It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Akad Nikah


__ADS_3

Hari itu, tepat pukul 09.00 di rumah Nada. Aksa duduk dengan tegang sambil sesekali menghela napas panjang berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.


Dia terlihat sangat tampan, dengan setelan putih-putih lengkap dengan menggunakan sebuah peci.


"Aksa, jangan tegang." Satu tepukan didapat Aksa dipundaknya dari Pak De yang mengantarnya sekaligus yang akan menjadi saksi sebuah akad nikah yang diselenggarakan hari itu.


"Iya Pak De."


Hanya ada beberapa keluarga dan kerabat yang akan menyaksikan akad mereka. Walau demikian tetap saja tak meredakan detak jantung Aksa yang kian mengeras seperti genderang yang ditabuh.


Apalagi saat penghulu sudah datang lalu duduk sejajar dengan Pak Teguh di hadapannya.


Beberapa saat kemudian Nada yang didampingi oleh Kakak dan Tantenya berjalan secara perlahan mendekat.


Mereka bersitatap beberapa saat. Senyum kecil mengembang di bibir Aksa. Inilah detik-detik terakhir masa lajangnya. Dia sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga bersama Nada. Menjadi imam dan menuntun kebaikan dalam keluarganya kelak.


Nada duduk di samping Aksa yang sesekali menundukkan pandangannya. Rupanya dia juga sama tegangnya dengan Aksa.


"Sudah siap Aksara?" tanya Pak penghulu.


Dadanya semakin berdebar-debar tapi dia harus bisa memantapkan hatinya.


"Iya, saya siap." Aksa menjabat dengan yakin tangan Pak Teguh.


Dengan membaca basmallah terlebih dahulu Pak Teguh mulai mengucap kalimat ijab.


"Saya nikahkan engkau Aksara Danendra bin Rendra Aryanto dengan putri saya Nada Azalea binti Teguh Wiratno dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 5 gram dibayar tunai." Pak Teguh sedikit menghentakkan jabatan tangannya pertanda Aksa harus segera mengatakan qabulnya.


"Saya terima nikahnya Nada Azalea binti Teguh Wiratno dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 5 gram dibayar tunai." Dengan satu tarikan napas Aksa mengucap kalimat qabulnya dengan lancar.


"Bagaimana saksi sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillahirobbil alamin...." Do'a setelah ijab qabul dikumandangkan. Kedua mempelai yang baru saja mengikat janji suci itu begitu khusyuk mengaminkan doa-doa baik itu.


Setelah selesai, mereka menandatangani beberapa berkas dan buku nikah mereka. Dengan senyum merekah, mereka berdiri dan memamerkan kedua buku nikah itu di depan kamera seperti sepasang pengantin setelah melakukan akad nikah pada umumnya.


Sesekali Aksa mencuri pandang pada pasangan halalnya itu yang disambut dengan senyum malu-malu dari Nada.


Kini sesi tukar cincin, Aksa memakaikan cincin itu di jari manis Nada kemudian Nada juga melakukan hal yang sama. Dan untuk yang pertama kalinya Aksa mendaratkan kecupan hangatnya di kening Nada sebagai simbol mulai detik itu Nada adalah tanggung jawab Aksa sepenuhnya.


Sedetik kemudian, Nada mencium punggung tangan Aksa dengan takzim sebagai tanda ketaatan seorang istri pada suami.

__ADS_1


Semua orang yang menyaksikan mereka ikut tersenyum dan bertepuk tangan kecil.


Mulai sekarang, Aksara dan Nada akan menjadi sebuah lagu cinta yang mengalun indah di sepanjang hari mereka.


...***...


"Sekarang masih jam 10, nanti kita berangkat ke resepsi jam 1 siang. Gak papa dibersihkan dulu make up nya, kan gak terlalu tebal. Nanti biar fresh lagi. Atau biar bisa icip-icip dikit deh sama Aksa di kamar." goda Tante Ira sambil melepas hiasan di kepala Nada.


"Ih, tante..."


Aksa hanya tersenyum mendengarnya. Dia saat itu tengah duduk di tepi ranjang sambil berbalas pesan dengan teman cafenya membahas tentang kesiapan acaranya.


"Kamu ganti baju ya. Kalau gak bisa biar dibantu Aksa. Tante mau ambil perlengkapan dulu di rumah ada yang ketinggalan. Nanti jam 12 tante ke sini lagi." Tante Ira mengambil tasnya. "Udah jangan malu-malu. Icip-icip dulu gak papa." Tante Ira keluar dari kamar Nada sambil tersenyum.


Nada menangkap bayangan Aksa yang masih serius menatap layar ponselnya. Untunglah si perayu ulung itu masih membatu, karena jujur saja kali ini dia merasa malu dan canggung. Perasaan apa ini? Padahal biasanya dia tidak punya rasa malu pada Aksa.


Nada mengambil baju gantinya di lemari. Dengan gerak cepat tangan Aksa menarik tubuh Nada ke belakang hingga dia terjatuh di pangkuannya.


"Aksa, ih, kaget."


"Masih manggil Aksa?" Aksa menempelkan dagunya di pundak Nada.


"Memang mau panggil apa?"


"Kok balik tanya."


"Ya, kan kamu yang manggil. Sayang mungkin, atau honey atau hubby."


Nada hanya tersenyum kecil. "Alay banget sih."


Aksa tersenyum lalu mengendus dalam tengkuk leher Nada. "Terserah kamu. Kalau mau tetap panggil nama gak papa."


Nada memainkan jemari Aksa diperutnya sambil berpikir beberapa saat. "Hmm, Mas Aksa ya..."


"Mas? Oke, gak terlalu buruk. Sini adek manis."


"Ih, kok adek sih. Jangan manggil adek. Gak suka."


"Sayang," ucap Aksa dengan lembut dan dengan penuh perasaan yang mampu membuat hati Nada meleleh tak berbentuk.


Tangan Aksa kini terulur dan menahan pipi Nada saat dia mendekatkan dirinya. Mengikis jarak di antara kedua wajah mereka. Ciuman yang sangat lembut setelah mereka halal itu lagi-lagi membuai Nada.


"Ehem,"

__ADS_1


Suara deheman berhasil membuat sepasang pengantin baru itu melepas ciuman dan dengan kilat khusus Nada berdiri. "Kak Satya gak sopan banget sih masuk gak ketuk pintu."


Aksa sudah salah tingkah. Dia garuk tengkuk lehernya sendiri menatap Kakak iparnya yang berdiri di ambang pintu.


Sedangkan wajah Satya flat. "Aksa, nanti keluarga kamu ke sini dulu atau langsung ke tempat resepsi?"


"Ke sini dulu Kak. Biar kita bisa datang bersamaan."


"Oo, ya sudah." Satya membalikkan badannya tapi urung. "Kalian lanjut aja adegannya tapi jangan lupa tutup pintunya." Setelah itu Satya pergi dari kamar Nada.


"Kayaknya pintunya tadi ketutup deh Na."


Nada tersenyum lalu dia berjalan menuju pintu dan menguncinya. "Kalau gak dikunci emang kadang suka kebuka sendiri."


Aksa tersenyum miring. Dia kini justru berdiri dan langsung memojokkan Nada di tembok.


"Aksa, eh, Mas mau ngapain? Aku mau ganti baju dulu. Gerah."


"Ya udah ganti baju di sini aja sayang aku bantuin. Sekalian icip-icip."


"Icip-icip apaan?"


Aksa kembali mendekatkan dirinya. Mengikis jarak di antara mereka. Semakin lama pagutan itu semakin dalam. Tangan Aksa memberi usapan di sepanjang pinggang Nada seolah sedang mengukur setiap inci lekuk tubuh Nada.


"Aksa." tampak Nada mengambil napas dalam. "Eh, Mas masih belum bisa sekarang."


"Ya udah nanti malam aja. Sekarang foreplay dulu."


"Nanti malam juga gak bisa."


"Kenapa? Capek? Ya udah besok aja. Masih banyak jalan menuju Roma."


"Ih, masih gak bisa. Tunggu tiga hari lagi ya.." Nada melepaskan diri dari kendali Aksa setelah sebelumnya mencium singkat pipi Aksa yang sedang berpikir keras.


Aksa hanya tersenyum menatap Nada yang berlenggang masuk ke dalam kamar mandi. Dia akhirnya mengerti apa yang dimaksud Nada. "Oke, aku tunggu tiga hari lagi sayang..."


💞💞💞


.


.


Akhirnya sah juga.. 🤭🤭

__ADS_1


jangan lupa komen ya karena "Komenmu semangatku." 😁


__ADS_2