It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Terungkapnya Masalah


__ADS_3

"Aksa, ada yang nyariin lo!" Ada sebuah teriakan dari depan tapi belum juga Aksa berdiri pandangan matanya kini bersirobok dengan seseorang yang mencarinya itu.


"Nada."


Nada semakin berjalan mendekati Aksa.


"Kalau gitu, gue tinggal dulu ya." Adit berdiri dan meninggalkan Aksa.


Nada kini duduk di samping Aksa. "Lo kenapa? Habis berantem sama Radit?"


Aksa hanya mengangguk. Dia yang sudah mengambil kotak obat sedari tadi hanya berniat mengobati tapi tak juga dia sentuh.


"Sini gue obati." Nada meraih kotak obat itu lalu mengambil kapas dan obat kompres.


"Gak perlu Na, gue bisa sendiri."


Nada tetap membantu Aksa mengobati luka memar itu, dengan lembut dan penuh perasaan tentunya. "Lo jangan gegabah gini. Gue udah punya cara buat bantu lo."


Aksa menghela napas panjang sambil sesekali meringis menahan sakit.


Setelah selesai, Nada membereskan kembali kotak obat itu. Dia kini menatap Aksa. Meski Aksa terus mengalihkan pandangannya. Mereka terdiam beberapa saat.


"Na, lebih baik lo pulang ya. Lo gak perlu bantu gue. Gue cuma bisa bawa masalah dalam hidup lo. Lo tahu kan, hidup gue complicated banget."


Nada menatap sendu Aksa. Dia tahu semangatnya yang dulu berkobar itu kini telah padam. Dia telah menyerah dengan keadaan. "Aksa, jangan bilang kayak gitu."


"Tapi itu kenyataan, Na. Gue gak mau merusak nama baik lo." Aksa kini menatap Nada. Tangannya tergerak untuk mengusap pipi lembut Nada. "Lo harus tetap bersinar, tanpa gue." Meskipun sebenarnya berat, tapi Aksa harus mengambil keputusan ini. Hubungan yang baru saja dia mulai harus rela dia akhiri.


Aksa berdiri dan akan meninggalkan Nada tapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan kini melingkar di perutnya. "Lo mau ninggalin gue? Karena Ayah lo gak ngizinin lo dekat sama gue? Bukannya lo janji, akan selalu jaga dan temani gue."


Aksa menghela napas panjang. "Maaf Na. Iya, gue udah ingkar janji. Gue gak mau lo dapat masalah karena gue. Sekali lagi gue minta maaf." Aksa melepas tangan Nada lalu dia berjalan menuju dapur, tak peduli lagi dengan Nada yang masih berdiri mematung di tempat itu.


Aksa, gue tahu ini berat buat lo. Gue akan tetap bantu lo. Lo harus tetap meraih impian lo meskipun tanpa gue...


...***...


Pagi itu, Nada telah sampai di kampus. Dia berjalan cukup lambat menyusuri koridor kampus. Tidak bersemangat, karena dia tidak melihat motor Aksa di tempat parkir. Bahkan nomor Aksa juga tidak aktif sejak semalam.


Nada kini masuk ke dalam kelas. Terasa sangat sepi tanpa Aksa.

__ADS_1


"Na," Reta teman sekelas Nada tiba-tiba mendekatinya. "Gue tahu sesuatu."


Nada kini menatap Reta, sepertinya Reta tahu satu hal yang penting.


"Yang nyebarin berita lo dan Aksa itu Radit."


"Iya, gue udah tahu. Meskipun kamera cctv tidak merekam wajah Radit tapi gue tahu yang melakukan itu Radit."


Reta nampak melihat sekitar untuk memastikan jika Radit memang belum datang waktu itu. "Gue kerja part time di sebuah percetakan. Gue ada satu bukti kalau Radit yang mengedit dan mencetak semua foto beserta banner itu."


Nada tak menyangka, jalannya dipermudah seperti ini.


"Gue minta nomor lo, biar gue kirim videonya."


Nada menyebutkan nomor WA nya. Beberapa saat kemudian sebuah video telah masuk ke dalam ponselnya.


"Thanks ya."


Reta tersenyum. "Iya. Gue tahu Aksa. Dia itu baik dan gak mungkin melakukan kecurangan."


"Lo salah satu mantannya Aksa?"


Pak Reno juga telah datang.


Nada menahan keinginannya untuk mengungkap semua. Dia harus melakukannya sesuai rencana. Biarkan saja si brengsek itu mengikuti kelas hari ini, dan mungkin ini kelas terakhir untuk dia.


Setelah kelas selesai, Pak Reno sengaja memanggil Radit. Meminta tolong pada dia untuk membawa barangnya menuju ruangannya.


Nada mengikuti mereka dari belakang. Di dalam ruangan, sudah ada Pak Aryo yang akan menjadi saksi masalah itu.


"Saya permisi." Radit akan keluar dari ruangan Pak Reno tapi Nada menghadang langkahnya.


"Mau kemana?"


"Gue mau keluar. Gak ada lagi urusan di sini."


"Gak ada urusan lo bilang! Lo ada urusan sama kita semua."


Terlihat sedikit raut ketakutan itu yang kemudian ditutupi dengan senyuman palsu.

__ADS_1


Radit kini membalikkan badannya. Berusaha untuk tenang dan bersikap santai. "Ada apa Pak?"


"Apa kamu yang menyebar berita Aksa dan Nada?" tanya Pak Aryo.


"Tidak, Pak."


"Kalau kamu tidak mengaku dan terbukti bersalah, kamu akan saya DO. Tapi kalau kamu mau mengaku, kamu cuma akan mendapat skorsing."


Radit terdiam beberapa saat. "Tidak. Saya tidak melakukan itu. Atas dasar apa menuduh saya? Apa ada bukti?"


"Ada." Nada memberikan ponselnya pada Pak Aryo.


"Aku mau edit dua foto ini... Iya, pakai adegan yang erotis. Sama satu foto ini dicetak dan satu buah banner...."


Radit melebarkan matanya. Darimana Nada mendapat rekaman video itu?


"Radit, masih mau mengelak?"


Nada mengambil ponselnya kembali. Dia ingin mengungkap kesaksiannya lagi sebagai ancaman jika Radit masih saja mau mengelak.


"Gue tahu, lo gak suka sama Aksa. Lo pura-pura baik sama dia, lalu lo hancurkan dia setelah mendapat semua rahasia dia. Yang pertama lo sengaja dekati gadis-gadis Aksa."


"Lo jangan asal tuduh."


Kali ini Nada memutar hasil rekamannya di tempat yang terasa panas waktu itu.


"Kenapa sih lo masih mikirin Aksa. Kan ada gue yang bisa muasin lo. Sejak lo datang ke kos gue waktu Aksa mutusin lo, gue langsung tertarik sama lo. Aksa mana mungkin buat lo mende sah kayak gini, Sal. Dia itu cuma pecundang hanya modal tampang doang."


Radit terdiam bahkan wajahnya kini mulai memucat.


"Lo masih gak mau ngaku. Gue bisa balas sebarkan video itu tapi gue masih punya otak dan moral, makanya gue ungkap semua di sini tanpa ada mahasiswa lain tahu. Gue minta lo klarifikasi semuanya sekarang!"


Radit nampak berpikir. Tiba-tiba dia mendorong Nada dan akan keluar dari ruangan itu.


"Iya, Radit tadi masuk ke dalam, itu dia," ucap salah satu mahasiswa sambil menunjuk Radit yang akan keluar dari ruangan.


Dua orang polisi langsung menyergap Radit. "Ada apa ini? Ini bukan masalah serius mengapa dilaporkan polisi?!"


"Bukan masalah serius kamu bilang!" ucap seorang ibu itu dengan penuh amarah. "Kamu udah paksa anak saya gugurin kandungannya hingga dia pendarahan dan masuk rumah sakit."

__ADS_1


Semua mahasiswa yang ada di tempat itu, termasuk Nada, Pak Aryo, dan Pak Reno sangat terkejut.


__ADS_2