
"Papa nanti datang ke rumah Aksa?" kata Nada yang kini sudah bersiap untuk pergi bersama Aksa.
"Ada acara apa?"
"Ada syukuran kecil-kecilan, Pa." jawab Aksa. "Sama kumpul dengan teman-teman saya sebelum pindahan. Kalau Papa tidak bisa datang tidak apa-apa."
"Ya sudah, titip salam saja ya. Kebetulan sebelah rumah juga ada acara kirim do'a."
"Iya Pa, tidak apa-apa."
"Kalian nanti menginap di sana?"
"Iya, Pa. Sekalian besok mau kemas barang-barang biar dua hari lagi kita bisa pindah ke rumah baru."
"Bagus." Satu tepukan mendarat di pundak Aksa lalu Pak Teguh berlalu.
Mendengar kata berkumpul dengan teman-teman, Satya mendekat. Dia ingin bertanya sesuatu.
"Teman kampus kamu juga ikut?"
Aksa dan Nada saling pandang beberapa saat. "Bukan, teman cafe sama teman dekat rumah."
Nada menangkap bau mencurigakan dari Kakaknya itu. "Hayoo, mau tanya siapa?"
Satya tersenyum kecil. Karena senyuman manis dari gadis berhijab itu tidak bisa dia lupakan selama dua hari ini. "Salma itu teman kalian?"
Pertanyaan Satya membuat mata Nada dan Aksa melebar. Mereka saling senggol beberapa saat.
"Memang kenapa kak?" tanya Nada.
"Gak papa. Dia cantik aja."
Nada mencebikkan bibirnya. "Salma sih mantan Aksa."
Satya menatap Aksa sedikit terkejut tapi sedetik kemudian wajahnya kembali datar. "Oo, mantan kamu?"
"Mantan gak begitu penting sih kak. Dulu pacaran cuma beberapa minggu aja."
Nada hanya mencibir. Dia tiba-tiba ingat dengan adegan yang tak sengaja dia lihat antara Salma dan Aksa saat dia baru pertama kali masuk kampus.
"Kamu punya nomor wa nya?"
"Ada kak."
Aksa mengambil ponselnya, lalu dia segera mengirim nomor Salma pada whatsapp Satya.
Nada semakin memanyunkan bibirnya. Ternyata Aksa masih saja menyimpan nomor mantan.
"Hari Kamis gini biasanya dia ikut UKM Rohis* di kampus sampai sore."
__ADS_1
Senyum Satya mengembang. Dia yang memang mantan anak UKM Rohis di kampus itu jelas tahu. "Oke, thanks." Lalu Satya berlalu.
Sedangkan Nada kini melangkah cepat keluar dari rumah.
"Loh, Na?" Aksa segera menyusul langkah Nada. "Kenapa?" tanya Aksa saat Nada kini melipat tangannya sambil bersandar di sisi mobil.
"Ngapain sih masih nyimpan nomor mantan? Pakai tahu kegiatan dia juga."
Aksa tersenyum lalu mencubit kecil pipi Nada. "Udah, jangan cemburu. Itu hanya masa lalu."
"Jangan-jangan nomor mantan masih banyak yang tersimpan di hp kamu."
Aksa masih saja tersenyum lalu memberikan ponselnya pada Nada. "Nih, kamu cek aja." Setiap berhubungan dengan masa lalu, Nada pasti cemburu. Memang mantan playboy yang telah tobat itu patut untuk dicemburui.
Aksa ikut bersandar di sisi mobil sambil sesekali melirik Nada yang mengobrak-abrik isi dalam ponselnya.
"Udah ah, bosenin hp kamu." Nada mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Tapi orangnya gak kan?" goda Aksa sambil mengecup singkat pipi Nada. Lalu dia membukakan pintu mobil untuk Nada. "Silahkan istriku sayang."
Bibir yang cemberut itu seketika tertawa. "Ih, lebay Mas," kata Nada sambil masuk ke dalam mobil.
Setelah menutup pintu kembali, Aksa segera menuju kursi pengemudi.
Aksa sedikit menghela napas panjang saat menghidupkan mesin mobil itu. "Mobilnya aku pakai pas keluar sama kamu aja ya. Kalau aku keluar sendiri biar pakai motor."
Aksa tersenyum lalu mulai melajukan mobil itu. Jalanan waktu itu tidak terlalu padat dan terpantau lancar.
"Mas sejak kapan bisa bawa mobil?"
"Udah lama sih. Sejak lulus SMA. Anak-anak cafe yang ngajarin. Biar pas kirim pesanan catering dalam jumlah besar aku juga bisa jadi sopir. SIM juga sudah punya. Hebat kan, gak punya mobil tapi udah punya SIM."
Nada hanya ber-oh sambil menganggukkan kepalanya. Lalu kembali tersenyum.
Satu tangan Aksa kini terulur dan mengusap puncak kepala Nada. "Kalau ada yang mengungkit masa lalu aku, jangan ngambek lagi ya. Sekarang aku udah jadi milik kamu seutuhnya. Gak ada gunanya lagi mikirin masa lalu."
Mendengar lembutnya suara Aksa dan nyamannya usapan Aksa, Nada hanya mampu menganggukkan kepalanya. Dia kini meraih tangan Aksa dan mengenggamnya lalu dia sedikit bersandar di bahu Aksa. "Kok bisa ya, aku cinta sama kamu sampai kayak gini."
Aksa hanya tersenyum mendengar kalimat Nada. "Iya, aku salah satu pria beruntung yang dicintai Nada sampai sebesar ini. Tapi cinta aku sama kamu gak kalah besar loh."
"Ih, gombal lagi."
...***...
Sore itu Satya berjalan melewati lorong kampus menuju ruang Rohis. Dia yang memang alumni kampus itu tahu betul tata letak ruang di kampus. Sepertinya dia sedikit terlambat karena di dekat ruang Rohis, Satya berpapasan dengan Salma.
"Salma.." panggil Satya.
Salma hanya tersenyum dan menghentikan langkah kakinya sesaat.
__ADS_1
"Kamu masih ingat sama aku? Kita bertemu di resepsinya Nada. Kenalkan aku Satya, kakaknya Nada."
Salma sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. "Iya Kak," jawabnya singkat.
"Mau pulang? Aku antar ya? Kebetulan aku..."
"Tidak usah Kak. Aku bawa motor sendiri. Permisi." Salma melanjutkan langkah kakinya tanpa menunggu perkataan dari Satya lagi.
Tingkah laku Salma justru membuat Satya semakin penasaran untuk mencari tahu tentang Salma. Dia kini masuk ke dalam ruang rohis. Dia ingin menemui pimpinan kegiatan itu yang memang teman lamanya.
"Assalamu'alaikum Yusuf..." salam Satya sambil duduk di dekat Yusuf yang sedang menulis di atas bukunya.
"Wa'alaikumsalam. Hei, Satya apa kabar? Lama tidak ke sini?" Mereka bersalaman beberapa saat.
"Sibuk urus kantor sekarang. Aku mau tanya boleh?"
"Tanya apa?"
"Salma anak rohis sini kan?"
Seketika Yusuf menghentikan pekerjaannya dan menatap Satya. "Iya. Kamu kenal?"
"Aku baru beberapa kali bertemu sih. Dia belum nikah kan? Atau belum punya pacar? Setahu kamu dia gimana?"
Yusuf nampak berpikir sesaat. "Kamu tahu kalau Salma mantan adik ipar kamu?" Rupanya hal itu sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus. Bahkan pimpinan rohis sampai tahu tentang Aksa dan Salma.
"Iya tahu."
"Aksa atau Nada ada cerita lagi gak sama kamu soal masa lalu Salma?"
Satya menggelengkan kepalanya.
"Kamu jatuh cinta sama Salma?"
Satya tersenyum sambil membayangkan senyum manis di wajah cantik Salma. "Love at first sight." (Cinta pada pandangan pertama).
"Tapi Salma gak akan semudah itu kamu dekati. Dia trauma dengan masa lalunya. Aku gak bisa cerita banyak sama kamu soalnya ini sangat pribadi. Yang jelas jika kamu memang mencintai Salma, kamu juga harus bisa menerima luka di masa lalunya."
"Luka masa lalu? Oke, semua orang pasti memiliki masa lalu. Hmm, aku boleh minta alamat rumahnya?"
"Oke. Semoga Salma kali ini menemukan kebahagiaannya..." lalu dia mengambil secarik kertas dan mulai menulis alamat rumah Salma.
💞💞💞
.
.
*UKM rohis \= Unit Kegiatan Mahasiswa Rohani Islam
__ADS_1