
Nada membulatkan matanya dengan sempurna. "Lamaran?! Lamaran gimana?"
Tante Ira semakin tersenyum. "Ya, lamaran sayang. Pertemuan dua keluarga untuk membahas pernikahan kamu."
Otak kerja Nada seketika melambat. Dia justru berpikir yang tidak-tidak, apa dia akan dijodohkan dengan seseorang yang tak dikenal seperti di film-film itu. "Sama siapa?"
Tawa Tante Ira semakin pecah. "Sama cowok yang melamar kamu semalam itu secara live. Kamu ini lucu ya."
Hah? Kenapa Aksa gak bilang kalau dia mau ke sini sama keluarganya. Bener-bener sukanya buat aku jantungan.
"Kok malah bengong, ayo ganti baju. Setelah itu tante bantu buat rias kamu."
Detak jantung Nada semakin tidak terkontrol. Benarkah semua serba kejutan seperti ini? Dia akhirnya meraih gaun itu dan ke kamar mandi untuk memakainya.
Gerogi? Sangat. Sampai dia tidak bisa berkata-kata, bahkan tidak sanggup membayangkannya.
"Tuh kan. Pas banget. Cantik." Tante Ira menuntun Nada agar duduk di depan meja rias. "Pake make up natural saja ya."
"Aku bisa sendiri tante."
"Biar tante bantu." Tante Ira yang memang dulunya seorang MUA tentu sangat handal dalam hal merias. "Kok jadi tegang gini?"
"Gimana gak tegang tante. Semuanya serba tiba-tiba kayak gini."
"Seru kan. Kamu beruntung deh, dapat cowok yang ganteng, romantis, penuh kejutan. Gak kayak Om kamu itu, dingin."
"Tapi tante cinta kan?"
"Ya pasti." Tante Ira menertawakan dirinya sendiri kemudian dia kini mulai menata rambut panjang Nada.
Nada kembali terdiam. Dia kini mengambil ponselnya. Benar sekali, tidak ada pesan satupun dari Aksa semenjak tadi pagi. Aksa memang penuh kejutan. Nada tidak menyangka Aksa akan seserius ini dengan dirinya.
"Sudah cantik."
...***...
"Assalamu'alaikum." Rombongan keluarga Aksa yang berjumlah 10 orang itu, kini tiba di rumah Nada.
"Wa'alaikumsalam." senyum mengembang di bibir Pak Teguh. Hal pertama yang dia lakukan adalah memeluk Pak Rendra. "Ren.." Dia menepuk-nepuk punggung Pak Rendra.
"Guh, kita dulu pernah gagal menjadi sahabat. Tapi kita akan menjadi besan."
Tawa mereka berdua langsung pecah saat mereka melepas pelukannya. "Iya, kamu benar. Kegagalan itu awal dari kesuksesan. Ayo, masuk. Kenapa mendadak sekali seperti ini. Kita jadi tidak mempersiapkan apa-apa."
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam rumah sambil memberikan barang-barang yang mereka bawa pada keluarga Pak Teguh.
"Tanpa persiapan tapi sudah ada dekor dan segala macamnya." Beberapa kursi memang sudah berjajar. Ada sebuah dekor kecil yang dibuat secara mendadak oleh Om Devan. Di sudut ruangan juga telah ada tempat prasmanan.
Pak Teguh justru tertawa sambil menepuk pundak Rendra. "Kedatangan keluarga besan harus disambutlah. Duduk dulu ya. Nada masih di kamar."
Mereka semua duduk dan masih asyik bercengkrama. Pak Teguh sesekali masih tertawa lebar bersama Pak Rendra.
"Satya panggil Nada. Kayaknya Aksa sudah gak sabar mau bertemu Nada."
Aksa seketika tersenyum karena sebelumnya memang bertanya tentang keberadaan Nada.
Satya segera berjalan menuju kamar Nada di lantai atas. Dengan ketukan pintu terlebih dahulu lalu dia membuka pintu itu. "Na, udah siap?"
Nada yang memang sudah siap, dia berdiri dan menghampiri Satya. "Kak Satya kok gak bilang sih soal ini."
"Jadi udah tahu?"
"Iya, dikasih tahu tante Ira."
"Ini aja hasil ngulik info semalam. Kalau aku gak tanya, kita malah gak ada persiapan apa-apa Na. Ayo turun. Aksa udah nunggu. Wajahnya fresh banget kayak baru keluar dari ovenan."
Nada dan tertasa Ira tertawa. "Emang dikira roti."
Satya menggandeng tangan adiknya itu. "Baru kali ini Papa bisa tertawa lepas seperti itu setelah Mama meninggal."
Dia kini duduk di dekat Papanya. Hanya bisa menundukkan pandangannya saat terus dihujani tatapan dari Aksa.
"Nada apa kabar?" tanya Bu Diana yang memang sudah lama tidak bertemu Nada sejak terakhir kali dia ke rumah Aksa.
"Baik, Bu."
"Nada, saya minta maaf atas perkataan yang dulu."
"Tidak perlu minta maaf, Pak. Tidak ada yang salah. Semua sudah berlalu."
Pak Rendra tersenyum sambil menepuk bahu Aksa yang ada di sampingnya. "Ini bisa saya utarakan ya maksud kedatangan kami ke sini tanpa dibuka host dulu."
Pak Teguh kembali tergelak. "Kamu ke sini mendadak jadi tidak ada susunan acara dan host."
"Tidak apa. Memang Aksa sengaja memberi kejutan untuk Nada."
Aksa tersenyum menggoda Nada yang pipinya terlihat bersemu merah.
__ADS_1
"Kami sekeluarga datang ke rumah Pak Teguh untuk menyampaikan niat baik putra saya Aksa untuk melamar putri Bapak, Nada."
Pak Teguh tersenyum sambil merangkul putri tercintanya yang duduk di sampingnya. Tidak menyangka putri kecilnya sekarang telah dewasa dan akan segera menikah.
"Bagaimana apa lamaran Aksa diterima?"
"Biar Nada yang menjawabnya."
Nada tercekat. Tenggorokannya terasa kering untuk bersuara. Mengapa rasanya lebih menegangkan daripada lamaran Aksa semalam. Hari ini tidak ada kamera yang menyorotnya, tapi rasanya lebih mendebarkan. Apa karena jawabannya disaksikan oleh seluruh keluarga yang ada di tempat itu.
"Pa, semalam kan sudah aku jawab."
Semua yang hadir ikut tertawa mendengar perkataan Nada.
"Na, kemarin beda. Apa jawaban kamu untuk lamaran resmi yang sekarang," kata Pak Teguh yang masih saja menyunggingkan senyumnya.
"Na," kali ini Aksa mulai berkata setelah sebelumnya melempar senyum termanisnya terlebih dahulu. "Baik, aku akan mengulang momen kita semalam dan kali ini ada keluarga aku dan keluarga kamu yang menjadi saksi kisah kita."
Nada menelan salivanya berkali-kali. Sosok yang sekarang berbicara dengan serius itu begitu terlihat memukau yang mampu menyihir dirinya hingga pandangannya tak lepas darinya.
"Aku tahu, aku bukan sosok yang sempurna buat kamu tapi aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu. Akan selalu mencintai dan menyayangi kamu. Satu janji aku sudah terpenuhi untuk melamar kamu di ujung kesuksesanku. Dan aku masih punya satu janji sama kamu, aku akan menemani dan menjagamu di sepanjang hidupmu. Aku bisa memenuhi janji itu jika kamu mau menjadi bagian dari hidup aku. Kamu mau kan, menjalani hidup suka dan duka bersamaku, menjadi labuhan terakhir hatiku dan menjadi pasangan hidupku selamanya?"
Semua yang ada di ruangan itu ikut tersenyum kecil dan terbawa perasaan mendengar kata-kata indah tapi bukan janji palsu seperti seorang caleg yang sedang berkampanye.
Nada speechless. Dia hanya tertegun menatap Aksa.
"Na?"
Dengan terbata akhirnya Nada menjawabnya. "I-iya aku mau." tidak ada lagi kelanjutan kalimatnya. Mungkin Nada memang belum menyiapkan kata-kata indah buat Aksara. Tidak apa, itu tidak masalah.
"Uh, manisnya. Mas Dev, belajar sama Aksa gih biar so sweet gitu." celetuk Tante Ira tapi langsung dapat senggolan dari suaminya.
"Masalah pernikahan apa ingin secepatnya atau sudah memutuskan waktunya?" tanya Pak Teguh yang semakin menambah genderang di dada Nada.
Aksa tersenyum lalu menjawabnya, "Setelah saya wisuda."
"Nada siap?"
Nada hanya mengangguk.
"Na, kamu tahu kapan aku wisuda?"
Nada hanya menatap Aksa. Bukankah Aksa baru semester 7. Lalu?
__ADS_1
.
.