
Nada naik ke boncengan Aksara, dia kini merasa sangat canggung. Seolah dialah penyebab pertengkaran hebat antara ayah dan anaknya.
Tanpa berbicara apa-apa lagi, Aksara mulai melajukan motornya. Hatinya masih terasa sangat sesak. Dia butuh seseorang untuk berbagi cerita, mungkin.
"Aksa, maaf ya. Gue gak tahu kalau lo..."
"Lo ikut gue!" Aksara memotong perkataannya.
Nada hanya mampu menggigit bibir bawahnya. Dia tahu hati seseorang yang sedang memboncengnya saat ini sedang kacau tapi kira-kira Aksara mau mengajaknya kemana? Nada jadi menerka-nerka sendiri. Bukan ke suatu tempat yang buruk kan?
Sampai 30 menit berlalu, Aksara tak juga menghentikan laju sepeda motornya. Bukannya Nada tidak tahu itu jalan menuju kemana? Tapi dia khawatir saja, jika tiba-tiba Aksara mengajaknya ke tempat dimana banyak petugas menjajakan villanya.
Gak! Bukan ke arah situ. Ini sih lebih tepatnya ke...
Benar dugaan Nada. Aksara menghentikan motornya di loket pembelian tiket masuk. Dia membeli dua tiket masuk lalu kembali melajukan motornya untuk masuk ke kawasan waduk Selorejo.
Aksara menghentikan motornya di tempat parkir terdekat dengan danau. Setelah turun dari motor, mereka berjalan mendekati danau yang luas itu. Dia kini duduk di bebatuan pinggir danau. Memandang luas hamparan air yang sangat indah. Ada sedikit kelegaan di hatinya saat semilir angin menerpa tubuhnya.
Nada hanya berdiri mematung sambil menikmati keindahan alam yang telah Allah ciptakan untuk dinikmati itu. Hamparan danau yang dikelilingi pegunungan menjulang tinggi. Di sekeliling waduk seluas 650 hektar ini terdapat Gunung Anjasmoro, Kawi, dan Kelud. Pemandangan indah ini semakin menyejukkan mata dengan semilir angin yang berhembus.
Mereka terdiam beberapa saat dengan segala beban di dada yang ikut menguar.
Menyadari Nada tak juga duduk di sebelahnya, Aksara kini menolehnya. "Na, duduk sini," ajak Aksara.
Nada nampak ragu. "Eh, itu dipinggir. Gue takut."
"Ada gue. Gak bakal nyebur juga."
Nada akhirnya berjalan mendekat. Dia duduk di samping Aksara sambil berpegangan tangan Aksara.
"Sorry gue ajak lo ke sini. Pikiran gue lagi kacau." kata Aksara sambil menatap lagi hamparan danau yang luas itu.
"Iya, gue minta maaf ya. Gue gak tahu kalau masalah lo kayak gini. Tahu gitu gue tadi gak jawab pertanyaan Ayah lo."
"Gak papa. Memang harusnya kayak gini. Gue yang salah. Gue yang udah bohong sama Ayah. Ayah memang berhak marah sama gue. Tapi gue gak ngira aja Ayah sampai tega usir gue." Aksara menghela napas panjang di ujung kalimatnya.
"Hmm, kalau boleh tahu kenapa Ayah lo gak setuju lo masuk fakultas musik?"
Aksara menghela napas lagi sambil menundukkan pandangannya sesaat. "Gue juga gak ngerti. Yang jelas ada luka di masa lalu yang sampai sekarang belum sembuh."
"Lo bisa bicara baik-baik sama Ayah lo."
Aksara menggelengkan kepalanya.
"Jadi lo lebih pilih mimpi lo."
__ADS_1
"Iya Na. Gue tahu, itu tandanya gue udah durhaka sama Ayah. Tapi mau gimana? Gue gak mungkin hancurin mimpi gue sendiri." Aksara mengusap wajahnya menghilangkan semua rasa kecewanya.
Nada kini mengusap punggung Aksara berusaha memberi ketenangan. Dia tahu ini pilihan yang berat. "Tapi lo harus tetap pulang ya. Gue yakin Ayah lo tadi gak sungguh-sungguh."
Lagi, Aksara menggelengkan kepalanya.
"Terus lo mau kemana?"
"Gue mau ke cafe."
Nada menatap wajah Aksara yang masih terlihat memerah menahan sesak di dadanya. "Ya udah. Tapi menurut gue, mending lo omongin secara baik-baik sama Ayah lo. Karena lo gak mungkin bisa meraih cita-cita tanpa sebuah restu dari orang tua."
"Iya gue ngerti. Gue masih butuh waktu buat sendiri dulu." Aksara memejamkan matanya lalu dia nampak menghirup napas dalam lalu menghembuskannya. "Na, boleh gue bersandar di bahu lo."
"Ogah! Lo berat!"
"Kepala gue ringan. Beban hidup gue yang berat." tanpa menunggu jawaban dari Nada lagi, Aksara menyandarkan kepalanya di bahu Nada.
"Duh cowok letoy. Harusnya kebalik, cewek yang bersandar di bahu cowoknya."
"Cowok juga ada masa lelahnya, Na. Walaupun dia terlihat kuat sekalipun tapi dalam hatinya masih ada sisi rapuhnya."
Iya, Aksara benar. Dia sendiri saja tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Aksara. Beruntungnya dia dengan hidupnya sekarang.
"Na, lo cinta gak sama gue?" tanya Aksara yang masih saja bersandar di bahu Nada.
"Kayaknya gue udah mulai cinta sama lo."
Nada tak menanggapinya. Dia hanya mencebikkan bibirnya.
"Gue merasa nyaman banget sama lo," lanjut Aksara.
"Eh, lo mabuk ya. Ngomong ngelantur gitu." Walau tak bisa dipungkiri dada Nada kini berdetak lebih kencang kian melonjak tapi dia tetap pada penilaian awalnya. Kalimat Aksara hanyalah gombalan semata dari sang buaya.
"Na, lo tuh kapan sih percaya sama omongan gue." Aksara menegakkan tubuhnya lalu dia kini merengkuh tubuh Nada dengan sebelah tangannya. "Nih, lo aja yang bersandar sekarang. Atau lo mau dengerin detak jantung gue sekarang juga bisa."
Seketika pipi Nada memerah. Dia kini benar-benar bersandar di bahu Aksara. Bahu yang kokoh dengan aroma maskulin benar-benar perpaduan yang menggairahkan.
Bisakah lebih lama terus seperti ini.
Nada memejamkan matanya merasakan kenyamanan yang baru saja dia rasakan untuk pertama kalinya.
"Na, tidur? Kok gak ada suaranya?"
"Nggak. Ada obat penenangnya ya bahu lo ini?"
__ADS_1
Aksara menyunggingkan sebelah bibirnya. "Itu tandanya lo nyaman sama gue." Aksara semakin mengeratkan rengkuhannya. Dia menjadi berandai-andai sendiri. Jika saja kelak Nada benar-benar akan menjadi pasangan hidupnya.
Nada yang biasanya selalu judes jika disentuh Aksara, sekarang dia hanya diam menikmati momen indah ini.
"Na?" panggil Aksara.
"Hem?"
"Kalau seandainya suatu saat nanti gue melamar lo, lo mau gak menerima gue apa adanya."
"Lo mikirnya jauh banget sih."
"Seandainya, Na."
Nada hanya terdiam.
"Gue juga gak tahu gimana masa depan gue nanti. Entah cerah atau suram? Entah jadi pianis hebat atau akan tetap jadi pelayan cafe. Yang jelas gue akan tetap terus berusaha. Setidaknya nanti gue harus bisa bahagiakan anak orang."
Nada kini mendongak menatap Aksara. Perkataannya sulit dia cerna. "Membahagiakan anak orang?"
"Istri gue nanti."
"Siapa?"
"Lo. Kalau mau?"
"Ih, lo tuh jauh banget kalau berkhayal. Sekarang aja kita gak ada hubungan apa-apa."
"Emang lo mau kita ada apa-apa?"
Nada terdiam. Dia juga sulit mengartikan rasa dalam hatinya. Dia tetap mendongak menatap teduhnya netra Aksara.
Bukan Aksara jika tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Aksara semakin mendekatkan wajahnya. Semakin dekat. Dekat lagi. Lagi.
"Sssttt.." Nada menempelkan ujung jarinya di bibir Aksara. "Belum boleh. Belum halal. Dosa."
"Iya, lo benar. Nanti aja nunggu kita halal. Biar kalau kebablasan gak dosa tapi dapat pahala."
Nada hanya bisa tertawa lalu menegakkan kepalanya. Hubungan yang dimulai dengan drama pertengkaran, kini mulai sedikit berujung manis. Walau mereka sama-sama tidak tahu, masalah besar apa lagi yang akan menerjang mereka selanjutnya.
💞💞💞
.
.
__ADS_1
.
Waduh Aksa receh banget. Fix, anak buahnya Alvin ini..