
Nada sama siapa?
Dari kejauhan dia bisa menangkap bayangan istrinya yang sedang bercanda dengan seorang lelaki. Tertawa lepas sambil sesekali memukul lengan lelaki itu.
Tertawa bareng sama cowok lain bisa sampai seakrab itu...
Aksa berjalan pelan mendekat. Dia terus menatap istrinya dan lelaki itu dengan tatapan kelam. Dia berhenti di dekat mereka berdua sambil melipat tangannya. Nada tak juga menyadari kedatangan Aksa, dia masih saja asyik bercanda dengan Aldo.
Kini Aldo bisa menangkap tatapan tajam Aksa yang sangat mematikan. Siapapun yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri, walau tanpa suara tapi kemarahan itu jelas terlihat. "Eh, Na, ada suami lo." Untuk saat ini siapa yang tidak kenal dengan suami Nada. Seorang pianis muda yang sedang viral.
Nada kini menatap suaminya yang sudah berdiri tak jauh darinya. "Loh, Mas udah lama di sini?"
"Barusan," jawab Aksa flat saja.
"Do, kenalin ini..."
Baru saja Nada akan memperkenalkan Aksa pada Aldo, tapi Aldo sudah melangkah pergi. "Iya gue udah tahu, gue ke ruangan dulu ya."
Nada hanya terbengong melihat tingkah Aldo yang seperti seorang ketakutan melihat penampakan. Penampakan malaikat pencabut nyawa mungkin.
Nada yang merasa tidak bersalah, dia kini justru asyik melihat barang-barang di tempat itu. Mulai dari meja, lalu whiteboard. "Mas, whiteboardnya enakan yang sedang atau yang besar ya?"
Aksa yang sedari tadi hanya melipat tangannya dan berjalan di samping Nada menjawabnya dengan sepatah kata saja. "Terserah."
Nada melirik suaminya. Memang pada dasarnya Nada tidak begitu peka dengan keadaan. Apalagi cemburu Aksa yang memang belum pernah dia ketahui seperti apa modelannya. "Mas, butuh meja gak ya? Nanti kan aku mau ngajarin mulai dari teori dulu baru praktek jadi biar mereka mengerti ilmu dasarnya."
"Hmm, iya, terserah."
__ADS_1
Lama-lama Nada mulai kesal juga. "Mas, kenapa sih jawabnya dari tadi terserah, terserah aja."
"Aku capek. Aku tunggu di mobil aja ya." Aksa melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Nada.
Dengan menggerutu akhirnya Nada menyusul langkah panjang suaminya. Mengikutinya masuk ke dalam mobil.
"Gak jadi belanja?" tanya Aksa datar.
"Gak jadi."
"Ya udah kita pulang." Aksa mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir.
Sepanjang perjalanan Aksa hanya diam saja. Begitu juga dengan Nada yang sesekali melirik suaminya itu. Dia masih belum paham juga kenapa suaminya marah seperti ini.
Sampai di depan rumah. Aksa keluar begitu saja. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Nada.
"Mas," panggil Nada yang kini melihat Aksa sedang minum air putih sambil duduk di meja makan. "Makan dulu aja, mungkin Mas lapar." Menurutnya, mungkin saja Aksa sedang lapar saat itu hingga moodnya turun.
Tanpa suara lagi, hanya ada dentingan sendok dan piring yang sesekali berbunyi.
Setelah selesai makan, akhirnya Nada memutuskan untuk bertanya penyebab Aksa berdiam diri. "Mas kenapa sih ngambek gini? Tumben?"
"Siapa cowok tadi?" tanya Aksa dengan nada kakunya.
"Cowok?" Sedetik kemudian Nada justru tertawa. "Jadi Mas dari tadi cemburu? Cemburunya playboy tobat emang beda. Bermartabat. Gak langsung diumbar di tempat umum."
Aksa menghela napas panjang. "Aku gak cemburu. Hanya gak suka aja seorang istri bercanda sama lelaki lain sampai sentuhan fisik kayak gitu."
__ADS_1
"Ya Allah Mas, Aldo itu sahabat aku waktu SMA. kita satu geng jadi udah biasa bercanda kayak gitu."
"Sahabat atau mantan?"
"Sahabat. Aku gak punya mantan."
"Tapi tetap aja. Kamu jangan terlalu dekat dengan lelaki lain."
Nada semakin mengulum senyumnya. Dia berdiri lalu duduk di pangkuan Aksa. "Ciee, si playboy tobat posesif banget ternyata." Nada menangkup kedua pipi Aksa, wajah itu masih saja terlihat masam. "Iya, aku minta maaf. Aku gak tahu kalau Mas cemburu. Mulai sekarang aku akan jaga sikap."
Hati yang tadi mengeras seperti es batu, kini mulai melunak. Dia lingkarkan tangannya di pinggang Nada. "Aku tuh cinta sama kamu..."
"Iya, tahu. Dan sekarang aku juga tahu cemburunya Mas Aksa tuh gimana kan selama ini aku aja yang cemburu." Nada mendekatkan dirinya dengan tangan yang masih menangkup kedua pipi itu. Dia sentuh bibir yang sedari tadi mengerucut itu dengan lembut. Mulai memandu permainan hingga hawa panas tercipta. Untunglah Mbak Sumi sedang membersihkan ruang tamu hingga dia tidak melihat adegan erotis itu.
"Udah aku obatin. Biar bibirnya gak manyun," kata Nada setelah melepas pagutannya.
"Belum, aku masih ada satu hukuman buat kamu." Aksa bangkit dari duduknya lalu menggendongnya ala bridal style.
Tangan Nada kini melingkar di leher Aksa. Dirinya seperti melayang saat Aksa berjalan keluar dari dapur lalu menaiki anak tangga satu per satu. Sudah tidak peduli lagi pekikan dari Mbak Sumi yang berpapasan dengan mereka.
"O my god, mereka mesra banget sih.." Mbak Sumi yang melihat adegan mereka hanya bisa gigit jari.
"Hukuman apa sih Mas?" tanya Nada berlagak polos.
Aksa hanya tersenyum sambil membuka pintu kamarnya dengan siku lalu menutupnya kembali. Setelah itu dia menjatuhkan tubuh Nada di atas ranjang dan mengungkungnya.
"Hukuman yang paling enak...."
__ADS_1
💞💞💞
🤫