
Malam itu Pak Rendra masih setia menanti kedatangan putranya di teras rumahnya.
"Bu, biasanya Aksa pulang jam berapa?" tanya Pak Rendra pada Bu Diana yang baru saja keluar dari rumah.
"Jam 10 biasanya udah pulang. Kalau gak pulang-pulang ya itu berarti Aksa menuruti kata Ayah untuk gak pulang ke rumah." Jujur saja Bu Diana masih kesal dengan ucapan suaminya pada putranya itu. Dia kini menekan ponselnya untuk menghubungi nomor Aksara lewat whatsapp. Hanya memanggil terus dan tidak berdering. "Gak aktif?" Lalu mencoba menghubungi nomor selularnya yang hanya dijawab oleh operator. "Hpnya gak aktif. Pulang nak, ini sudah hampir tengah malam." Bu Diana sangat khawatir sampai dia tidak bisa tidur malam itu.
"Mungkin tidur di cafe. Ayah jemput saja ya ke sana.."
Bu Diana kini menatap tajam suaminya. "Ayah mau berantem juga di cafe orang? Besok saja biar Ibu hubungi ke cafe. Udah, Ayah tidur saja sekarang sudah malam. Lain kali dipikir dulu kalau bicara sama anak." Bu Diana kembali masuk ke dalam rumah.
Pak Rendra masih saja duduk di terasnya. Satu helaan panjang berkali-kali berhembus dari hidungnya.
Menyesal..
Ya, itu yang dia rasakan sekarang. Tidak seharusnya dia sampai mengusir putranya dari rumah.
...***...
Siang itu, Aksara justru bekerja di cafe. Bahkan sejak pagi. Dia tidak ke kampus. Dia ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
"Aksa!" panggil Alvin.
Aksara berjalan mendekati bosnya.
"Ikut ke kantor sebentar."
Aksara mengangguk lalu mengikuti Alvin masuk ke dalam kantor. Mereka duduk berhadapan yang berseberangan dengan meja kantor.
"Kamu semalam menginap di sini?"
__ADS_1
Aksara hanya mengangguk.
"Ada masalah apa? Tumben sampai gak pulang ke rumah?"
Aksara hanya terdiam. Ingin dia menceritakan masalahnya pada bosnya ini tapi dia tidak tahu harus dimulai darimana.
"Aksa, tadi beberapa kali orang tua kamu menelepon ke kantor. Mereka mau kamu pulang," cerita Alvin. Sebelumnya dia memang sudah tiga kali mendapat panggilan masuk dari Ibu Aksa dan juga Ayahnya. Menanyakan keberadaan anaknya dan tak lupa menitip pesan agar Aksara segera pulang.
Aksara menggeleng pelan. "Saya diusir sama Ayah bos."
"Loh, kenapa? Kamu salah?" tanya Alvin. Dia cukup terkejut juga. Setahu dia Aksara ini bukan tipe anak pembangkang, dia juga tidak pernah melakukan hal buruk.
"Saya sudah membohongi Ayah. Saya bilang kalau saya masuk fakultas sastra tapi ternyata saya masuk fakultas musik. Hal yang sangat dilarang oleh Ayah. Saya sendiri tidak tahu dengan jelas kenapa Ayah melarang saya meraih cita-cita untuk menjadi seorang pianis."
Alvin justru tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Dia maklum dengan jiwa muda Aksara yang masih membara. "Ayah kamu itu gak serius usir kamu. Gak ada orang tua yang tega anaknya sampai gak pulang."
"Aku tahu ini pilihan yang sulit buat kamu. Antara harus mempertahankan cita-cita atau berbakti pada orang tua. Tapi lebih baik kamu bicarakan lagi dengan Ayah kamu. Kamu harus tahu, dukungan orang tua itu seperti pondasi. Jadi ibaratkan kamu membangun rumah yang besar dan mewah sekalipun tapi jika tanpa pondasi yang kuat di saat ada angin yang menerjang pasti akan langsung roboh."
Aksara sedikit mengangguk. Bosnya ini memang hebat, tidak hanya sukses di usia muda tapi juga bisa memberi wejangan pada anak buahnya yang sedang kehilangan arah.
"Kamu pulang saja sekarang. Hari ini tidak usah ke cafe lagi. Besok siang saja."
Aksara menganggukkan kepalanya. "Terima kasih bos. Saya permisi dulu."
"Iya."
Setelah itu Aksara keluar dari kantor. Dia sebenarnya masih ragu, antara harus pulang atau tidak. Dia masih belum ada nyali. Dia masih bimbang. Bagaimana jika Ayahnya akan terus melarangnya?
Satu helaan napas untuk memantapkan hatinya. Setelah mengambil jaket dan tasnya, Aksara keluar dari cafe. Dia kini memakai helmnya lalu menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motor Aksara sudah melaju. Kali ini dia pulang meski dengan perasaan gamang.
__ADS_1
Tak lama Aksara sudah sampai di depan gang rumahnya. Dia turun lalu menuntun motornya masuk ke dalam gang. Tidak ada senyuman ramah untuk menyapa para tetangga yang sekedar lewat atau duduk-duduk di teras rumah. Kemarin saat dia bertengkar dengan Ayahnya entah ada yang dengar atau tidak para tetangga itu.
Aksara memasukkan motornya ke dalam teras kecil rumahnya. Senyum merekah langsung mengembang di bibir Ibunya.
"Aksa, akhirnya kamu pulang nak. Ibu sangat khawatir sama kamu."
Aksara berjalan mendekat lalu mencium tangan ibunya. Kemudian dia menatap Ayahnya yang berdiri di samping Ibunya. Mereka saling bertatapan. Kedua orang yang bagai pinang dibelah dua sampai kesukaan dan sifat pun sama itu masih saja terdiam.
"Kalian bicara baik-baik. Ibu gak mau lagi ada bapak yang bertengkar sama anaknya hanya karena hal kayak gini." Setelah itu Bu Diana berlalu.
"Maafin Aksa, Ayah." ucap Aksara. Sebagai anak dia harus bisa menekan egonya. Dia harus ingat berbagai pesan dari orang dekatnya seperti Nada dan bosnya.
"Ayah yang minta maaf sama kamu. Andai saja Ayah tidak terlalu egois, pasti kamu juga tidak akan berbohong." Satu tepukan mendarat di bahu Aksara. Seulas senyum yang sangat menenangkan jiwa mengembang di wajahnya. "Ayah akan ceritakan semua masa lalu Ayah sama kamu." Pak Rendra mengajak putranya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk berdampingan.
Aksara terdiam. Dia memasang telinganya untuk mendengar cerita dari Ayahnya.
"Sebenarnya Ayah dulu punya cita-cita yang sama seperti kamu. Ayah juga ingin jadi pianis hebat. Setiap kali ada kompetisi Ayah selalu ikut."
Aksara teringat lagi dengan sebuah artikel di google yang sempat dia cari tapi dia lupa sampai sekarang tidak dia cari lagi. "Ayah selalu menang?"
Pak Rendra menganggukkan kepalanya. "Sampai suatu saat, Ayah lolos untuk mengikuti kompetisi di grammy award. Tinggal selangkah lagi mimpi itu akan terwujud. Tapi tiba-tiba saja nama Ayah dicoret dari kandidat Indonesia hanya dengan alasan Ayah tidak punya fasilitas sendiri untuk keluar negri. Padahal Ayah sudah mengupayakan untuk membiayai sendiri perjalanan itu. Mereka masih tidak mau menerima alasan apapun. Dan hal yang paling menyakitkan saat Ayah tahu yang menggantikan Ayah adalah anak dari pemilik kampus. Padahal Ayah tahu dia tidak lolos kompetisi akhir. Sangat tidak adil kan? Hanya karena dia punya uang bisa lolos begitu saja. Ditambah lagi yang membuat Ayah sangat kecewa, dia itu sahabat Ayah sendiri. Dia begitu tega mengambil mimpi Ayah."
"Sahabat Ayah?"
Pak Rendra menganggukkan kepalanya. "Kita dulu sama-sama berjuang. Tapi akhirnya dia ambil yang instant karena keluarganya punya uang dan kedudukan. Sejak saat itu, Ayah sudah sangat kecewa dengan pihak kampus. Ayah tidak melanjutkan lagi kuliah di sana karena beasiswa yang tiba-tiba saja juga di cabut. Ayah sempat frustasi sampai tidak punya lagi semangat hidup." Satu helaan panjang kini berhembus dari hidung Pak Rendra. "Bahkan sekarang hidup keluarga kita masih saja susah seperti ini. Ayah juga tidak mengerti, kenapa Ayah masih belum bisa berlapang dada dengan kejadian itu."
"Iya, Aksa sekarang mengerti. Tapi siapa nama sahabat Ayah itu?"
"Teguh Wiratno..."
__ADS_1