
"Sayang, mulai sekarang kita tidur di bawah aja. Jangan di lantai atas," kata Aksa yang turun dari tangga sambil membawa tumpukan baju milik Nada.
"Iya, Mas." Nada menyusul langkah Aksa masuk ke dalam kamar yang berada di lantai bawah. Dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang karena badannya terasa sangat penat.
Setelah memasukkan baju Nada ke dalam lemari, Aksa segera menyusul Nada ke atas ranjang dan memeluknya dari belakang sambil mengusap lembut perut Nada.
"Sayang, aku dapat tugas tambahan lagi dari sekolah."
"Tugas apalagi Mas? Jangan sampai kecapekan loh. Minggu depan tempat kursus udah mulai aktif. Sudah aku bagi jadwal juga."
"Iya Na, kamu yang jangan sampai kecapekan. Nanti aku suruh Juna juga buat bantu kamu. Biar ada tambahan kerja sampingan buat dia juga. Aku lihat dia itu berbakat di bidang musik."
"Juna siapa Mas?" Nada berusaha mengingay nama Juna. Seperti pernah terdengar tapi lupa dengan wajahnya.
"Juna, itu loh yang gantiin aku di cafe. Udah beberapa kali aku ajarin dia main piano, dia juga udah lancar."
"Iya, Mas. Gak papa. Tapi Mas Aksa belum jawab, tambahan tugas apa dari sekolah?"
"Aku disuruh melatih murid yang mengikuti lomba selama dua minggu ini terus menemani mereka mengikuti lomba di Surabaya."
Seketika Nada membalikkan badannya. "Tapi gak menginap kan?"
"Nggak sayang. Pasti sore juga udah pulang."
"Ya udah gak papa. Soalnya aku gak bisa tidur kalau gak peluk Mas Aksa." Nada menyembunyikan dirinya di dada bidang Aksa. Tempat yang telah menjadi favoritnya setelah menikah.
"Sayang, nengok dedek boleh gak?"
Nada mendongak menatap Aksa tak mengerti.
"Maksudnya?"
Aksa hanya tersenyum. Lalu mengecup singkat bibir Nada. Beberapa saat kemudian membisikkan sebuah do'a yang membuat Nada mengerti maksud Aksa.
"Ih, kirain mau apa Mas?"
Aksa hanya tersenyum lalu kembali menyambar bibir Nada. Mulai memagutnya dengan mesra yang membuat gejolak panas semakin terasa di antara keduanya.
Tangan Aksa mulai bergerak aktif menciptakan sensasi yang membuat Nada melenguh tertahan. Kedua benda sintal yang sekarang tanpa penghalang itu terlihat semakin menantang.
"Baru seminggu gak lihat, sekarang tambah sexy aja." Bibir Aksa telah singgah menelusuri kedua benda yang bulat dan padat itu. Memberi sensasi nyata pada Nada. Semakin lama terasa semakin terbuai hingga suara indah itu lolos dari bibirnya.
"Mas, sekarang aja," pintanya dengan wajah yang telah memerah dipenuhi gelora.
"Are you sure baby? Gak mau bermain dulu?" tanya Aksa yang sudah berada di atas tubuh Nada.
__ADS_1
"Udah pengen Mas."
Ucapan Nada yang secara terang-terangan membuat gairah Aksa semakin terpacu. Baru pertama kali ini dia mendengar Nada memintanya melakukan ini. Tentu, Aksa akan melakukannya dengan senang hati.
Aksa menanggalkan seluruh bajunya. Setelah itu, dia meloloskan kain terakhir yang menutupi bagian bawah Nada. Menyentuhnya sesaat untuk mengecek kadar kelembapannya.
"Emang udah basah." Aksa kembali mengungkung Nada. Dia mulai memposisikan dirinya. "Agresif ya sekarang. Tapi aku suka." Aksa menyapu lembut daun telinga Nada yang membuat Nada melenguh.
Nada mengalungkan tangannya di leher Aksa saat Aksa mulai mengguncang tubuhnya.
Aksa bergerak pelan merasakan setiap gesekan yang dia ciptakan.
"Kalau perut kamu sakit bilang ya. Aku udah baca-baca di trimester pertama gak boleh terlalu sering ngelakuin ini."
"Tapi enak Mas."
Aksa melebarkan senyumnya lalu dia memagut kembali bibir yang berkali-kali mengeluarkan suara de sa han merdu. Dia sendiri dibuat mabuk kepayang dengan sensasi yang diberikan Nada. Terasa hangat dan semakin menggigit.
"Mas, more faster."
Aksa yang memang sengaja memperlambat gerakannya karena takut menyakiti Nada tapi justru Nada memintanya untuk mempercepat gerakannya. Tentu saja hal itu semakin memacu gairah Aksa.
"More faster? Yeah, feel it." Aksa semakin menambah pacuannya yang membuat Nada semakin meracau, bahkan jemarinya kini terasa mencakar punggung Aksa.
Rema san kuat di bawah sana membuat Aksa ingin segera menuntaskan hasratnya.
"I love you, Na." Aksa menenggelamkan dirinya di ceruk leher Nada dengan gerakan yang semakin cepat saat dia akan meraih kenikmatannya. Dengan era ngan cukup keras, Aksa menuntaskan hasratnya.
Beberapa detik kemudian, Aksa melepas penyatuannya lalu menghempaskan dirinya di sebelah Nada. Sama-sama mengatur napas mereka yang tersenggal.
Setelah napas mereka teratur, Aksa kini duduk dan mengambil baju Nada yang berserak.
"Kamu pakai baju dulu sayang. Biar gak dingin." Sebelum Nada hamil, mereka pasti akan tertidur dengan tubuh polos. Tapi kali ini Aksa tidak akan membiarkan Nada merasa kedinginan.
Dia bantu istrinya memakai baju setelah itu dirinya.
"Tidur sayang." Aksa meraih tubuh Nada dan memeluknya.
Nada tak juga tertidur. Dia justru teringat kata-katanya yang sempat terucap tadi. Sesuatu hal yang diluar batas kesadarannya.
"Aku kok tadi bilang gitu ya sama Mas Aksa. Duh malu. Aku tarik deh kata-katanya."
Aksa justru terkekeh sambil mengusap rambut Nada yang berkeringat. "Aku malah suka. Buat aku semakin semangat. Semangat berpacu."
"Ih," Nada sedikit mencubit dada Aksa. "Malu Mas."
__ADS_1
"Ke suami sendiri kenapa malu? Gak papa sayang, kamu ekspresikan semua rasa kamu. Tapi beneran gak papa kan perutnya?"
"Gak papa Mas."
"Ya udah, besok lagi. More faster," goda Aksa lagi lalu mengecup puncak kepala Nada.
"Ih.."
...***...
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Aksa membuka matanya perlahan, istrinya masih tertidur dengan lelap dalam dekapannya. Rasanya tidak tega jika harus membangunkannya, tapi ini suatu kewajiban.
"Sayang, udah subuh. Bangun yuk terus mandi pakai air hangat," ucapnya pelan sambil mengusap lembut pipi Nada.
Nada bergeliat sesaat sambil menguap. "Iya Mas," jawabnya pelan dengan mata yang belum terbuka sempurna.
Aksa duduk terlebih dahulu sambil menyingkap selimut dan turun dari ranjang.
Tiba-tiba saja Nada duduk dan turun dari ranjang. Dengan langkah cepat dia menuju kamar mandi sambil menutup bibirnya.
"Sayang, pelan-pelan kalau jalan. Kamu mual?"
Nada mengeluarkan air dalam perutnya yang bergejolak.
Usapan lembut di punggungnya membuat rasa mual berangsur hilang. Kemudian dia berkumur untuk membersihkan mulutnya.
"Tiap bangun tidur kenapa mual gini ya Mas?"
"Gak papa Na. Kan kata Dokter kemarin hal yang wajar di awal kehamilan. Kamu siang atau sore masih mual gak?"
"Nggak sih, Mas."
"Ya udah, aku buatkan susu hangat dulu ya." Aksa menuntun Nada agar duduk di sisi ranjang terlebih dahulu, setelah itu Aksa keluar dari kamar. Beberapa menit kemudian dia sudah datang membawa segelas susu rasa strawberry.
"Kamu minum dulu, biar perutnya gak kosong."
Nada meraih gelas itu lalu segera meminumnya sampai habis.
"Mau roti juga? Aku ambilkan ya?"
Nada menggelengkan kepalanya. "Nanti aja Mas setelah sholat."
Aksa tersenyum lalu mengambil gelas yang telah kosong itu dan dia letakkan di atas nakas. Lalu dia berlutut di hadapan Nada hingga wajahnya bisa mengendus perut Nada yang masih datar. "Sayang, sehat-sehat terus ya. Papa selalu mendoakan kamu dan Mama."
Nada tersenyum menatap Aksa yang terus menciumi perutnya. Kebahagiaannya benar-benar terasa sempurna dan semoga akan tetap seperti ini selamanya...
__ADS_1