
Mereka berdua kini masuk ke dalam ruang dekan. Ada Pak Aryo, Pak Diki dan juga Pak Reno.
"Tunggu sampai wali kalian datang, baru kita bicarakan masalah ini," kata Pak Aryo selaku Dekan di kampus itu.
Wali? Itu berarti Ayah....
"Tidak Pak. Kita sudah kuliah, kita bisa menyelesaikan masalah ini sendiri tidak perlu sampai memanggil orang tua kita." Aksa sangat tidak setuju dengan keputusan Pak Aryo. Karena jika Ayahnya sampai dipanggil ke kampus, sudah jelas dia dalam masalah besar. Mungkin saja setelah Ayahnya tahu masalah ini, tamat sudah impian dan hubungannya dengan Nada.
"Iya saya mengerti. Saya cuma ingin masalah ini benar-benar bersih dan kamu juga sebagai penerima beasiswa di sini seharusnya tidak boleh terlibat kasus seperti ini," kata Pak Aryo yang seolah memang ingin menjatuhkan Aksa.
"Pak, kita di sini korban. Harusnya yang bapak cari itu penyebar berita hoax itu, bukan kita!" Aksa mulai emosi, dia sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Aksa, tenang dulu." Nada menepuk bahu Aksa agar dia lebih tenang.
"Tapi Na, kalau Ayah sampai tahu gimana?" Aksa menoleh Nada dan sedikit berbisik.
"Iya, gue ngerti. Gue juga mikirin itu."
"Pak Aryo, mereka itu tidak mungkin melakukan kecurangan dan tindakan mesum seperti di foto itu." Bela Pak Reno yang memang tahu betul siapa Nada dan Aksa.
"Foto? Yakin kalian tidak melakukan yang seperti di foto ini?" tanya Pak Diki sambil menjejerkan foto-foto editan itu di atas meja.
Mata jeli Nada menangkap satu foto asli waktu mereka pertama kali melakukan ciuman di lab. komputer.
"Ini editan," jawab Aksa singkat.
Nada hanya menatap Aksa dari samping. Apa dia tidak tahu ada satu foto yang asli?
Pak Diki mengambil satu foto yang memang real. "Saya pengajar di IT, yang ini pasti bukan editan."
Aksa melihat foto itu. Dia semakin merasa kesal. Ini jelas Radit yang melakukannya. Sial!!!
__ADS_1
Mereka berdua tak menjawab, karena pada kenyataannya memang itu yang mereka lakukan.
"Kalian ciuman sampai seperti itu di lab. komputer?! Pantas tidak?"
Aksa mengepalkan tangannya. Ini salahnya sudah membawa Nada dalam masalahnya. Bahkan mungkin sudah membuat Nada merasa malu karena foto ini. "Iya, ini salah saya. Tapi kita hanya melakukan itu tidak lebih."
"Tidak lebih? Bagaimana kita tahu?"
"Saya berani melakukan visum."
Mendengar pernyataan itu seketika Aksa menoleh Nada. "Na, lo gak perlu ngelakuin ini. Kalau mereka tidak percaya soal ini ya sudah."
"Pak, kita tidak perlu membahas soal hubungan mereka. Oke, mereka salah tapi saya rasa ada yang tidak suka dengan mereka hingga foto mereka diedit dan disebarkan sedemikian rupa. Soal hubungan mereka kita serahkan saja pada pihak keluarga. Ada masalah yang jauh lebih penting daripada ini." Pak Reno berusaha menenangkan suasana yang mulai memanas.
"Baik, kita tunggu sampai wali mereka datang."
Aksa semakin resah saja. Selama ini Ayahnya tidak pernah sama sekali datang ke kampus, tidak tahu menahu dirinya berada di kampus itu seperti apa. Harusnya tidak perlu sampai memanggil orang tua, benar-benar seperti anak sekolah saja. Atau mungkin beasiswa Aksa akan dicabut? Memikirkan itu semua, Aksa semakin gelisah hingga tangannya berkeringat.
Aksa mengusap wajahnya sesaat. Hatinya benar-benar kalut.
Nada hanya mampu menatap Aksa. Dia harus bisa melakukan sesuatu untuk Aksa.
Beberapa saat kemudian Pak Teguh datang. Dia bersalaman kepada dekan dan kedua dosen itu.
"Pak Teguh, maaf kita memanggil Bapak. Kita cuma mau menyelesaikan kesalahpahaman di sini."
Pak Teguh duduk di samping Nada. Dia menatap putrinya lalu pada Aksa. "Apa yang terjadi?"
Belum sempat mereka menjawab, kini Pak Rendra mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan.
Di tempat itu, pertama kalinya seorang sahabat yang telah lama berpisah karena kesalahpahaman akhirnya dipertemukan kembali dengan persoalan yang baru.
__ADS_1
Awalnya Pak Rendra tidak menyadari keberadaan Pak Teguh. Dia bersalaman terlebih dahulu dengan Dekan dan kedua Dosen itu. Kemudian dia duduk di samping putranya. Saat dia menoleh, tatapannya kini beradu dengan Pak Teguh.
Satu senyuman terlempar dari Pak Teguh tapi tidak dengan Pak Rendra. Dia menatapnya sengit, bahkan wajahnya telah merah padam. Andai saja dia mengikuti kemauannya, dia ingin pergi menyeret Aksa dari tempat itu sekarang juga.
"Ren, apa kabar?" satu pertanyaan terlontar dari Pak Teguh.
Pak Rendra kembali meluruskan pandangannya. "Tidak perlu basa-basi. Ada masalah apa saya dipanggil ke sini?"
Aksa hanya menundukkan kepalanya. Dia tahu Ayahnya marah, ditambah lagi pertemuannya dengan Pak Teguh di saat yang tidak tepat seperti ini.
"Ada yang berusaha menjatuhkan nama Aksa dan Nada, jadi kami ingin tahu yang sebenarnya." Pak Diki tak lupa menunjukkan semua foto-foto itu dan kronologis kejadian. Termasuk banner yang menuduh Aksa melakukan kecurangan.
Pak Rendra semakin mengeraskan rahang bawahnya. Emosinya kini sudah sampai di ubun-ubun.
"Kami tidak akan membahas soal hubungan Aksa dan Nada karena memang 99% foto itu editan. Hanya saja soal tuduhan di banner itu apa benar seperti yang diberitakan? Apa Nada sengaja membantu Aksa lewat jalur belakang?"
Pak Reno langsung membantah tuduhan Pak Aryo. "Pak Aryo, saya yakin Aksa memiliki skill, dia tidak mungkin bermain curang. Kemenangan dia ikut kompetisi ini memang real."
Seketika Aksa mendongak. Dia menatap Pak Reno. Benarkah dia berhasil lolos?
"Tapi kita harus benar-benar memastikan dulu hal ini. Kemenangan itu sementara harus ditahan dulu. Daripada ketahuan di belakang bisa merusak nama kampus kita."
Pak Rendra semakin mengepalkan tangannya. Inilah yang sangat dia takutkan. Lagi-lagi hanya demi nama baik kampus, mereka tidak mau tahu dengan kebenaran.
"Pak." Nada kini menunjukkan suaranya. Dia tidak mau usaha Aksa selama ini sia-sia. "Saya tidak pernah membantu Aksa dengan cara kotor seperti itu. Saya yakin dengan kemampuan Aksa. Dia pantas jadi pemenang. Ada seseorang yang tidak suka dengan Aksa makanya dia dengan sengaja menyebar berita palsu itu. Dan sebelumnya baik Aksa maupun teman lainnya tidak ada yang tahu kalau saya Nada Azalea. Baru beberapa hari ini saya mengungkap identitas ini, dan itu setelah Aksa melakukan kompetisi."
"Iya, tapi berita ini sudah terlanjur menyebar. Saya ada usulan," kata Pak Aryo. "Agar permasalahan ini clear dan Aksa tetap jadi juara lalu melanjutkan ke kompetisi selanjutnya, lebih baik Nada pindah dari kampus ini karena saya lihat dari catatan pembelajaran kamu, kamu sebenarnya sudah menempuh materi semester ini sebelumnya."
"Baik, saya tidak...." perkataan Nada menggantung karena langsung dipangkas oleh Pak Rendra.
"Tidak perlu. Biar Aksa yang keluar dari kampus ini..."
__ADS_1