It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Hal yang Dinanti 2


__ADS_3

Full plus plus ya. yang gak suka skip skip next. oke.. 😁


...✨✨✨✨✨✨✨...


"Sayang, aku minta sekarang ya?" tanya Aksa dengan suara beratnya.


Nada terdiam dan menatap Aksa.


Oke, rileks. Berdasarkan artikel yang aku baca sakitnya cuma sebentar kok. Rileks aja. Inhale.. Exhale..


Aksa kembali mendekatkan dirinya. Mencium bibir itu dengan lembut, yang semakin lama semakin menuntut. Dia semakin memeluk tubuh Nada hingga seluruh bagian dada mereka saling bersentuhan tanpa penghalang apapun.


Nada bagai lupa daratan hingga saat Aksa bertanya untuk yang kedua kalinya dia hanya menganggukkan kepalanya.


Aksa kembali menyerbu bibir Nada. Dengan bibir yang masih menempel, dia menuntunnya mendekati ranjang dan sedikit mendorong tubuh Nada hingga jatuh di tengah ranjang. Lagi, Nada berada dalam kendalinya. Mereka saling bertatapan lekat dengan isyarat mata yang sudah diliputi gairah.


Aksa kembali mendekatkan dirinya. Menyusuri leher jenjang Nada. Menyapunya dan menyesapnya hingga meninggalkan beberapa jejak di sana.


Gelenyar nikmat semakin terasa di sekujur tubuh Nada. Dia gigit bibir bawahnya saat merasakan geli dan bercampur nikmat itu. Tubuhnya sudah bergeliat tak karuan apalagi saat dia merasakan kedua tangan Aksa menangkup miliknya. Mulai mengusapnya lembut, lalu mere masnya.


Ada suara yang tiba-tiba keluar begitu saja meski Nada berusaha untuk menahannya saat jari Aksa bermain pada puncak kedua benda miliknya.


"Aksa," panggil Nada di sela napasnya yang kian memburu.


Wajah Aksa yang sedari tadi bersembunyi di leher Nada, kini mendongak. Menatap wajah Nada yang sudah merah padam sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa sayang?"


"Geli."


Aksa justru tersenyum miring. Dia menegakkan dirinya dengan tangan yang masih bergerak aktif menciptakan sensasi. Beberapa detik kemudian Aksa kembali menenggelamkan dirinya di dada Nada. Mengambil alih tugas tangannya dengan bibirnya. Dia usap dengan lembut dada Nada secara bergantian. Menghisapnya dan meninggalkan jejak mahakaryanya di sekitaran tempat itu.


Nada semakin tidak bisa menahan suara indahnya. Rasa basah dan hangat dari sapuan bibir Aksa begitu terasa nikmat. Apalagi saat dia merasakan bibir itu singgah dengan lama di puncak benda kecil yang sudah menegang itu. Rasanya sangat geli dan semakin mengaduk perut bagian bawahnya. Permainan lidah Aksa dengan sesekali hisapan dalam itu membuatnya seolah melambung.


"Aksa, hmm.."

__ADS_1


Mendengar suara indah Nada, gerakan Aksa semakin menjadi. Lupakan sejenak jika mungkin suaranya terdengar sampai luar anggap saja kedua orang tuanya dengan kamar yang memang bersebelahan itu sudah tertidur dengan nyenyak.


Tangan kanan Aksa diam-diam sudah merayap ke bawah. Menyingkap penutup terakhir Nada. Dengan gerak halus dan lembut dia mainkan jarinya di sana.


Awalnya Nada mempersempit ruang gerak jari Aksa. Tapi saat dia mulai terlena dengan permainan Aksa, dia membukanya cukup lebar. Bahkan suara desa han Nada semakin menjadi dengan sesekali menyebut nama Aksa.


Aksa kembali menegakkan kepalanya. Dia mencium bibir yang meracau itu agar suaranya tenggelam. Hanya sesaat kemudian ciumannya bergeser ke pipi lalu bergeser ke telinga.


"Nikmati sayang. Suara kamu indah.." bisik Aksa kemudian dia menyapu telinga Nada dengan indera pengecapnya.


Tubuh Nada semakin bergeliat tak karuan. Apalagi saat jari Aksa menemukan titik paling sensitif di bagian bawah Nada. Dia mainkan secara melingkar yang membuat area itu semakin basah bahkan kini terasa berkedut beberapa kali.


Aksa tersenyum tipis, lalu membisikkan sesuatu pada Nada yang membuat tubuhnya kian menegang. "Sudah basah. Sudah siap ya ke adegan intinya?"


Pertanyaan Aksa membuat Nada kini menatapnya. Nada hanya mengatur napasnya yang tersenggal tanpa menjawab pertanyaan dari Aksa.


Aksa mencium singkat pipi yang merona itu lalu dia menegakkan dirinya. Dia lepas kain segitiga yang telah basah milik Nada lalu dia lempar ke sembarang tempat. Dia pandangi tubuh sempurna Nada yang semakin membuat sesuatu di dalam celana pendeknya meronta ingin segera dikeluarkan dan dituntaskan.


Tapi, rupanya dia masih belum puas bermain di tubuh Nada. Dia dekatkan dirinya, dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua pa ha Nada.


"Aksa... Aksa... Udah, geli.." Nada seperti tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia semakin meracau merasakan hisapan dan gigitan-gigitan kecil di bawah sana.


Aksa semakin liar saja melakukan aksinya apalagi saat kaki Nada semakin melingkarinya dan beberapa kedutan terasa di bibirnya. Aksa melepaskan bibirnya saat Nada mulai melemas. "Udah sampai puncak berapa kali sayang?"


"Gak tahu ah. Rasanya campur aduk gak karuan."


Aksa menegakkan dirinya. Dia kini meloloskan celananya hingga sesuatu yang terkekang sedari tadi menampakkan wujud aslinya.


"Udah siap banget, ingin segera dituntaskan."


Memang pahatan tubuh yang sangat sempurna, pantaslah dulu banyak gadis yang mengejarnya.


Aksa mendekatkan dirinya, sepertinya dia mau mengajak Nada berkenalan terlebih dahulu dengan miliknya. Tapi ekspresi yang ditunjukkan Nada lain. Dia nampak terkejut dengan mata yang membulat.


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


Nada menelan salivanya berkali-kali menatap bagian tubuh Aksa yang berdiri tegak menantang, panjang, besar, dan ber otot. (Jangan dibayangkan woy, punya Aksa itu beda daripada yang lain.. 😂)


"Ini seriusan segini?"


Aksa justru menuntun tangan Nada untuk menyentuhnya. "Kan kamu dulu pernah main-main di atasnya."


"Tapi kan terhalang celana."


"Ya ini aslinya. Asli tanpa minyak atau obat apapun."


Glek!!


Kesekian kalinya Nada menelan salivanya agar tidak sampai menetes.


"Segini? Berapa ukurannya?" Nada memegang pelan benda itu seolah mengukur panjang dan diameternya yang memang di atas produk lokal.


"Ya gak tahu. Belum diukur. Nanti kalau ada penggaris kamu ukur."


Bercanda? Kalimat bercanda Aksa sudah tidak konek dengan otaknya. Dia justru membayangkan muatkah didirinya. "Emang segini muat? Punya aku bisa robek-robek Aksa."


Aksa tergelak. Memang bisa seperti itu? "Ya gak akan sayang. Sakitnya cuma bentar selebihnya enak. Katanya sih, aku juga gak tahu. Makanya kita coba."


Nyali Nada semakin menciut saja. Belum apa-apa saja bayangan yang tidak-tidak kembali muncul. "Takut ah."


"Kok takut?" Aksa kembali menindih Nada dengan siku yang menopang dirinya agar tidak terlalu memberatkan Nada. "Jangan tegang. Rileks aja ya. Sama-sama baru pertama. Kita sama-sama belajar. Inilah ibadah terindah kita."


Aksa mengecup kening Nada cukup lama hingga membuatnya tenang. Kemudian dia mendekatkan bibirnya di telinga Nada memanjatkan sebuah do'a yang mampu menentramkan hati Nada hingga membuatnya tidak ada rasa ragu lagi karena setan saja akan pergi jika mendengar do'a itu dan tidak akan lagi mengintip apa yang akan dilakukan mereka berdua termasuk pembaca.


Mereka saling menatap lekat. "Sudah lebih tenang kan? Aku akan mulai...."


💞💞💞


.


.

__ADS_1


Bersambung dulu... 😁


__ADS_2