It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Drama Pagi Hari


__ADS_3

Matahari sudah bersinar terang akan tetapi sepasang suami istri yang baru beberapa hari menikah itu masih tertidur dengan nyenyak sambil berpelukan. Entahlah semalam mereka tidur jam berapa yang jelas semalam adalah malam yang panjang dan sangat mendebarkan.


Aksa bergerak pelan dan menggeliat. Dia perlahan membuka matanya dan tersenyum menatap wajah cantik yang terlihat lelah itu masih tertidur dengan berbantal lengannya.


Satu kecupan mendarat di kening Nada yang membuatnya terbangun. "Hmm, Mas jam berapa?" tanya Nada sambil mengerjapkan matanya.


"Astaga udah jam 7 sayang." Dia melihat jam dinding yang berada lurus di depannya.


"Tuh kan Mas. Asyik lakuin ibadah lain tapi sholat wajibnya ditinggalin."


Aksa menggeser dirinya lalu duduk. "Iya, aku lupa gak pasang alarm. Besok-besok gak bakal kayak gini lagi."


"Baru pertama menginap di rumah mertua aku udah bangun siang Mas. Nanti ibu mikirnya aku malas Mas." Nada kini perlahan duduk sambil menahan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Badannya terasa remuk seperti ayam geprek tanpa tulang. Ditambah bagian intinya masih terasa sangat nyeri dan mengganjal seolah milik Aksa masih saja berada di dalam sana. Saat dia menggeser dirinya, rasanya semakin terasa sakit.


"Mas ini kok sakit sih."


"Sakit?" Aksa langsung menyingkap selimut Nada berniat untuk mengeceknya.


Tapi kedua pasang mata mereka dikejutkan oleh noda darah yang tercecer di sprei cukup banyak. "Mas ini..."


"Kan baru pertama Na."


"Tapi emang agak banyak gitu?"


"Aku juga gak tahu. Sakit banget ya? Coba aku lihat ya?"


"Jangan Mas." Nada menahan tangan Aksa saat akan membuka kakinya.


"Kalau gak dilihat ya gak tahu luka atau gak."


Nada menggelengkan kepalanya sambil menautkan alisnya.


Tapi kali ini Aksa sedikit memaksa untuk melihatnya. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Nada karena ulahnya semalam.


"Kayaknya lecet Na yang bagian bawah. Nanti kamu periksa ke dokter aja ya."


Nada semakin memanyunkan bibirnya. "Malu dong Mas periksa ke dokter. Mas sih kemaren yang kedua gak selesai-selesai. Udah tahu segitu gedenya, robek-robek kan punya aku."

__ADS_1


"Ssstt.." Aksa meraih tubuh Nada dalam pelukannya sambil mengusap puncak kepala Nada. "Iya, iya, maaf ya. Biar aku cuci spreinya. Kamu pakai baju dulu."


Nada hanya terdiam. Dia masih saja cemberut. Dia lepas pelukan suaminya lalu turun dari ranjang secara perlahan. Bukan hanya intinya saja yang sakit tapi kedua pahanya terasa sangat pegal seolah dia habis ikut lari maraton berkilo-kilo meter. Katanya enak tapi kenapa rasanya sakit semua.


Setelah turun dari ranjang Nada berjalan perlahan. "Duh, gimana nih jalannya. Aku kayak siput gini." Nada semakin uring-uringan saat menatap pantulan dirinya di cermin yang semrawut ditambah beberapa tanda merah dilehernya yang sangat terpampang jelas. "Mas, ih, kok buat tanda merah kayak gini sih." Nada kini mendudukkan dirinya di kursi dekat meja belajar dan melipat tangannya di atas meja. Merasa kesal dengan suaminya itu.


Aksa yang telah selesai memakai bajunya, dia mengambilkan baju untuk Nada lalu membantunya berpakaian. "Pakai baju dulu."


Nada masih saja cemberut sambil memakai baju yang dibantu oleh Aksa.


"Maaf ya, aku keterlaluan semalam." Aksa meraih sisirnya lalu menyisir rambut Nada agar tidak terlalu terlihat berantakan. Dia kini merasa bersalah. Mengapa juga dia semalam terlalu menggebu dan enggan menyudahi permainannya yang kedua bahkan dia tak menggubris saat Nada bilang sakit dan minta sudah. Dia hanya bilang sebentar lagi, sebentar lagi, tapi tak selesai-selesai. Hah, rasa nikmat berujung menyesal.


"Aku di dalam aja. Malu keluar kamar."


"Kamu mandi dulu. Nanti sarapan di kamar."


Nada menggelengkan kepalanya lalu dia menelungkupkan wajahnya di atas meja.


Aksa menghela napas panjang. Dia segera menggulung spreinya lalu menggantinya dengan yang baru. Setelah itu dia pungut juga baju Nada yang tercecer semalam di lantai dan sekalian dia cuci.


"Ngapain Aksa?" tanya ibunya yang memang kebetulan berada di dapur.


Aksa tak menjawab. Setelah memasukkan cuciannya ke mesin cuci dia segera mengisinya dengan air.


"Kok dicuci spreinya?"


Aksa menggaruk tengkuk lehernya. Ibunya sengaja mengekor Aksa. "Itu, hmm, kotor."


"Kotor?" Bu Diana menatap putranya dengan penuh selidik. Ternyata benar suara berisik semalam dari kamar Aksa. "Nada masih tidur?"


"Udah bangun tapi masih di kamar."


"Kenapa? Udah siang mandi dulu terus sarapan."


Lagi-lagi sebuah pertanyaan mudah yang sulit Aksa jawab. "Hmm, itu, Nada lagi sakit."


"Sakit apa?" suara Bu Diana sedikit panik.

__ADS_1


Aksa hanya tersenyum hambar. Apakah ibunya tahu jika penyebab sakitnya Nada adalah dirinya.


"Aksa, Aksa. Kamu tuh ya jangan sampai keterlaluan lakuinnya." Akhirnya Bu Diana yang memang sudah tahu penyebabnya tanpa jawaban dari Aksa, kini mulai memarahi putranya. "Sampai semalam suntuk. Emang kamu pikir Ibu gak denger. Untung kamar adek kamu jauh." Bu Diana mengambil sebuah panci lalu mengisinya dengan air dan meletakkannya di atas kompor. Tak lupa menyalakannya.


Aksa semakin gugup saja sambil menuang deterjen ke dalam mesin cuci.


"Kamu itu kan titisannya Ayah kamu. Ibu tahu pasti sekarang Nada sampai sulit buat jalan. Baru pertama itu ya dipikir dulu jangan langsung main semalaman. Kasihan kan Nada. Nanti dimarahi mertua kamu kalau tahu Nada sampai kenapa-napa. Anak orang itu Aksa."


Aksa hanya bisa menelan salivanya sambil menghela napas panjang. Semalam harusnya dia mengikuti kata Nada untuk tidak melakukan di kamar sempitnya. Sekarang saat dia mendengar ceramah dari ibunya sendiri, dia merasa sangat malu. Rasanya seperti dia sudah perkosa anak orang saja padahal sama istrinya sendiri.


Aksa kini mengucek noda-noda itu sebelum diputar dengan mesin.


"Ya udah ibu mau ke kamar Nada."


"Ibu, Nada malu nanti kalau..."


"Aduh, kamu tuh pengen ibu jewer rasanya. Terus mau biarin Nada di kamar sampai nanti." Bu Diana masih saja mendumel sambil berjalan menuju kamar Aksa..


"Ada tragedi apa sampai ibu kamu ngomel kayak gitu?" Pak Rendra kini mendekati putranya yang sedang berkutat dengan cuciannya.


Aksa kembali menghela napas panjang tanpa menjawab. Sebuah pertanyaan yang sulit dia jawab lagi. Sedangkan sebenarnya Ayah yang berada di sampingnya itu pasti sudah tahu tragedi yang sebenarnya. Kenikmatan yang berujung nahas di pagi hari.


"Soal semalam?" tanya Pak Rendra dengan senyum lebarnya. Berbeda dengan ibunya tadi yang terus mengomel. "Kamu benar-benar anak Ayah. Sampai bakat terpendam pun sama." Pak Rendra semakin tergelak sedangkan Aksa hanya tersenyum masam. "Kamu tahan dulu beberapa hari setidaknya sampai tiga hari. Biar istri kamu gak trauma karena rasa sakit." Satu tepukan mengakhiri pembicaraan singkat seorang Ayah pada putranya.


Aksa kembali menghela napasnya.


Nahan tiga hari lagi?


💞💞💞


.


🤣🤣🤣


.


Udah puas nertawain Aksa pagi2..

__ADS_1


__ADS_2