
Nada tersenyum, mungkin sudah kesekian kalinya dia membaca berita yang sedang menjadi head news di google.
"Selamat Aksa atas kemenangan kamu di kompetisi piano internasional."
Walau rindu itu terasa membuncah, tapi dia sangat bahagia karena Aksa telah berhasil meraih impiannya.
"Sudah setahun tidak bertemu, wajah ini, senyuman ini..." Nada memperbesar foto bahagia Aksa saat memegang piala itu. "Aku rindu... Sukses ya di luar negri. Kamu tahu, aku gak pernah kemana-mana. Aku tetap di sini, di tempat ini, bersama kenangan kita."
Nada mengedarkan pandangannya. Suasana cafe tetap sama seperti saat pertama kali dia bertemu Aksa, hanya saja music corner sudah dengan wajah yang berbeda.
Nada Azalea? Boleh aku minta foto?
Nada tersenyum kecil saat mengingat kenangan itu. Pertama kali dia bertemu, Aksa langsung mengenalnya. Tanpa dia sadari, namanya sudah terukir di hati Aksa.
"Sendiri saja?" tanya Alvin yang melihat Nada masih saja beberapa kali ke cafenya dan masih tetap sendiri.
"Iya, Pak. Tetap sendiri." Nada tersenyum kecil lalu dia menyedot minuman dinginnya yang sudah ada di mejanya sedari tadi.
Alvin kini ikut duduk di meja Nada. "Kenapa kamu gak bilang kalau sebenarnya masih ada di sini? Aksa sedih waktu tahu kamu tiba-tiba pindah."
Nada menggelengkan kepalanya. "Tetap ya Pak. Jangan bilang sama Aksa. Aku sudah bahagia melihat kesuksesan Aksa saat ini."
Alvin tersenyum kecil. Ada-ada saja ya kiat khusus untuk membuat sukses seseorang.
Nada mengeluarkan sebuah undangan vip dari tasnya. "Aku ada undangan show, Pak. Mungkin Pak Alvin sama istrinya berkenan ke show aku."
Alvin melihat undangan itu. "Maaf, bukannya gak mau datang soalnya istri aku lagi hamil tua."
"Loh, bukannya dulu udah..."
"Yang pertama failed."
"Oo, maaf Pak. Tapi tidak apa-apa, bisa di kasih ke Kak Adit atau yang lainnya."
"Oke. Semoga kamu bisa bersama lagi sama Aksa ya. Jalan yang dilalui untuk menemukan cinta sejati itu tidak mudah. Semakin kamu diuji, maka semakin kuat pula hubungan kamu ke depannya."
Nada menganggukkan kepalanya. "Hmm, Pak saya boleh bermain piano."
__ADS_1
"Boleh, silahkan. Sudah lama pianonya tidak terpakai. Anak yang baru lebih pintar bermain gitar dari pada piano."
Nada berdiri dan berjalan menuju music corner. Beberapa kenangan terlintas lagi di kepalanya. Dia pernah bermain bersama di atas balok hitam putih itu dengan jemari yang saling bersentuhan. Indah. Andai saja waktu itu hatinya telah melunak, pasti kenangan itu akan semakin terasa indah.
Nada duduk lalu mulai menekan balok-balok itu.
Alvin tersenyum kecil. Dia kini memanggil Adit. "Rekam Nada dan kirim ke Aksa," bisiknya.
"Tapi Bos, bukannya Nada udah pesan gak boleh bilang ke Aksa."
"Saatnya kita buat pasangan itu bahagia."
Adit tersenyum lalu memasang kamera ponselnya. Dia kini merasa menjadi cupid cinta yang siap melepas anak panahnya dan menyatukan dua hati yang terpisah ini.
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih yakin nanti milikmu
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, ku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya
__ADS_1
Engkau jauh di mata tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Iringan tepuk tangan mengakhiri pertunjukan Nada.
Aksa, aku benar-benar merindukanmu...
...***...
Senyum mengembang di wajah seseorang yang kini menatap layar ponselnya. Entah sudah ke berapa kalinya dia melihat video itu, sejak video itu dikirim ke nomor whatsapp nya empat hari yang lalu.
Dia menyimpan kembali ponselnya, dengan berjalan tegak memakai setelan kemeja dan blazer hitam itu, dia semakin terlihat sangat rupawan.
Dia berjalan di atas karpet merah menuju sebuah ruang pertunjukkan. Dia tersenyum menatap gadisnya yang sedang memainkan piano dan menyanyikan sebuah lagu. Masih tetap hebat seperti sebelumnya dengan wajah yang semakin cantik dan tentu saja sangat dia rindukan.
Ada seorang panitia acara yang memberi kode padanya untuk segera naik ke atas panggung di saat nyanyian akan selesai.
Sebuah kamera menyorot langkah pelan itu. Dia keluarkan sebuah kotak merah yang berada dalam saku celananya.
"Na,"
Suara yang sangat Nada kenal dan yang sangat dia rindukan begitu terdengar nyata di dekat telinganya. Nada sedikit memutar duduknya. Matanya membulat sempurna. Apakah saat ini dia sedang bermimpi bertemu dengan seorang pangeran? Wajah tampan yang semakin tampan itu sangat dia rindukan.
"Will you marry me?" tepat saat pertanyaan itu terucap, dia berlutut di hadapan Nada sambil membuka kotak cincin dan mengulurkan ke arahnya.
Jantung Nada seolah akan berhenti. Ini nyatakah? Atau hanya mimpi? Nada terkesiap, lalu terpaku dan terpesona.
"Aksa..."
.
.
.
.
__ADS_1
😍😍😍