi nenek."


"Iya."


Nada kini menarik tangan Aksa agar segera masuk ke dalam rumah karena dia sudah tidak sabar mengeksekusi mangganya.

__ADS_1


"Mas aku mau kupas mangga dulu." Nada langsung berjalan menuju dapur dan mengambil pisau.


Aksa mengikuti istrinya ke dapur. "Na, gak sarapan dulu? Nanti perut kamu sakit."


"Aku udah pengen dari kemarin."


Aksa akhirnya hanya terdiam dan duduk di meja makan sambil meminum teh hangatnya. Dia tidak mau lagi mengganggu mood bumil yang naik turun itu. "Ya sudah. Tapi jangan banyak-banyak. Nanti aja setelah sarapan makan mangga lagi."


"Iya Mas. Mas mau?" tawar Nada.


Aksa hanya menelan air liurnya membayangkan betapa asamnya mangga itu. "Nggak. Emang gak asam?"


"Ya, asam Mas. Tapi enak. Mau icip?"


Aksa menggeleng dengan cepat. Benar-benar diluar pemikiran Aksa kenapa ibu hamil tiba-tiba suka dengan rasa yang asam-asam?


"Wah, Mbak Nada pagi-pagi udah makan mangga aja." Sumi yang baru selesai berbelanja, meletakkan barang bawaannya di meja dapur. "Mbak Nada lagi ngidam ya?" Raut wajah Sumi menjadi sumringah menyadari hal itu.


Nada hanya mengangguk kecil.


"Selamat Mbak Nada. Hal yang aku tunggu-tunggu, bakalan ramai ini rumah kalau ada dedek bayi. Aku jadi gak sabar banget."


Nada hanya memandang Sumi yang heboh sendiri.


"Mbak Nada mau makan apa? Biar Sumi masakin."


"Makan kayak biasanya aja Mbak. Aku masih gak pengen apa-apa sih selain mangga."


"Ya sudah. Mulai sekarang Mbak Nada gak boleh ikut cuci piring, cuci baju, dan lain-lainnya. Biar Sumi aja."


Aksa hanya tersenyum. Dia bersyukur, begitu banyak yang menyayangi Nada.


"Na, aku mandi dulu ya." Aksa beranjak dari duduknya.


"Iya Mas. Biar aku siapkan sarapannya."


Aksa berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Saat akan masuk ke dalam kamat mandi, dia mendengar ponselnya berbunyi lalu segera mengambilnya.


"Ibu." Aksa segera mengangkat panggilan dari ibunya. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Aksa kamu sudah dikasih tahu Nada?"


"Udah Bu. Ibu kemarin kenapa gak kasih tahu Aksa sih soal ini."


"Iya, kamu itu sebagai suami juga gak peka sama istrinya. Terus gimana hasilnya?"


"Positif, Bu."


"Alhamdulillah, Ibu sebentar lagu menimang cucu. Aksa, kalau gitu kamu pindah kamar di bawah saja ya. Kasihan kalau harus naik turun tangga dan bahaya juga."


"Iya, Bu. Rencananya memang mulai nanti malam aku ajak tidur di lantai bawah saja."

__ADS_1


"Nanti kamu ajak periksa dulu."


"Iya, nanti sore kita cek ke dokter kandungan. Ibu, kalau gak ngapa-ngapain di rumah temani Nada ya di sini waktu aku ngajar. Takutnya kalau Nada perlu apa-apa gak ada yang ngerti."


"Iya, Ibu pasti akan sering-sering ke rumah kamu. Kehamilan anak pertama memang harus didampingi. Ibu sudah anggap Nada seperti anak kandung Ibu sendiri."


"Makasih ya, Bu. Ya sudah aku mau mandi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aksa menutup panggilannya lalu kembali meletakkan ponselnya di atas nakas dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


...***...


Setelah selesai mengajar di jam pertama, Aksa memeriksa tugas yang telah dikumpulkan dari muridnya.


"Pak Aksa, Bapak dipanggil ke ruang kepala sekolah."


"Ada apa ya Bu?"


"Kurang tahu, Pak Aksa langsung ke ruangan saja."


Aksa mengemasi buku-bukunya terlebih dahulu, lalu dia beranjak dari duduknya. Menuju ruangan Pak Ridwan, kepala sekolah di SMA negeri itu.


"Permisi Pak." Aksa mengetuk pintu yang memang sudah terbuka itu.


"Iya, masuk Pak Aksa."


Aksa masuk lalu duduk di kursi depan Pak Ridwan yang berseberangan dengan meja.


"Ada apa ya Pak?"


"Begini, sekolah kita dapat undangan untuk mengikuti lomba angklung dalam rangka mencintai seni musik Indonesia. Apa Pak Aksa punya kandidat yang cocok untuk mengikuti perlombaan itu?"


Aksa berpikir sesaat. Memang ada beberapa anak muridnya yang pandai bermain alat musik. "Ada Pak. Ada beberapa murid yang saya rasa mempunyai skill di bidang musik."


"Bagus. Nanti Bapak bantu mereka untuk mempersiapkan diri. Pak Aksa bisa kan?" Pak Ridwan menatap Aksa dengan penuh harap. Kehadiran Aksa di sekolahnya membuat daya tarik murid terhadap kesenian semakin bertambah. Selain good looking tentu karena skill yang dimiliki Aksa bukan kaleng-kaleng. Sekali dia menerapkan teori pasti dia akan mengajari muridnya sampai mereka bisa mempraktekannya.


"Insya Allah, Pak. Saya atur jadwal dulu. Perlombaannya diselenggarakan kapan Pak?"


"Dua minggu lagi, di Surabaya. Sekalian Pak Aksa yang menemani mereka ke Surabaya. Nanti ada Pak Wanto juga."


"Kalau soal itu, saya minta izin sama istri dulu."


Pak Ridwan justru tertawa. "Iya, saya mengerti soal itu. Pak Aksa dengar-dengar habis sakit. Sakit apa Pak?"


"Sakit asam lambung."


"Ooo, istri lagi hamil?"


Aksa hanya tersenyum mengiyakan pertanyaan Pak Ridwan.

__ADS_1


"Selamat ya, Pak."


"Iya Pak, terima kasih...."


__ADS_2